Kanal24, Malang – Memiliki panorama alam yang indah dan kekayaan budaya tidak selalu membuat sebuah desa wisata mampu menarik wisatawan. Di tengah persaingan destinasi yang semakin ketat, banyak desa justru menghadapi tantangan pada aspek promosi, pengemasan cerita, hingga dokumentasi budaya yang menjadi identitasnya. Tanpa strategi komunikasi yang tepat, potensi lokal berisiko sulit dikenal publik.
Berangkat dari tantangan tersebut, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya menerjunkan 131 mahasiswa melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Desa 2026 untuk mendampingi proses rebranding desa wisata di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Selama satu bulan, mahasiswa akan membantu desa membangun identitas dan memperkuat promosi berbasis budaya, komunikasi, dokumentasi, serta media digital.
Baca juga : Program BIPA KNB FIB UB Cetak Talenta Global
Sebanyak 131 mahasiswa dari sembilan program studi sarjana dibagi ke dalam 21 kelompok yang ditempatkan di sembilan desa, yakni Ngajum, Palaan, Ngasem, Banjarsari, Kranggan, Kesamben, Babadan, Balesari, dan Maguan. Program berlangsung mulai 6 Juli hingga 6 Agustus 2026 sebagai bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Pelaksana PKM Desa FIB UB, A. Syarifuddin Rohman, menjelaskan bahwa mahasiswa tidak sekadar hadir menjalankan program pengabdian, tetapi menjadi mitra masyarakat dalam menggali sekaligus memperkenalkan potensi lokal desa.
“Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta pengabdian, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menggali, mendokumentasikan, dan memperkenalkan potensi lokal desa. Kegiatan yang akan dilakukan meliputi pembuatan video profil desa, penyusunan katalog budaya takbenda, serta penguatan promosi desa wisata,” jelasnya.
Menurutnya, video profil desa akan menjadi media komunikasi visual yang memperkenalkan potensi alam, budaya, ekonomi kreatif, hingga kehidupan sosial masyarakat kepada khalayak yang lebih luas. Sementara katalog budaya takbenda disusun sebagai dokumentasi berbagai tradisi, kesenian, cerita lokal, praktik budaya, dan pengetahuan masyarakat yang selama ini diwariskan secara turun-temurun.
Lebih dari itu, dokumentasi tersebut juga akan menjadi basis data akademik yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, pengabdian lanjutan, maupun pengembangan kerja sama antara kampus dan desa.
“Selain bermanfaat bagi desa, dokumentasi tersebut juga akan menjadi sumber data penting bagi FIB UB. Ke depan, dosen dan mahasiswa dapat memanfaatkan data potensi desa sebagai dasar penelitian, pengabdian lanjutan, maupun pengembangan kerja sama akademik yang lebih berkelanjutan,” tuturnya.
Belajar dari Desa, Bukan Sekadar Mengajar
Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., mengingatkan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas sosial di lapangan.
Ia menekankan agar mahasiswa hadir dengan sikap rendah hati, siap mendengar, memahami kebutuhan masyarakat, serta bekerja bersama warga, bukan merasa paling mengetahui solusi.

“Jangan sampai hadir di desa justru menjadi masalah. Datanglah untuk belajar, membantu, dan membuat perubahan yang baik,” pesannya kepada mahasiswa.
Menurut Sahiruddin, keberhasilan PKM tidak hanya diukur dari banyaknya program yang terlaksana, melainkan dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat serta kemampuan mahasiswa membangun hubungan yang baik selama berada di desa.
Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Mengangkat Identitas Desa
Keunikan PKM Desa FIB UB tahun ini terletak pada kolaborasi lintas program studi. Mahasiswa dari bidang bahasa, sastra, pendidikan, seni, antropologi, hingga linguistik bekerja dalam satu tim agar mampu menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif.
Mahasiswa bidang bahasa dan komunikasi akan memperkuat narasi promosi desa, mahasiswa seni bertanggung jawab pada dokumentasi dan visual kreatif, mahasiswa antropologi membantu memahami konteks sosial budaya masyarakat, sementara mahasiswa pendidikan terlibat dalam kegiatan literasi dan pendampingan masyarakat. Pendekatan humaniora tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat promosi desa wisata, tetapi juga menjaga identitas, nilai, dan cerita lokal yang menjadi kekuatan utama setiap desa.
Selama satu bulan pengabdian, mahasiswa juga didorong untuk responsif terhadap kebutuhan masyarakat di luar program utama, mulai dari kegiatan literasi, pendampingan anak-anak, dokumentasi kegiatan desa, hingga dukungan terhadap berbagai aktivitas masyarakat sesuai kondisi di lapangan.
Bagi FIB UB, PKM Desa menjadi bukti bahwa ilmu humaniora tidak berhenti di ruang kelas. Melalui kolaborasi dengan masyarakat, mahasiswa diharapkan tidak hanya menghasilkan laporan kegiatan, tetapi juga membawa pulang pengalaman, kepekaan sosial, dan pemahaman baru mengenai arti ilmu yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. (din)













