Kanal24, Malang – Ketergantungan Indonesia terhadap benih melon impor masih menjadi tantangan bagi sektor hortikultura nasional. Berangkat dari persoalan itu, penelitian selama empat tahun di Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB) berhasil melahirkan calon varietas melon hitam melalui teknologi mutasi sinar gamma. Temuan ini dinilai berpotensi menghadirkan varietas melon premium lokal yang mampu bersaing di pasar internasional sekaligus meningkatkan daya saing petani Indonesia.
Inovasi tersebut dipresentasikan dalam sidang promosi doktor bertajuk “Pemulihan Tanaman Melon dengan Metode Mutasi Sinar Gamma untuk Memperbaiki Kualitas Buah” di Auditorium 1 Lantai 3 Departemen Ilmu Pertanian Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan UB, Senin (6/7/2026). Penelitian dilakukan oleh Astrid Ika Paramitha, S.P., M.P.

Berawal dari Ketergantungan Benih Impor
Astrid mengungkapkan, penelitian ini lahir dari tingginya permintaan global terhadap buah melon yang belum mampu diimbangi dengan daya saing produk nasional. Dalam disertasinya, ia mencatat produksi melon Indonesia sepanjang 2016–2020 hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan domestik, sementara kekurangannya masih dipenuhi melalui benih hibrida impor dari Jepang, Korea, dan Taiwan.
Selain itu, preferensi konsumen terhadap melon kini semakin tinggi, mulai dari cita rasa, tingkat kemanisan, tekstur daging buah hingga tampilan visual. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi pemuliaan tanaman agar Indonesia mampu menghasilkan varietas unggul sendiri.
“Yang melatarbelakangi penelitian ini pertama karena ada permintaan global terkait buah melon. Kemudian kualitas buah melon ini masih belum berdaya saing secara nasional maupun internasional, sehingga saya ingin membuat inovasi melalui perakitan buah melon secara mutasi untuk memperbaiki kualitas buah sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun pasar internasional,” ujar Astrid.
Penelitian tersebut berlangsung selama kurang lebih empat tahun. Selanjutnya, hasil riset akan terus dikembangkan bersama pemerintah agar dapat memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian nasional.
“Insyaallah inovasi ini akan dikembangkan lebih lanjut dengan bantuan pemerintah setempat agar bisa meningkatkan pendapatan petani Indonesia dan menghasilkan buah yang mampu bersaing secara internasional,” tambahnya.
Mutasi Sinar Gamma Percepat Lahirnya Varietas Baru
Dalam penelitiannya, Astrid menggunakan metode mutasi sinar gamma di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN menggunakan iradiator Gamma Chamber 220 dengan sumber Cobalt-60.
Sebanyak lima genotipe melon lokal diberi enam tingkat dosis radiasi, kemudian diamati hingga generasi M2 untuk melihat munculnya karakter-karakter baru yang berpotensi menjadi varietas unggul.
Berbagai karakter buah dianalisis secara menyeluruh, mulai dari bentuk buah, warna kulit, warna daging buah, ukuran, bobot, ketebalan daging, hingga tingkat kemanisan.
Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat proses pemuliaan tanaman dibandingkan metode konvensional yang umumnya membutuhkan waktu lebih lama.
Melon Hitam Jadi Temuan Paling Menarik
Salah satu hasil paling menonjol dari penelitian tersebut adalah munculnya calon varietas melon berkulit hitam, karakter yang tidak ditemukan pada populasi kontrol.
Fenotipe unik tersebut muncul pada generasi M2, tepatnya pada genotipe CMA dosis 25 Gray dan DKN dosis 150 Gray. Selain melon hitam, penelitian juga menemukan perubahan warna daging buah dari putih menjadi oranye pada salah satu genotipe, serta munculnya buah berwarna hijau muda pada genotipe lainnya.
Promotor penelitian, Prof. Ir. Arifin Noor Sugiharto, M.Sc., Ph.D., mengatakan metode mutasi memberikan peluang lebih cepat dalam memperoleh varietas unggul dengan karakter baru.

“Penelitian ini merupakan penelitian mutasi yang diharapkan bisa menghasilkan varietas baru lebih cepat. Ada beberapa hasil yang sangat prospektif, salah satunya melon yang warnanya gelap. Saat ini masih generasi F3 sehingga kestabilannya masih harus diuji, tetapi dari sisi keunikannya sangat menjanjikan,” jelasnya.
Menurut Arifin, apabila karakter tersebut tetap stabil pada generasi berikutnya, masyarakat nantinya akan memiliki lebih banyak pilihan varietas melon, baik dari sisi warna, rasa, maupun karakter buah lainnya.
Berpotensi Kurangi Impor Benih dan Tingkatkan Daya Saing Petani
Tak hanya menghasilkan karakter baru, penelitian Astrid juga berhasil mengidentifikasi empat galur harapan yang berpotensi dikembangkan menjadi varietas unggul. Salah satunya bahkan memiliki tingkat kemanisan mencapai 15 derajat Brix, salah satu indikator penting kualitas buah premium.
Temuan tersebut dinilai menjadi langkah awal dalam memperkaya varietas hortikultura Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap benih impor.
Salah seorang penguji sidang menilai penelitian seperti ini penting untuk terus dikembangkan karena dapat memperkuat diversifikasi pangan nasional.
“Riset-riset semacam ini perlu terus didorong agar pengkayaan varietas tanaman semakin banyak. Ini menjadi langkah awal yang penting untuk mendukung diversifikasi pangan kita ke depan,” ujarnya.
Apabila seluruh karakter unggulnya terbukti stabil pada generasi berikutnya, calon varietas melon hitam hasil riset UB ini berpeluang menjadi inovasi baru di sektor hortikultura nasional. Tidak hanya menghadirkan buah dengan tampilan yang unik, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya varietas melon premium lokal yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan bersaing di pasar global. (ern/nid)














