Kanal24, Malang – Larangan penggunaan antibiotik pemacu pertumbuhan (AGP) dalam pakan ternak memaksa industri peternakan mencari alternatif baru yang aman sekaligus tetap mampu menjaga produktivitas. Menjawab tantangan tersebut, penelitian doktoral di Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya menemukan potensi hidrolisat protein jangkrik sebagai imunonutrien yang mampu menekan bakteri patogen, meningkatkan performa burung puyuh, hingga menghasilkan telur rendah kolesterol.
Inovasi tersebut menjadi fokus penelitian Anna Lidiyawati dalam Ujian Akhir Disertasi Program Doktor yang digelar di Auditorium Lantai 5 Gedung 6 Pascasarjana Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya, Senin (22/06/2026). Melalui disertasi berjudul “Pemanfaatan Ekstrak dan Hidrolisat Protein Jangkrik (Gryllus sp) sebagai Imunonutrien terhadap Performa Burung Puyuh”, Anna menawarkan alternatif pengganti antibiotik melalui pemanfaatan hidrolisat protein jangkrik.
Baca Juga:
Ayam Pelung Tak Boleh Tinggal Cerita, FAST UB dan HIPPAPI Perkuat Masa Depan Plasma Nutfah Lokal
Menjawab Tantangan Pasca Larangan Antibiotik
Anna menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari kondisi industri peternakan puyuh yang menghadapi berbagai tantangan setelah pelarangan penggunaan AGP. Meski kebijakan tersebut penting untuk menekan residu antibiotik dan resistensi bakteri, dampaknya turut dirasakan dalam aspek produktivitas ternak.
Temuan ini menjadi penting karena isu resistensi antibiotik telah menjadi perhatian global. Penggunaan bahan alami sebagai pengganti AGP dinilai dapat membantu peternakan menghasilkan produk yang lebih aman sekaligus mendukung sistem produksi yang berkelanjutan.
“Terjadi penurunan produktivitas seperti efisiensi yang kurang optimal, meningkatnya angka kematian, dan meningkatnya permasalahan kesehatan pada ternak. Karena itu diperlukan alternatif yang aman, efektif, dan bebas residu,” jelas Anna.

Sebagai solusi, ia mengembangkan peptida antimikroba yang berasal dari protein jangkrik. Jangkrik dipilih karena memiliki kandungan protein yang tinggi, mencapai 71,16 persen. Melalui proses hidrolisis enzimatis, protein tersebut dipecah menjadi peptida yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri patogen.
Menurutnya, peptida antimikroba tersebut tidak hanya berperan sebagai penghambat bakteri berbahaya, tetapi juga mampu mendukung keseimbangan mikrobiota usus. Kondisi pencernaan yang lebih sehat pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap peningkatan performa dan produktivitas burung puyuh.
Hasil Penelitian: Telur Lebih Sehat dan Rendah Kolesterol
Co Promotor I, Prof. Dr.Sc.Agr. Ir. Suyadi, M.S., IPU., ASEAN Eng., menilai penelitian tersebut memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan sebagai bahan imunonutrien sekaligus feed additive bagi ternak.

“Ini bisa kita jadikan sebagai alternatif yang dapat meningkatkan produktivitas dan juga meningkatkan mutu produknya,” ujar Prof. Suyadi.
Ia menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan hidrolisat protein jangkrik mampu menekan beberapa bakteri patogen di saluran pencernaan. Tidak hanya itu, penelitian juga menemukan adanya peningkatan kualitas telur yang dihasilkan.
“Dengan penggunaan hidrolisat protein jangkrik ini ternyata dapat membunuh beberapa bakteri patogen dalam saluran pencernaan. Serta yang lebih hebat lagi adalah dapat meningkatkan kualitas telur, yaitu menghasilkan telur rendah kolesterol,” ungkapnya.
Selain menghasilkan telur dengan kadar kolesterol yang lebih rendah, penggunaan hidrolisat protein jangkrik juga dilaporkan mampu meningkatkan kandungan omega pada telur. Kandungan tersebut menjadi nilai tambah karena banyak dicari masyarakat sebagai antioksidan serta pendukung kesehatan tubuh.
Berpotensi Menjadi Produk Industri dan Pemberdayaan Masyarakat
Dalam penelitian ini, Anna juga memanfaatkan pendekatan metagenomik untuk mempelajari perubahan mikrobiota usus secara lebih mendalam. Metode tersebut dinilai mampu meningkatkan ketepatan dalam menentukan dosis atau kadar hidrolisat protein jangkrik yang paling efektif digunakan sebagai aditif pakan.
Prof. Suyadi menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan penelitian karena memberikan dasar ilmiah yang lebih presisi dalam pengembangan produk ke depan.
Lebih lanjut, ia melihat peluang besar untuk mengembangkan hidrolisat protein jangkrik menjadi produk komersial yang dapat dimanfaatkan industri peternakan. Selain memberikan manfaat bagi sektor peternakan, pengembangan produk ini juga berpotensi menciptakan rantai ekonomi baru melalui pemberdayaan masyarakat yang membudidayakan jangkrik.
“Apabila terus dikembangkan, maka ini merupakan produk yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai produk aditif sekaligus menyertakan pemberdayaan masyarakat yang memproduksi jangkrik,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan formula terbaik sebelum produk dapat masuk ke tahap industrialisasi. Kepastian dosis, metode produksi yang efisien, serta teknik pemberian yang tepat menjadi aspek penting yang harus disempurnakan.
Sementara itu, Anna mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar selama penelitian adalah proses percobaan yang harus dilakukan berulang kali. Tingkat ketelitian yang tinggi diperlukan terutama dalam proses pencampuran enzim untuk menghasilkan hidrolisat protein yang optimal.
Ke depan, ia berharap hidrolisat protein jangkrik dapat berkembang sebagaimana hidrolisat protein yeast yang telah lebih dulu dikenal luas oleh peternak.
“Harapan saya ke depan, hidrolisat protein jangkrik ini dapat berkembang seperti hidrolisat protein yeast sehingga lebih dikenal oleh peternak secara luas sebagai alternatif pengganti antibiotik untuk meningkatkan produktivitas ternak,” pungkasnya. (wan)














