Kanal24, Malang – Persaingan cabang lomba penyanyi dangdut pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Jawa Timur 2026 berlangsung sengit. Kualitas vokal peserta yang semakin merata membuat dewan juri harus bekerja lebih cermat untuk menentukan siapa yang berhak melaju ke ajang nasional.
Cabang lomba ini mempertemukan mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. Mereka tidak hanya dituntut memiliki kemampuan vokal yang kuat, tetapi juga mampu menampilkan ekspresi, penghayatan, serta karakter panggung yang menjadi bagian penting dalam penilaian.
Baca juga:
Bukan Sekadar Lomba!, PEKSIMIDA Jatim Jadi Panggung Ekspresi Mahasiswa

Penilaian Tidak Hanya Bertumpu pada Vokal
Salah satu dewan juri, Aldilla Reyndha Masadhe, S.I.Kom., M.AP., menjelaskan bahwa proses penilaian mengacu pada pedoman resmi yang telah ditetapkan panitia provinsi.
“Penilaiannya meliputi materi vokal, teknik, ekspresi, penghayatan, dan terakhir penampilan, seperti kostum maupun koreografi,” ujarnya.
Menurut Aldilla, kualitas peserta tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada hari pertama, sebanyak 17 peserta putra mengikuti perlombaan, sedangkan kategori putri akan diikuti 23 peserta pada hari berikutnya.
Hingga peserta ke-13 yang tampil, persaingan dinilai berlangsung sangat kompetitif. Mayoritas peserta telah memiliki kemampuan vokal yang mumpuni serta penguasaan teknik dangdut yang matang, sehingga membuat proses penjurian menjadi semakin menantang.
“Rata-rata peserta sudah memiliki bekal vokal yang baik untuk kategori dangdut, teknik yang matang, sehingga dewan juri tidak mudah menentukan siapa yang terbaik pada PEKSIMIDA tahun ini,” katanya.
Ia menambahkan, setiap peserta memiliki karakter musikal yang berbeda. Mulai dari warna vokal, gaya interpretasi lagu, hingga hasil latihan yang telah dilakukan selama berbulan-bulan menjadi nilai tersendiri dalam menentukan pemenang.

Mental Jadi Tantangan Terbesar Peserta
Salah satu peserta, Fiko Ade Fransisco, mengaku merasakan campuran antara gugup dan bahagia setelah menyelesaikan penampilannya di atas panggung.
Baginya, kesempatan tampil di PEKSIMIDA menjadi pencapaian yang membanggakan setelah melalui proses persiapan yang panjang.
“Perasaan saya tentunya gugup, tetapi juga sangat senang karena sudah bisa sampai di titik ini. Menurut saya, perjalanan menuju kompetisi ini cukup menantang, jadi saya merasa sangat bahagia,” ungkapnya.
Fiko mengatakan persiapannya tidak hanya berfokus pada latihan vokal. Ia juga rutin mempelajari lagu yang akan dibawakan, melatih improvisasi, memperdalam penghayatan, serta membangun kesiapan mental sebelum tampil.
Menurutnya, mental yang kuat menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan penampilan di atas panggung.
“Persiapan mental sangat penting. Meskipun suara bagus dan cengkok sudah baik, kalau mental belum siap hasilnya tidak akan maksimal,” ujarnya.
Meski telah menjalani berbagai latihan, Fiko mengaku tantangan terbesar justru berasal dari dirinya sendiri.
“Tantangan terbesar adalah rasa takut terhadap diri sendiri. Saya sempat tidak percaya bisa sampai di titik ini, sehingga muncul keraguan terhadap kemampuan diri sendiri,” katanya.

PEKSIMIDA Jadi Ajang Pembuktian Talenta
Bagi Fiko, PEKSIMIDA bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah untuk mengembangkan diri sebagai seorang seniman sekaligus menyalurkan bakat yang selama ini ia tekuni.
“Saya merupakan seorang seniman, sehingga bisa mengikuti PEKSIMIDA merupakan kebanggaan tersendiri. Ajang ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menyalurkan hobi dan bakat, karena memang saya seorang penyanyi,” tuturnya.
Apabila berhasil lolos ke tingkat nasional, Fiko bertekad meningkatkan kualitas persiapannya melalui latihan yang lebih intensif, memperdalam materi lagu, serta memperkuat kesiapan mental agar mampu bersaing dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, Aldilla berpesan agar mahasiswa yang ingin mengikuti PEKSIMIDA pada edisi berikutnya mulai mempersiapkan diri sejak dini. Mengingat ajang ini hanya digelar setiap dua tahun sekali, waktu yang panjang sebaiknya dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan sesuai bidang seni yang diminati.
“PEKSIMIDA diselenggarakan dua tahun sekali. Jadi, persiapkan diri sejak jauh-jauh hari sesuai dengan bidang atau passion masing-masing. Jika ingin mengikuti kategori dangdut, tentu harus mulai mempersiapkannya sejak tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya. (ffn)













