Kanal24, Malang – Balok-balok LEGO yang selama ini identik sebagai permainan edukatif dimanfaatkan dengan cara berbeda di Gedung Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi (DKIST) Universitas Brawijaya, Senin (3/8/2026). Melalui workshop LEGO Education: LEGO Serious Play (LSP), peserta diajak menyusun model LEGO untuk memetakan ide, pengalaman, hingga menemukan solusi atas berbagai persoalan riset.
Workshop yang digelar DKIST UB itu menghadirkan Dr. Desi Dwi Prianti, M.Comn., Certified Facilitator LEGO Serious Play dari Pusat Studi Budaya dan Laman Batas (Center for Culture & Frontier Studies/CCFS). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Universitas Brawijaya membangun budaya riset yang lebih kreatif, kolaboratif, dan inovatif melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman.
Baca Juga:
Hari Anak Nasional di RSSA Semarak, SAHABAT Resmi Diluncurkan
Sepanjang sesi berlangsung, peserta diminta menyusun model LEGO sesuai instruksi fasilitator. Setiap model kemudian dipresentasikan untuk menjelaskan gagasan, pengalaman, maupun cara pandang peserta terhadap persoalan yang sedang dibahas. Dari model-model sederhana tersebut, diskusi berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mencari solusi secara bersama.
LEGO Jadi Jembatan Mengungkap Ide Penelitian
Dr. Desi menjelaskan, tujuan utama LEGO Serious Play bukan sekadar mengajak peserta bermain LEGO, melainkan membantu peserta mengungkapkan pengetahuan dan pengalaman yang selama ini belum tersampaikan.

“Tujuan utamanya adalah memastikan orang dapat mengungkapkan pengalaman dan pengetahuan yang sebenarnya sudah dimiliki, tetapi belum muncul karena belum mendapat stimulasi yang tepat. LEGO menjadi media yang membantu proses tersebut,” ujarnya.
Dalam setiap sesi, peserta tidak diminta menjawab pertanyaan secara lisan. Sebaliknya, mereka terlebih dahulu membangun sebuah model LEGO yang kemudian dijelaskan makna di balik setiap bentuk, warna, maupun susunannya. Cara tersebut membantu peserta menuangkan ide yang sebelumnya sulit diungkapkan melalui diskusi biasa.
Metafora Jadi Kunci Munculkan Ide Baru
Salah satu kekuatan metode LEGO Serious Play terletak pada penggunaan metafora. Setiap model menjadi representasi dari pemikiran peserta sehingga tidak ada jawaban yang dianggap benar ataupun salah.

Menurut Desi, pendekatan ini membuat peserta lebih nyaman menyampaikan pendapat. Perhatian tidak lagi tertuju pada individu yang berbicara, melainkan pada model yang dibangun sehingga suasana diskusi menjadi lebih terbuka.
“Dalam LSP kami berbicara menggunakan metafora. Setiap desain merupakan milik peserta sehingga tidak ada batasan untuk berimajinasi dan berinovasi,” katanya.
Ia menambahkan, tugas sederhana seperti membuat sebuah menara dapat menghasilkan bentuk yang berbeda pada setiap peserta. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pengalaman, sudut pandang, dan cara berpikir yang berbeda dalam melihat suatu persoalan. Dari proses itulah berbagai ide baru dapat muncul dan berkembang menjadi bahan diskusi maupun solusi penelitian.
Berpeluang Dikembangkan untuk Perkuat Inovasi UB
Selain mendukung proses penelitian, LEGO Serious Play juga memiliki peluang dikembangkan sebagai layanan pelatihan di Universitas Brawijaya.
Desi mengatakan, UB telah merancang berbagai pelatihan berbasis LEGO Serious Play yang dapat ditawarkan kepada berbagai institusi sebagai bagian dari revenue generating income. Namun, pelaksanaannya masih menyesuaikan ketersediaan fasilitator karena saat ini Universitas Brawijaya baru memiliki 12 certified facilitator.
Ia menambahkan, metode LEGO Serious Play sebelumnya banyak digunakan di sektor bisnis untuk pelatihan kepemimpinan dan manajemen sebelum berkembang ke dunia pendidikan maupun penelitian. Potensi tersebut dinilai dapat mendukung pengembangan inovasi di lingkungan perguruan tinggi.
Ke depan, Desi berharap semakin banyak dosen dan peneliti memanfaatkan pendekatan LEGO Serious Play untuk menggali ide-ide yang selama ini belum muncul. Melalui metode tersebut, peserta diharapkan mampu menghasilkan luaran yang lebih konkret, mulai dari proposal penelitian yang lebih matang hingga inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (gal)













