Kanal24, Malang – Masuk ke ruang digital belum otomatis membuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkembang. Di tengah persaingan yang semakin ketat, pelaku usaha tidak hanya membutuhkan kemampuan memasarkan produk melalui media sosial, tetapi juga akses pasar yang mampu menghasilkan transaksi dan membuka peluang pertumbuhan usaha.
Upaya memperluas akses tersebut dilakukan pemerintah melalui program 1001 Pasar Rakyat dan Workshop Optimalisasi Media Sosial untuk Perluasan Pasar di Kabupaten Bogor, Sabtu (19/9/2026). Sebanyak 55 pelaku UMKM terkurasi mengikuti bazar, sementara 100 pelaku usaha mendapat penguatan kapasitas melalui workshop.
Baca juga:
Dua Mobil APATTE62 Brawijaya Siap Berlaga di KMHE 2026
Bazar Jadi Pintu Akses Pasar
Program 1001 Pasar Rakyat tidak hanya diarahkan sebagai ruang promosi produk lokal. Pemerintah mendorong agar kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pemberdayaan yang menghubungkan pelatihan, pendampingan, produksi, hingga pemasaran.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar mengatakan ruang yang dimiliki media dapat dimanfaatkan sebagai tempat mempertemukan produk masyarakat dengan pasar.
Menurut Muhaimin, bazar seharusnya tidak berhenti pada keramaian acara. Setelah pelaku usaha mendapatkan pelatihan dan pendampingan, produk yang dihasilkan perlu memiliki akses kepada konsumen.
Pendekatan tersebut membuat akses pasar menjadi bagian penting dalam pemberdayaan UMKM. Sebab, kemampuan memproduksi barang belum cukup jika pelaku usaha masih kesulitan menemukan pembeli.
Di Kabupaten Bogor, program tersebut sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen secara langsung. Produk yang ditampilkan berasal dari berbagai sektor, termasuk kuliner dan kerajinan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kolaborasi Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat bersama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI). Pemerintah daerah sebelumnya menempatkan pengembangan UMKM, perluasan akses pasar, dan pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian dari agenda kegiatan tersebut.
Pola tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak berdiri sendiri. Pelaku UMKM tetap membutuhkan ruang untuk menguji produk, mengenali konsumen, menerima masukan, sekaligus membangun jaringan pemasaran.
Go Digital Harus Berujung Transaksi
Perubahan perilaku konsumen membuat media sosial dan platform digital semakin penting bagi UMKM. Konsumen dapat menemukan produk, membandingkan harga, melihat ulasan, hingga melakukan transaksi tanpa datang langsung ke lokasi usaha.
Namun, semakin luas ruang digital, semakin besar pula persaingan yang harus dihadapi.
Satu produk dapat berhadapan dengan banyak produk sejenis dalam waktu bersamaan. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha perlu memahami cara membangun identitas produk, membuat konten, menjaga komunikasi dengan pelanggan, serta mempertahankan kualitas layanan.
Karena itu, workshop optimalisasi media sosial menjadi bagian dari program 1001 Pasar Rakyat. Pelaku usaha tidak hanya diarahkan untuk hadir di platform digital, tetapi juga memahami bagaimana media sosial dapat digunakan sebagai saluran pemasaran.
Bagi UMKM, kemampuan tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan pemasaran setelah kegiatan bazar berakhir.
Jika bazar memberikan ruang pertemuan secara langsung, media sosial memungkinkan promosi dilakukan tanpa batas waktu dan lokasi. Produk yang diperkenalkan dalam satu kegiatan dapat terus ditawarkan kepada calon konsumen melalui kanal digital.
Digitalisasi juga membuka peluang bagi usaha lokal untuk menjangkau konsumen di luar wilayah produksinya. Namun, perluasan pasar membawa tuntutan baru terhadap kualitas produk, kemasan, harga, pelayanan, dan kemampuan memenuhi pesanan.
Artinya, go digital bukan tujuan akhir.
Kehadiran di internet baru menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut ditemukan, dipercaya, kemudian dibeli oleh konsumen.
Pola pendampingan seperti ini juga terlihat dalam sejumlah program digitalisasi UMKM di daerah. Pemanfaatan QRIS, Google Maps, dan identitas usaha digital, misalnya, diarahkan untuk membantu pelaku usaha memperluas jangkauan promosi sekaligus memudahkan konsumen menemukan dan melakukan transaksi.
Teknologi Buka Peluang Lebih Luas
Perkembangan teknologi turut membuka peluang baru bagi UMKM melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
AI dapat digunakan untuk membantu sejumlah kebutuhan pemasaran, seperti mencari ide konten, melakukan riset pasar, menyusun materi promosi, hingga memahami karakter calon konsumen.
Namun, teknologi tetap menjadi alat. Kemampuan tersebut tidak menggantikan kualitas produk maupun pemahaman pelaku usaha terhadap pasar.
Produk yang dipasarkan secara digital tetap harus memiliki kualitas, harga yang sesuai, pelayanan yang baik, serta pembeda yang jelas dibandingkan produk lain.
Di sinilah tantangan digitalisasi UMKM menjadi lebih kompleks. Pelaku usaha tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu menghubungkan teknologi tersebut dengan kebutuhan bisnis.
Pelatihan menjadi salah satu pintu masuk. Pendampingan menjadi tahap berikutnya. Sementara akses pasar menjadi bagian yang menentukan apakah kemampuan tersebut menghasilkan dampak ekonomi.
Besarnya jumlah UMKM di Indonesia membuat persoalan tersebut semakin penting. Ketika jutaan pelaku usaha bergerak di berbagai sektor, persaingan untuk mendapatkan konsumen juga semakin terbuka.
Karena itu, keberhasilan digitalisasi tidak cukup diukur dari berapa banyak UMKM yang telah memiliki akun media sosial atau masuk ke marketplace. Ukuran yang lebih konkret adalah sejauh mana teknologi membantu usaha mendapatkan pelanggan, meningkatkan penjualan, memperluas pasar, dan mempertahankan keberlangsungan bisnis.
Program 1001 Pasar Rakyat mencoba menghubungkan sejumlah kebutuhan tersebut dalam satu rangkaian. Pelaku UMKM mendapatkan ruang promosi melalui bazar sekaligus penguatan kapasitas melalui pelatihan media sosial.
Model tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem UMKM, selama pendampingan dan akses pasar terus berjalan setelah kegiatan selesai.
Pada akhirnya, tantangan UMKM di era digital bukan lagi sekadar bagaimana masuk ke internet. Tantangannya adalah bagaimana produk lokal mampu ditemukan di tengah persaingan, dipercaya konsumen, menghasilkan transaksi, dan memiliki ruang untuk berkembang.
Di titik itulah digitalisasi tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi alat untuk memperluas pasar UMKM. (ern)













