Kanal24, Malang – Lima profesor Universitas Brawijaya (UB) bersiap memasuki prosesi pengukuhan dengan membawa gagasan akademik dari bidang keilmuan yang berbeda. Menjelang agenda tersebut, UB menggelar Konferensi Pers Pengukuhan Profesor di Ruang VIP Gedung Samanta Krida UB, Senin (21/9/2026).
Konferensi pers menjadi ruang bagi kelima profesor untuk memperkenalkan latar belakang keilmuan sekaligus gagasan yang akan mereka bawa dalam rangkaian pengukuhan. Mulai dari inovasi pertanian berkelanjutan, teknologi pelapisan material, psikologi, simulasi dinamika molekul, hingga literasi visual dekolonial, masing-masing memiliki fokus riset yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat.
Baca Juga:
KPK Gandeng UIN Malang dan UB Kendalikan Gratifikasi
Lima Profesor Hadir dengan Keilmuan Beragam
Lima profesor yang akan dikukuhkan berasal dari Fakultas Bioindustri, Pertanian, dan Kehutanan (FBIPK), Fakultas Teknik (FT), serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Sc., Ph.D. dari FBIPK mengembangkan gagasan E/D/C-RITA sebagai model penyuluhan dan komunikasi pertanian era baru. Model tersebut berangkat dari pengalaman panjang dalam melihat proses adopsi inovasi oleh petani dan pentingnya mendorong pengambilan keputusan secara reflektif.
Dari Fakultas Teknik, Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T. membawa COAT360, sebuah kerangka yang menghubungkan teknologi coating dengan karakterisasi permukaan, ketahanan, dan fungsi material. Sementara Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D. mengembangkan pemanfaatan simulasi dinamika molekul melalui MD-TOOL untuk mengkaji pemisahan air-alkohol serta penangkapan karbon dioksida.
Sementara itu, FISIP menghadirkan Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. dengan model “Lebur Duka Labur Rasa” dalam bidang psikologi, serta Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn. yang mengangkat literasi visual dekolonial sebagai bagian dari upaya mendekolonisasi pengetahuan.
Gagasan Riset Berangkat dari Persoalan Nyata
Keragaman tema penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana pengembangan ilmu di lingkungan UB diarahkan untuk menjawab persoalan yang berkembang di masyarakat.

Edi, misalnya, melihat bahwa keberhasilan penyuluhan pertanian tidak cukup diukur dari pengetahuan atau ketertarikan petani terhadap sebuah inovasi. Proses adopsi juga membutuhkan pertimbangan, percobaan, kolaborasi, hingga kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Putu mengembangkan penelitian pelapisan material dari persoalan praktis, termasuk kebutuhan menghasilkan material dengan karakteristik tertentu. Penelitiannya kemudian berkembang pada berbagai kemungkinan aplikasi, seperti kemasan pangan, biomaterial medis, energi bersih, hingga perlindungan terhadap korosi.
Di bidang psikologi, Cleoputri menyoroti pentingnya memahami pengalaman manusia secara realistis. Model “Lebur Duka Labur Rasa” diarahkan untuk membangun mental fitness melalui pemahaman terhadap pengalaman, perasaan, dan realitas yang dihadapi individu.
Sementara itu, Winarto memanfaatkan simulasi pada skala molekuler untuk melihat perilaku material yang berpotensi digunakan dalam teknologi pemisahan dan penangkapan karbon. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan teknologi yang berkaitan dengan tantangan energi dan lingkungan.
Desi membawa persoalan berbeda melalui kajian komunikasi dan budaya. Ia menyoroti bagaimana gambar dan representasi visual dapat membentuk cara masyarakat memahami diri, lingkungan, serta realitas sosial di sekitarnya.
Konferensi Pers Jadi Ruang Dialog Akademik
Konferensi pers pengukuhan tidak hanya menjadi agenda pengenalan lima profesor, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan akademik dengan kebutuhan masyarakat yang lebih luas.
Kelima profesor menunjukkan pendekatan yang berbeda dalam mengembangkan keilmuan. Ada yang berangkat dari persoalan petani, material dan energi, kesehatan psikologis, hingga cara masyarakat membaca informasi visual.
Melalui forum tersebut, UB memperkenalkan capaian akademik para profesor sekaligus membuka ruang bagi media untuk memahami substansi gagasan yang akan dibawa dalam prosesi pengukuhan.
Pengukuhan lima profesor ini menjadi bagian dari perjalanan pengembangan sumber daya akademik UB. Di sisi lain, gagasan yang dipaparkan menunjukkan bahwa perjalanan akademik seorang profesor tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi berlanjut melalui penelitian, pengembangan ilmu, dan kontribusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. (gal)













