Kanal24, Malang – Aroma khas kandang sapi dan aktivitas pemerahan menjadi pemandangan sehari-hari bagi peternak di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Di balik rutinitas tersebut, ancaman mastitis subklinis kerap mengintai tanpa disadari. Penyakit yang tidak menunjukkan gejala secara kasat mata ini dapat menurunkan kualitas dan kuantitas susu, meningkatkan jumlah sel somatik, hingga memicu kerugian ekonomi apabila tidak dideteksi sejak dini.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) BIMA Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal. Melalui edukasi, demonstrasi deteksi dini menggunakan reagen alternatif, serta pemanfaatan daun sirih sebagai antiseptik alami (teat dipping), mereka mendorong peternak agar lebih mandiri dalam menjaga kesehatan sapi perah, menjaga kualitas susu, sekaligus meningkatkan produktivitas ternak.
Edukasi Deteksi Dini Mastitis Subklinis
Program pengabdian yang berlangsung pada 22 Juni hingga 6 Juli 2026 diawali dengan pendampingan proses pemerahan sapi bersama para peternak. Setelah pemerahan selesai, tim PMM BIMA FTAB UB memberikan edukasi mengenai mastitis subklinis, mulai dari penyebab, dampaknya terhadap produktivitas sapi perah, hingga pentingnya deteksi dini sebagai langkah pencegahan.

Dalam sesi tersebut, tim PMM menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan ambing secara rutin merupakan salah satu upaya penting untuk menjaga kualitas susu, mempertahankan produktivitas sapi perah, sekaligus meminimalkan kerugian ekonomi akibat mastitis.
Sebagai bagian dari praktik lapangan, tim PMM BIMA mendemonstrasikan penggunaan reagen alternatif untuk mendeteksi mastitis subklinis pada sekitar 25 ekor sapi perah milik peternak di Dusun Brau. Selain memperagakan tahapan pemeriksaan, tim juga menjelaskan fungsi reagen, prosedur pengujian yang benar, hingga cara membaca hasil pemeriksaan agar peternak mampu menerapkan metode tersebut secara mandiri.
Ketua PMM BIMA FTAB UB, Dr.nat.techn. Elok Waziiroh, STP., MSi, mengatakan penggunaan reagen alternatif diharapkan menjadi solusi yang lebih ekonomis dibandingkan reagen komersial sehingga peternak semakin terdorong melakukan pemeriksaan kesehatan sapi secara berkala.
“Penggunaan reagen alternatif ini diharapkan menjadi solusi yang lebih terjangkau dibandingkan reagen komersial tanpa mengurangi manfaatnya sebagai media deteksi dini. Terlebih daun sirih relatif lebih gampang ditemui. Harapan kami dengan biaya yang lebih ekonomis dan bahan yang mudah diperoleh, peternak akan makin terdorong untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sapi secara berkala sehingga mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas susu yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Daun Sirih Dimanfaatkan untuk Cegah Mastitis
Selain mengenalkan deteksi dini, tim PMM juga mengedukasi peternak mengenai pentingnya pencegahan mastitis melalui praktik teat dipping setelah pemerahan. Pada sesi ini, mahasiswa memperkenalkan larutan antiseptik berbahan dasar daun sirih yang mudah dibuat dengan memanfaatkan bahan alami di sekitar lingkungan peternakan.
Daun sirih dipilih karena mengandung senyawa aktif, seperti fenol, flavonoid, dan minyak atsiri, yang memiliki aktivitas antibakteri sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri penyebab mastitis.
Mahasiswa kemudian mendemonstrasikan proses pembuatan larutan daun sirih sekaligus cara penggunaannya sebagai antiseptik setelah pemerahan. Para peternak juga diajak mempraktikkan teknik teat dipping secara langsung agar sesuai dengan prosedur yang benar dan dapat diterapkan dalam kegiatan pemerahan sehari-hari.
Peternak Antusias Sambut Inovasi PMM
Selama kegiatan berlangsung, para peternak menunjukkan antusiasme tinggi. Berbagai pertanyaan disampaikan mengenai teknik pengujian mastitis, penggunaan reagen alternatif, hingga efektivitas daun sirih sebagai antiseptik alami. Diskusi tersebut mencerminkan tingginya minat peternak terhadap inovasi yang mudah diterapkan, hemat biaya, dan memanfaatkan potensi lokal.
Salah satu peternak sapi perah di Dusun Brau, Sugiarto, mengaku memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam kegiatan beternak sehari-hari.
“Terima kasih untuk adik-adik mahasiswa dari FTAB UB. Kami jadi tahu ternyata daun sirih ada gunanya juga buat sapi. Semoga sapi-sapi kami makin sehat dan perekonomian kami meningkat,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, PMM BIMA FTAB UB tidak hanya membekali peternak dengan pengetahuan mengenai deteksi dini dan pencegahan mastitis, tetapi juga memperkenalkan inovasi berbasis potensi lokal yang mudah diterapkan dan hemat biaya. Pemanfaatan reagen alternatif serta daun sirih sebagai antiseptik alami diharapkan dapat membantu peternak menjaga kesehatan sapi perah, meningkatkan kualitas susu, serta memperkuat keberlanjutan usaha peternakan di Dusun Brau. Inovasi sederhana tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal dapat menjadi solusi praktis untuk meningkatkan kesehatan ternak sekaligus mendukung kesejahteraan peternak. (gal)













