Kanal24, Malang – Di tengah kebiasaan masyarakat yang kerap mengangkat kamera ketika melihat sebuah peristiwa, masih ada orang yang memilih berhenti, menyapa, lalu bertanya, “Are you okay?”. Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa, tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang menghadapi tekanan hidup, kehadiran satu orang yang mau mendengar bisa menjadi harapan baru.
Nilai itulah yang dibagikan Joya Sarah, alumni Universitas Brawijaya (UB), saat menjadi narasumber dalam program Info Keprotokoleran Universitas yang diproduksi UBTV di Studio UBTV Lantai 2 Gedung Direktorat Universitas Brawijaya, Kamis (30/7/2026). Perempuan yang sempat menjadi sorotan publik melalui video viral karena memilih menemani seorang yang sedang mengalami tekanan mental itu mengatakan bahwa empati adalah sesuatu yang dapat dipelajari dan dimulai dari tindakan sederhana.
Baca juga:
Mahasiswa UB Edukasi Anak Kenali Ikan dan Jaga Ekosistem Perairan
Empati Dimulai dari Keberanian Mendekat
Menurut Joya, kepedulian terhadap orang lain tidak muncul begitu saja. Kepekaan perlu dibangun dengan membiasakan diri memahami kondisi sekitar, termasuk mengenali tanda-tanda ketika seseorang sedang mengalami kecemasan atau tekanan psikologis.

Ia mengaku sempat diliputi rasa takut saat memutuskan mendekati orang yang belum dikenalnya. Namun, menurutnya, rasa waspada tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan orang yang membutuhkan bantuan.
“Kebaikan yang kita berikan kepada orang lain tidak harus dikalahkan oleh rasa takut. Kita tetap bisa peduli tanpa menghilangkan kewaspadaan,” ujarnya.
Baginya, membantu tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Setiap orang memiliki kapasitas berbeda-beda. Ada yang memilih menghubungi petugas, ada yang menemani berbicara, dan ada pula yang cukup menjadi pendengar. Semua bentuk kepedulian memiliki makna selama dilakukan dengan tulus.
Mendengar Tanpa Menghakimi Menjadi Dukungan Terbaik
Dalam wawancara tersebut, Joya menilai masih banyak orang yang terbiasa memberikan nasihat sebelum benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan lawan bicaranya.
Padahal, menurutnya, bentuk dukungan terbaik justru dimulai dari kesediaan untuk mendengar tanpa menghakimi.
“Mendengarkan yang paling tinggi adalah mendengarkan secara empati. Kita mendengarkan untuk mengerti apa yang sedang dia rasakan, bukan sibuk menilai atau menghakimi,” katanya.
Ia meyakini kemampuan berempati bukanlah bakat yang hanya dimiliki segelintir orang. Empati dapat terus diasah melalui pengalaman hidup, refleksi diri, dan kemauan memahami perjuangan orang lain.
Karena itu, ia mengajak generasi muda tidak hanya fokus pada kesulitan yang sedang dihadapi, tetapi juga belajar melihat pelajaran dari setiap pengalaman sehingga lebih mudah memahami kondisi orang lain.
Viral Bukan Tujuan, Menebarkan Kepedulian yang Terpenting
Joya mengaku tidak pernah menyangka video yang diunggahnya akan mendapat perhatian luas di media sosial. Sebelumnya, ia memang kerap membagikan konten refleksi mengenai kehidupan dan kesehatan mental.
Respons positif yang diterimanya justru memperlihatkan bahwa semakin banyak masyarakat, khususnya anak muda, mulai peduli terhadap isu kesehatan mental dan pentingnya menjadi tempat aman bagi orang lain.
Meski demikian, ia menilai masih banyak orang yang memilih merekam sebuah peristiwa dibandingkan memberikan pertolongan.
Menurutnya, sebelum mengambil ponsel, setiap orang sebaiknya membayangkan bagaimana jika berada di posisi orang yang sedang mengalami kesulitan.
“Coba bayangkan kalau posisi itu adalah kamu. Apa yang akan kamu rasakan? Hidup ini bukan hanya tentang diri kita sendiri, tetapi juga tentang nilai yang kita berikan kepada orang lain,” ungkapnya.
Joya bersyukur memilih berhenti dan menyapa orang tersebut daripada sekadar berlalu. Baginya, keputusan sederhana itu menjadi hal yang tidak akan pernah ia sesali.
Di akhir wawancara, ia berharap semakin banyak orang berani hadir bagi keluarga, sahabat, maupun orang-orang di sekitarnya yang sedang menghadapi masa sulit.
Menurutnya, tidak semua orang membutuhkan solusi instan. Terkadang, yang paling mereka perlukan hanyalah seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi.
“Semoga semakin banyak orang mau hadir sebagai teman bercerita, baik untuk keluarga, sahabat, maupun orang-orang di sekitar kita. Dengan begitu, mereka tahu bahwa masih ada harapan dan masih ada orang yang peduli,” tutupnya. (ern)














