Kanal24, Malang – Produksi susu sapi perah di Dusun Brau, Kota Batu, cukup tinggi. Namun, tidak semua susu memenuhi standar kualitas untuk dipasarkan atau diolah menjadi produk pangan. Sebagian susu memiliki kadar lemak, protein, maupun tingkat keasaman yang tidak sesuai. Akibatnya, susu tersebut memiliki nilai ekonomi yang rendah.
Melihat kondisi itu, mahasiswa Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Brawijaya menghadirkan solusi. Mereka mengolah susu reject menjadi sabun susu alami melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan bersama masyarakat pada Minggu (26/7/2028). Program ini dijalankan oleh mahasiswa Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi (IPABIO), Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB.
Program tersebut diketuai oleh Dr.nat.tech. Elok Waziiroh, STP, MSi. Tujuannya meningkatkan nilai tambah susu yang tidak dapat dipasarkan. Selain itu, program ini juga mendorong lahirnya produk souvenir khas Desa Wisata Brau yang memiliki nilai jual.
Baca Juga:
Mahasiswa UB Edukasi Warga Sulap Kulit Jeruk Jadi Pembersih Ramah Lingkungan
Warga Diajari Membuat Sabun Susu
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi kepada ibu-ibu di Desa Wisata Brau. Peserta dikenalkan pada karakteristik susu reject serta peluang pemanfaatannya menjadi produk nonpangan yang bernilai ekonomi.
Setelah itu, peserta mengikuti pelatihan membuat sabun susu menggunakan metode melt and pour. Mereka mempelajari proses pelelehan soap base, pencampuran susu, penambahan pewangi, hingga pencetakan sabun. Metode tersebut dipilih karena sederhana, mudah dipraktikkan, dan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu hingga dua jam. Dengan cara itu, masyarakat diharapkan mampu memproduksi sabun secara mandiri.

Mahasiswa PMM juga mengenalkan strategi pemasaran melalui konsep branding dan pengemasan produk.
“Selain hal tersebut, mahasiswa juga memperkenalkan konsep branding dan packaging produk melalui desain logo, hangtag, serta kemasan yang dirancang khusus agar sabun susu memiliki tampilan yang lebih menarik dan layak dipasarkan sebagai souvenir khas Desa Wisata Brau. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan produk yang fungsional, tetapi juga memiliki identitas yang mampu meningkatkan daya tarik dan nilai jual,” jelas Dr.nat.tech. Elok Waziiroh, STP, MSi.
Diharapkan Jadi Souvenir Khas Desa Wisata Brau
Pelatihan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Wulan, salah satu warga Desa Wisata Brau, mengaku memperoleh pengalaman baru yang bisa dikembangkan menjadi peluang usaha.
“Alhamdulillah, terimakasih untuk FTAB UB yang telah mengajarkan kami cara membuat sabun susu bahkan sekaligus memasarkannya. Semoga dapat meningkatkan ekonomi kami semua,” ujar Wulan.
Melalui program ini, mahasiswa PMM UB berharap susu reject tidak lagi dianggap sebagai limbah yang kurang bernilai. Sebaliknya, susu tersebut dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual. Inovasi ini juga diharapkan menambah variasi produk UMKM koperasi. Selain itu, sabun susu alami dapat menjadi souvenir khas nonpangan Desa Wisata Brau. Produk tersebut juga berpotensi mendukung pengembangan wisata edukasi berbasis peternakan sapi perah di Kota Batu. (ndr)













