Kanal24, Malang – Tiga bulan latihan, riset, hingga menyatukan puluhan anggota tim akhirnya berbuah manis. Unit Tantri Universitas Brawijaya (UB) sukses membawa pulang predikat Juara Terbaik III pada cabang seni tari Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) 2026. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa UB mampu bersaing dengan perguruan tinggi yang memiliki program studi seni tari.
Pencapaian tersebut dibagikan dalam program UB Talenta yang diproduksi UBTV di Studio Podcast UBTV, Lantai 2 Gedung Direktorat Universitas Brawijaya, Selasa (4/8/2026). Dalam kesempatan itu, dua perwakilan peserta, Bimbi Enggal Musava dan Ayudya Disva K., menceritakan proses kreatif hingga tantangan yang mereka hadapi selama mengikuti kompetisi.
Baca Juga:
Tukar 5 Botol Plastik, Mahasiswa Dapat Photobooth Gratis di CFD UB
Proses Panjang Berbuah Prestasi
Bimbi dan Ayudya mengaku pencapaian tersebut menjadi momen yang sangat membahagiakan sekaligus mengharukan setelah melalui proses latihan selama kurang lebih tiga bulan.
Menurut mereka, perjalanan menuju Peksimida tidak hanya diisi latihan gerak tari, tetapi juga melalui proses riset, penyusunan koreografi, penggarapan konsep pertunjukan, hingga kolaborasi dengan tim karawitan.
“Jujur rasanya bahagia, bersyukur, dan juga terharu. Proses selama kurang lebih tiga bulan akhirnya terbayarkan ketika kami diumumkan sebagai Juara Tiga Peksimida 2026,” ujar mereka.
Karya tari yang dibawakan mengusung judul Anubanda, yang berarti keterikatan dan keterhubungan. Melalui konsep tersebut, tim ingin menggambarkan pentingnya menjaga kesadaran kolektif melalui ingatan dan pengulangan agar nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Tantangan Menyatukan Puluhan Anggota Tim
Di balik penampilan di atas panggung, terdapat tantangan besar yang harus diselesaikan bersama. Salah satunya adalah menyusun jadwal latihan seluruh anggota tim yang berasal dari berbagai kesibukan akademik maupun organisasi.
Tim tari terdiri atas tujuh penari, 13 pemain karawitan, serta didukung tim produksi. Menyatukan seluruh personel untuk berlatih secara rutin menjadi pekerjaan yang tidak mudah.
“Kesulitannya lebih ke mengatur jadwal latihan karena semua anggota punya kegiatan masing-masing. Menyatukan seluruh tim menjadi tantangan terbesar kami,” ungkap mereka.
Selain persoalan teknis, tekanan juga datang dari persaingan. Mereka harus berhadapan dengan peserta dari berbagai kampus yang memiliki program studi seni tari, seperti Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), hingga Institut Seni Indonesia.
Menurut mereka, kondisi tersebut justru menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa mahasiswa UB juga mampu menghasilkan karya tari yang kompetitif meski berasal dari unit kegiatan mahasiswa.
Prestasi Jadi Motivasi Berkarya Lebih Jauh
Bagi Unit Tantri, capaian ini bukan menjadi akhir perjalanan. Mereka mengaku saat ini lebih fokus mempersiapkan berbagai penampilan untuk menyambut mahasiswa baru Universitas Brawijaya melalui rangkaian kegiatan Raja Brawijaya.
Sementara itu, untuk kompetisi berikutnya, mereka masih membuka peluang mengikuti berbagai ajang seni lain sekaligus mencari talenta baru yang akan memperkuat Unit Tantri.
“Kami sangat bahagia karena sebagai UKM di Universitas Brawijaya yang bukan memiliki program studi tari, kami tetap mampu membawa nama baik UB dan meraih Juara Tiga di Peksimida,” kata mereka.
Prestasi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa dedikasi, kerja sama, dan proses kreatif yang panjang mampu menghasilkan pencapaian membanggakan, sekaligus memperkuat eksistensi mahasiswa Universitas Brawijaya di bidang seni dan budaya. (ndr)














