Kanal24, Malang – Pengembangan obat herbal di masa depan tidak cukup hanya terbukti aman dan berkhasiat. Di tengah ancaman perubahan iklim dan meningkatnya isu keberlanjutan, proses produksi obat juga dituntut lebih ramah lingkungan. Pesan inilah yang dibawa Dr. Muhammad Ajmal Shah, Assistant Professor Department of Pharmacy Hazara University, Pakistan, saat menjadi pembicara dalam International Summer School of Pharmacy (ISSP UB-3) yang diselenggarakan Department of Pharmacy, Faculty of Medicine Universitas Brawijaya (UB).
Dalam pemaparannya, Ajmal memperkenalkan konsep green extraction, yaitu metode ekstraksi senyawa aktif dari tanaman obat yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi salah satu arah baru dalam pengembangan produk herbal di berbagai negara.
Baca Juga:
Mahasiswa Prancis Kagum Riset Pertanian UB, Sebut Layak Jadi Inspirasi
Dari Pengetahuan Tradisional Menuju Produk Modern
Ajmal menjelaskan bahwa selama ini masyarakat telah lama mengenal berbagai tanaman obat melalui kearifan lokal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan yang aman, efektif, memiliki nilai ekonomi, sekaligus memenuhi standar ilmiah.

“Fokus penelitian saya adalah green extraction dan pengayaan senyawa bioaktif. Filosofi riset kami adalah membawa hasil penelitian dasar menuju produk yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, berbagai sumber daya alam lokal tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan menjadi fitofarmaka yang berdaya saing di pasar internasional.
Farmasi Hijau Jadi Jawaban Tantangan Perubahan Iklim
Menurut Ajmal, isu keberlanjutan kini menjadi perhatian dunia, termasuk dalam industri farmasi.
Ia menjelaskan seluruh tahapan penelitian, mulai dari pemilihan pelarut, metode ekstraksi, hingga proses produksi, perlu menerapkan prinsip ramah lingkungan dan mudah terurai agar tidak menambah beban pencemaran.
“Perubahan iklim adalah tantangan global. Karena itu kami berupaya memastikan seluruh proses penelitian mengikuti green practices yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) PBB,” jelasnya.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan obat herbal yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan manusia, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
Indonesia dan Pakistan Punya Potensi Besar Berkolaborasi
Ajmal menilai Indonesia dan Pakistan memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar sehingga peluang kerja sama riset masih terbuka lebar.
Selain menjadi pembicara dalam ISSP UB-3, ia juga merupakan adjunct professor di sejumlah perguruan tinggi Indonesia, termasuk Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Ngudi Waluyo Semarang, dan Universitas Gunadarma Jakarta.
Menurutnya, kolaborasi tersebut telah menghasilkan berbagai penelitian mengenai ekstraksi hijau dan pengembangan fitomedisin berbasis bahan alam.
“Kolaborasi ini berpotensi menghasilkan informasi baru sekaligus melahirkan produk herbal yang lebih efektif. Saya yakin riset bersama dapat menjadi terobosan bagi pengembangan obat herbal di Indonesia maupun Pakistan,” katanya.
International Summer School Dinilai Perkuat Reputasi Kampus Indonesia
Ajmal juga mengapresiasi semakin banyaknya perguruan tinggi Indonesia yang aktif menyelenggarakan program musim panas bertaraf internasional.
Menurutnya, kegiatan seperti ISSP UB-3 tidak hanya memberikan pengalaman akademik kepada mahasiswa, tetapi juga memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi Indonesia.
“Program seperti ini memberikan manfaat bagi mahasiswa lokal maupun internasional. Di sisi lain, kegiatan akademik internasional juga membantu meningkatkan reputasi dan pengakuan universitas Indonesia di tingkat global,” ujarnya.
Dorong Mahasiswa Kuasai Teknologi Herbal Berkelanjutan
Menutup sesinya, Ajmal berharap mahasiswa yang mengikuti ISSP UB-3 tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai obat herbal, tetapi juga memahami pentingnya inovasi berkelanjutan dalam dunia farmasi.
Ia mendorong generasi muda untuk terus mengembangkan teknologi pengolahan herbal berbasis prinsip ramah lingkungan agar mampu menjawab tantangan kesehatan sekaligus menjaga kelestarian bumi.
“Saya berharap para mahasiswa membawa pulang pengetahuan baru, teknologi baru, dan praktik-praktik baru mengenai pengembangan obat herbal yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan,” pungkasnya.














