Kanal24, Malang – Tradisi lokal tak hanya hidup melalui cerita dari mulut ke mulut. Di tangan seorang penulis, budaya juga bisa hadir dalam lembaran buku dan menjadi media belajar bagi anak-anak. Hal itulah yang dilakukan Renie Astuti, alumni Universitas Brawijaya, melalui buku cerita anak berjudul Praaak! Pyuuur! yang terinspirasi dari tradisi berburu belalang di Banyuwangi.
Kisah di balik lahirnya buku tersebut dibagikan Renie setelah menjadi narasumber dalam acara “Podcast Lets Talk! yang disiarkan UBTV di Studio UBTV Lantai 2 Gedung Direktorat Universitas Brawijaya, Selasa (4/8/2026). Melalui cerita sederhana, ia ingin mengenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus menyampaikan nilai kebersamaan kepada pembaca usia dini.
Baca juga:
Pemantauan Dini Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak Optimal
Berangkat dari Tradisi Berburu Belalang di Banyuwangi
Renie menceritakan, ide menulis Praaak! Pyuuur! muncul setelah ia mengetahui tradisi masyarakat Banyuwangi yang berburu belalang saat musim hujan. Aktivitas tersebut dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Menurutnya, tradisi itu memiliki keunikan yang layak dikenalkan kepada masyarakat luas, terutama anak-anak, agar mereka mengetahui keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia.
“Di Banyuwangi ada hutan yang saat musim hujan menjadi tempat berburu belalang. Saya ingin orang-orang tahu bahwa di sana ada tradisi yang unik dan bisa diceritakan melalui buku,” ujarnya.
Tak hanya mengangkat tradisinya, Renie juga memilih judul yang merepresentasikan suasana berburu belalang tersebut. Kata “Praaak!” berasal dari bunyi galah saat memukul ranting atau pohon untuk mengusir belalang, sedangkan “Pyuuur!” menggambarkan suara kawanan belalang yang beterbangan setelah terusik.
Baginya, judul tersebut mampu membangun rasa penasaran sekaligus memperkuat identitas cerita yang diangkat dari budaya lokal.
Cerita Anak yang Mengajarkan Kerja Sama
Di balik kisah berburu belalang, Renie menyisipkan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca, yakni pentingnya kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ia menjelaskan, proses berburu belalang tidak selalu berjalan mulus. Dalam cerita tersebut, setiap tokoh memiliki peran untuk saling membantu agar tujuan bersama dapat tercapai.
“Berburu belalang itu tidak selalu berhasil. Ada kendala-kendala yang harus dihadapi bersama. Dari situ anak-anak bisa belajar tentang kerja sama dan saling membantu,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, Renie berharap anak-anak tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ia meyakini buku cerita dapat menjadi media yang efektif untuk menanamkan karakter sejak usia dini.

Menulis Berawal dari Ide, Berkembang Bersama Komunitas
Bagi Renie, tantangan terbesar dalam menulis bukan terletak pada proses mengetik naskah, melainkan menemukan ide dan menyusun alur cerita yang menarik.
Menurutnya, ketika kerangka cerita sudah tersusun dengan baik, proses menulis dapat berlangsung relatif cepat. Sebaliknya, menemukan ide, menentukan konflik, hingga merancang penyelesaian cerita justru membutuhkan waktu yang lebih panjang.
“Menulis itu sebenarnya cepat. Yang memakan waktu adalah mencari ide, menyusun alur, konflik, hingga penyelesaiannya,” jelasnya.
Renie juga menilai komunitas menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang penulis. Sebagai anggota Brawijaya Writers Club (BWC), ia mengaku banyak memperoleh wawasan baru melalui diskusi dan berbagi pengalaman dengan sesama penulis.
Menurutnya, dunia kepenulisan terus berkembang sehingga seorang penulis perlu terus belajar agar mampu menghasilkan karya yang relevan dan berkualitas.
“Sebagai penulis kita tidak bisa berkembang sendirian. Kita harus belajar dari penulis lain supaya terus berkembang mengikuti ilmu dan informasi terbaru,” tuturnya.
Melalui Praaak! Pyuuur!, Renie berharap semakin banyak anak mengenal budaya daerah melalui bacaan yang menyenangkan. Ia juga ingin cerita-cerita lokal Indonesia terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui karya sastra anak.
Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan buku Praaak! Pyuuur! maupun karya lain dari para anggota Brawijaya Writers Club, informasi pemesanan dapat diperoleh melalui akun media sosial resmi Brawijaya Writers Club. (ern)













