Kanal24, Malang – Mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) tahun 2026 tidak hanya disambut dengan rangkaian pengenalan kampus. Tahun ini, proses Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) RAJA BRAWIJAYA 2026 mulai mengandalkan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) untuk membantu mahasiswa memperoleh informasi selama masa orientasi.
Inovasi tersebut menjadi salah satu pembaruan dalam pelaksanaan RAJA BRAWIJAYA 2026 yang mengusung tema “Gelora Brawijaya: Membentuk Generasi Transformatif yang Inklusif, Inovatif, Berwawasan Global, dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas 2045.”
Rangkaian PKKMB tingkat universitas berlangsung pada 10–12 Agustus 2026, kemudian dilanjutkan di tingkat fakultas pada 13–15 Agustus 2026.
Ketua Pelaksana RAJA BRAWIJAYA 2026, Daffa Yasa Pratama, mengatakan pelaksanaan tahun ini membawa sejumlah pembaruan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satunya adalah penguatan teknologi digital dalam pengelolaan kegiatan maupun layanan informasi bagi mahasiswa baru.

“Tahun ini kita ingin RAJA BRAWIJAYA menjadi world class university orientation. UB merupakan world class campus, sehingga PKKMB-nya juga harus memiliki standar yang mendukung arah tersebut,” jelas Daffa.
AI Assistant Bantu Mahasiswa Selama PKKMB
Salah satu inovasi yang dikembangkan panitia adalah aplikasi untuk mahasiswa baru yang dilengkapi berbagai fitur pendukung, termasuk Maps dan AI Assistant.
Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa memperoleh informasi yang dibutuhkan selama mengikuti rangkaian PKKMB. Kehadiran AI juga menjadi bagian dari upaya UB memperkenalkan pemanfaatan teknologi secara lebih dekat kepada mahasiswa sejak awal memasuki lingkungan perguruan tinggi.
Tidak hanya untuk mahasiswa, digitalisasi juga diterapkan dalam pengelolaan kepanitiaan melalui Integrated System Managerial RAJA BRAWIJAYA.
Sistem tersebut menjadi bagian dari pembaruan manajemen kegiatan agar koordinasi dan pengelolaan rangkaian PKKMB dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
Lima Isu Jadi Fokus RAJA Brawijaya 2026
Daffa menjelaskan, penguatan teknologi tersebut berjalan beriringan dengan lima isu utama yang diangkat dalam RAJA BRAWIJAYA 2026.
Kelima isu tersebut meliputi kesehatan mental dan anti-kekerasan seksual, inklusivitas, perspektif global, kecerdasan artifisial dan digitalisasi, serta keberlanjutan.
Penguatan perspektif global salah satunya dilakukan melalui keterlibatan mahasiswa internasional dari berbagai negara dalam rangkaian kegiatan. Langkah tersebut diharapkan memberikan pengalaman yang lebih beragam bagi mahasiswa baru sekaligus memperkenalkan lingkungan akademik UB yang semakin terhubung dengan komunitas global.
Sementara itu, aspek keberlanjutan diarahkan untuk memperkenalkan mahasiswa baru pada isu pembangunan berkelanjutan dan peran mereka sebagai bagian dari generasi yang diproyeksikan menghadapi tantangan global.

RAJA Brawijaya Bukan Sekadar Orientasi
Direktur Direktorat Kemahasiswaan UB, Dr. Sujarwo, S.P., M.P., mengatakan PKKMB menjadi momentum bagi universitas untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus menunjukkan lingkungan akademik yang akan mereka jalani.
“Kita dengan tangan terbuka menyambut mahasiswa baru dan kemudian kita menunjukkan wajah terbaik Universitas Brawijaya, sehingga mahasiswa baru punya ekspektasi untuk meningkatkan kapasitas tertinggi yang bisa mereka capai,” katanya.
Melalui berbagai pembaruan tersebut, RAJA BRAWIJAYA 2026 diarahkan tidak hanya sebagai agenda penyambutan, tetapi menjadi pintu awal mahasiswa untuk memahami lingkungan akademik, mengembangkan kapasitas diri, serta mulai menentukan perjalanan selama menjadi bagian dari Universitas Brawijaya. (nid)














