Kanal24, Malang – Pengelolaan sampah di lingkungan kampus tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas pembuangan, tetapi perlu dimulai dari perubahan kebiasaan dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. Pemilahan dari hulu dinilai dapat memudahkan proses pengangkutan dan pengolahan, menekan beban operasional, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Upaya membangun kebiasaan tersebut menjadi fokus Universitas Brawijaya (UB) melalui Pelatihan Pemilahan Sampah yang berlangsung di Ruang Jamuan Gedung Rektorat Lantai 6, Rabu (23/09/2026). Materi mengenai pentingnya pemilahan sampah disampaikan Sekretaris Universitas Brawijaya Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si. bersama Kepala UPT UB Green Campus Prof. Sri Suhartini, S.T.P., M.Env.Mgt, Ph.D, PGCert, IPM.
Baca juga:
FH UB Perkuat Kesadaran K3 untuk Wujudkan Lingkungan Kerja Aman
Pilah Sampah dari Hulu
Sekretaris UB Dr. Tri Wahyu Nugroho mengatakan pelatihan tersebut diarahkan untuk membentuk kebiasaan baru dalam mengelola sampah. Menurutnya, masyarakat perlu mulai memahami bahwa setiap jenis sampah membutuhkan penanganan yang berbeda.

Selama ini, kebiasaan membuang berbagai jenis sampah dalam satu tempat membuat proses pengelolaan berikutnya menjadi lebih sulit. Karena itu, pemilahan sejak awal menjadi langkah penting agar sampah dapat ditangani secara lebih efektif dan efisien.
“Tujuannya ini melatih kebiasaan. Jadi sebenarnya mengubah perilaku dari yang biasanya membuang sampah tidak memikirkan ini harus dibuang di mana. Sekarang kita upayakan untuk bisa memilah sampah lebih awal,” ujar Tri Wahyu.
Pemilahan dari sumber, lanjutnya, akan memberikan dampak pada tahapan pengelolaan berikutnya. Sampah yang sudah dipisahkan akan lebih mudah dikumpulkan, diolah, maupun dimanfaatkan kembali sehingga dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari visi UB dalam menerapkan zero waste management. Sampah yang dihasilkan dari aktivitas kampus diharapkan tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi material atau produk yang masih memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
“Masuk ke UB, keluar sudah dalam bentuk yang lain. Bisa jadi yang masih memiliki nilai ekonomi dan tidak menimbulkan permasalahan bagi Kota Malang,” jelasnya.
Pelatihan ini menjadi tahap awal untuk membangun kebiasaan tersebut. Selanjutnya, UB Green Campus akan memperkuat kampanye sekaligus menyediakan sarana pemilahan agar praktik tersebut dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan kampus.
Green Campus Perkuat Budaya Berkelanjutan
Kepala UPT UB Green Campus Prof. Sri Suhartini menjelaskan bahwa pemilahan sampah merupakan salah satu bagian dari gerakan besar untuk menjadikan UB sebagai kampus yang lestari dan berkelanjutan.
Menurutnya, UPT UB Green Campus berperan sebagai motor penggerak berbagai program keberlanjutan di lingkungan universitas. Salah satu fokusnya adalah membangun budaya pemilahan sampah yang melibatkan seluruh civitas akademika.
“Tidak hanya dosennya, tendiknya, mahasiswa, tapi pada hari ini kami menyasar tenan kantin-kantin di unit fakultas, kemudian juga di unit-unit di bawah rektorat,” ungkap Sri.
Untuk membangun budaya tersebut, UPT UB Green Campus telah menjalankan berbagai kegiatan sosialisasi. Edukasi dilakukan melalui media sosial maupun kegiatan langsung seperti Car Free Day yang dilaksanakan setiap Jumat.
Dalam kegiatan tersebut, edukasi mengenai pemilahan sampah plastik dikemas melalui aktivitas yang lebih menarik bagi generasi muda. Salah satunya melalui sesi foto dan penukaran botol plastik.
UB Green Campus juga telah mengimplementasikan reverse vending machine melalui kolaborasi dengan pihak industri. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan praktik pemilahan sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada warga kampus.
Pelatihan bagi tenan kantin kemudian menjadi langkah lanjutan. Menurut Sri, keterlibatan pengelola kantin penting karena aktivitas konsumsi dan produksi makanan menghasilkan sampah yang perlu dipilah sejak dari sumbernya.
“Harapannya adalah tenan-tenan kantin yang ada di kampus Brawijaya ini pun juga melakukan gerakan pemilahan sampah,” katanya.
Dengan pemilahan dari sumber, pengelolaan sampah diharapkan tidak berhenti pada tahap pengumpulan. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diarahkan untuk dimanfaatkan kembali sesuai prinsip ekonomi sirkular.
DTUK Dorong Pemilahan Sejak Sumber
Kepala Divisi Tata Usaha dan Kerumahtanggaan (DTUK) UB Hisbulloh Huda, S.Sos. menilai pemilahan dari hulu akan membantu proses teknis pengelolaan sampah di lingkungan kampus.
Sebagai tim pelaksana teknis di lapangan, DTUK berkepentingan memastikan sampah yang dikumpulkan telah terpilah. Kondisi tersebut akan membuat proses pengangkutan dan pengolahan menjadi lebih mudah sekaligus membantu mengurangi beban biaya operasional.
“Kalau sampah itu sudah terpilah dari hulu, lebih mudah untuk melakukan pengolahan dan tindak lanjutnya,” kata Hisbulloh.
Ia juga menyebut pemilahan sampah mendukung penerapan ekonomi sirkular di lingkungan kampus. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak seluruhnya menjadi beban tempat pemrosesan akhir.
Namun, penerapan di lapangan masih menghadapi tantangan. Hisbulloh mengatakan sebagian sampah di lingkungan UB masih tercampur sejak dari sumber. Kondisi tersebut membuat proses pemilahan menjadi lebih sulit ketika sampah sudah berada di lokasi pengolahan.
Karena itu, pelatihan diharapkan mampu mendorong perubahan kebiasaan mulai dari sumber. Targetnya, sampah sudah terpilah sebelum masuk dalam proses pengangkutan.
“Target kami adalah bisa terpilahnya sampah di hulu sehingga permasalahan-permasalahan ini clear nantinya,” ujarnya.
Komitmen penerapan pemilahan juga disampaikan Manager Brawijaya Catering, Risang Pradana Sugeswara. Ia menilai pelatihan memberikan pengetahuan baru mengenai klasifikasi sampah sekaligus penanganan limbah dari kegiatan produksi makanan dan minuman.
Risang mengatakan pengetahuan tersebut akan diteruskan kepada staf di lingkungan unitnya sehingga penerapan pemilahan dapat dilakukan secara lebih luas.
“Harapannya dari pelatihan ini bisa kami share ke anggota-anggota kami atau staf-staf kami yang ada di PTBMU,” ungkapnya.
Brawijaya Catering juga berencana menerapkan pemilahan sampah pada unit yang berkaitan langsung dengan produksi makanan dan minuman, termasuk tenan yang beraktivitas di sejumlah kantin UB.
Melalui sinergi UB Green Campus, DTUK, pengelola katering, dan tenan kantin, pemilahan sampah diharapkan berkembang menjadi kebiasaan bersama. Langkah tersebut sekaligus memperkuat pengelolaan sampah berbasis zero waste management dan ekonomi sirkular di lingkungan Universitas Brawijaya.(ffn)














