Kanal24, Malang – Memasuki perguruan tinggi membawa perubahan besar bagi mahasiswa baru, mulai dari lingkungan belajar hingga tuntutan untuk mulai menentukan arah pengembangan diri. Karena itu, Universitas Brawijaya (UB) menempatkan kesiapan mental dan kesehatan mahasiswa sebagai salah satu perhatian dalam pelaksanaan RAJA BRAWIJAYA 2026.
Isu tersebut masuk dalam fokus utama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UB tahun ini. RAJA BRAWIJAYA 2026 mengusung tema “Gelora Brawijaya: Membentuk Generasi Transformatif yang Inklusif, Inovatif, Berwawasan Global, dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas 2045.”
Ketua Pelaksana RAJA BRAWIJAYA 2026, Daffa Yasa Pratama, mengatakan mahasiswa baru perlu dipersiapkan secara lebih menyeluruh sebelum menjalani kehidupan perkuliahan.
Baca juga:
RAJA Brawijaya 2026 Hadirkan AI Assistant untuk Mahasiswa Baru
“RAJA BRAWIJAYA ini ibarat gerbang bagi mereka untuk memasuki dunia perkuliahan. Harapannya mahasiswa baru siap secara fisik, mental, dan kesehatan,” ujar Daffa.

Kesehatan Mental Jadi Salah Satu Fokus
Kesehatan mental dan anti-kekerasan seksual menjadi bagian dari lima isu yang diangkat dalam RAJA BRAWIJAYA 2026. Tiga isu lainnya yakni inklusivitas, perspektif global, kecerdasan artifisial dan digitalisasi, serta keberlanjutan.
Menurut Daffa, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan RAJA BRAWIJAYA bukan sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga pintu awal untuk mengenalkan berbagai aspek kehidupan kampus.
Mahasiswa baru akan berhadapan dengan lingkungan dan pola kehidupan yang berbeda dibandingkan ketika berada di bangku sekolah. Karena itu, kesiapan fisik, mental, dan kesehatan menjadi bagian penting dalam proses adaptasi tersebut.
Dalam rangkaian RAJA BRAWIJAYA 2026, perhatian terhadap kesehatan mental juga diperkuat melalui screening kesehatan mental saat pengambilan jas almamater, kampanye digital, serta penyediaan konselor selama kegiatan berlangsung.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan preventif agar mahasiswa baru memiliki akses terhadap informasi maupun dukungan yang dibutuhkan sejak awal memasuki lingkungan UB.
Mahasiswa Didorong Punya Arah Sejak Awal
Selain kesiapan mental, Daffa menilai mahasiswa baru perlu mulai memikirkan arah pengembangan dirinya selama menjalani perkuliahan.
RAJA BRAWIJAYA diharapkan dapat menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mulai menyusun milestone dan merencanakan aktivitas yang ingin mereka jalani selama menjadi mahasiswa UB.
“Harapannya mahasiswa baru siap secara fisik, mental, dan kesehatan, punya milestone setelah RAJA BRAWIJAYA ini akan ke mana, serta punya planning ketika di kuliah mereka akan mengikuti apa saja dan akan bekerja di mana,” jelasnya.
Dengan demikian, masa orientasi tidak berhenti pada pengenalan gedung, organisasi, maupun sistem akademik. Mahasiswa juga didorong mulai mengenali potensi diri dan menentukan langkah pengembangan selama berada di perguruan tinggi.
Ciptakan Lingkungan Kampus yang Aman
Fokus kesehatan mental juga ditempatkan berdampingan dengan isu anti-kekerasan seksual dan inklusivitas.
Keduanya menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kampus yang aman dan dapat diakses oleh mahasiswa dengan latar belakang yang beragam.
Bagi mahasiswa baru, pengenalan terhadap isu tersebut sejak awal menjadi bagian dari proses memahami hak, tanggung jawab, serta budaya kehidupan di lingkungan perguruan tinggi.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan UB, Dr. Sujarwo, S.P., M.P., mengatakan PKKMB menjadi momentum bagi universitas untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus memperkenalkan lingkungan terbaik UB.
“Kita dengan tangan terbuka menyambut mahasiswa baru dan kemudian kita menunjukkan wajah terbaik Universitas Brawijaya, sehingga mahasiswa baru punya ekspektasi untuk meningkatkan kapasitas tertinggi yang bisa mereka capai,” katanya.
Melalui RAJA BRAWIJAYA 2026, UB ingin mahasiswa baru tidak hanya mengenal kampus, tetapi juga memiliki bekal untuk menjalani masa transisi menuju kehidupan akademik yang lebih mandiri.
Kesiapan fisik, mental, kesehatan, kemampuan beradaptasi, hingga perencanaan masa depan menjadi bagian dari fondasi yang ingin dibangun sejak mahasiswa pertama kali memasuki Universitas Brawijaya. (nid)














