Kanal24, Malang – Menjadi bagian dari kampus berkelas dunia tidak cukup hanya dengan mengenal lingkungan akademik dan berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara. Universitas Brawijaya (UB) ingin mahasiswa barunya memahami bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat global yang ikut memiliki tanggung jawab terhadap berbagai persoalan dunia.
Gagasan tersebut menjadi salah satu semangat yang dibawa dalam RAJA BRAWIJAYA 2026, Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UB yang mengusung tema “Gelora Brawijaya: Membentuk Generasi Transformatif yang Inklusif, Inovatif, Berwawasan Global, dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas 2045.”
Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., mengatakan internasionalisasi yang dikembangkan UB tidak semata-mata diarahkan pada pencapaian status sebagai world class university. Lebih jauh, mahasiswa diharapkan memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat global.
Baca juga:
RAJA Brawijaya 2026 Hadirkan AI Assistant untuk Mahasiswa Baru

“Kita ingin bahwa anak-anak kita itu memahami menjadi bagian dari global citizenship, bahwa apa yang terjadi di belahan dunia sana itu juga memiliki impact kepada kita dan juga menjadi tanggung jawab kita,” ujar Prof. Widodo.
Internasionalisasi Bukan Sekadar Hadirkan Mahasiswa Asing
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam pelaksanaan RAJA BRAWIJAYA 2026 yang memperkuat perspektif global dalam rangkaian orientasi mahasiswa baru.
Ketua Pelaksana RAJA BRAWIJAYA 2026, Daffa Yasa Pratama, mengatakan pelaksanaan tahun ini membawa sejumlah pembaruan, termasuk penguatan internasionalisasi.
“Tahun ini kita ingin RAJA BRAWIJAYA menjadi world class university orientation. UB merupakan world class campus, sehingga PKKMB-nya juga harus memiliki standar yang mendukung arah tersebut,” jelas Daffa.
Perspektif global salah satunya diwujudkan melalui keterlibatan mahasiswa internasional dari berbagai negara dalam rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka memberikan ruang interaksi yang lebih beragam bagi mahasiswa baru sekaligus memperkenalkan lingkungan akademik UB yang semakin terhubung dengan komunitas global.
Namun bagi Prof. Widodo, internasionalisasi memiliki makna yang lebih luas.
Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu beradaptasi dengan lingkungan global, tetapi juga memahami persoalan kemanusiaan, perdamaian, lingkungan, hingga perubahan iklim sebagai isu bersama.
“Kita juga harus bisa menjadi bagian penting dari global itu untuk melakukan usaha-usaha untuk memuliakan manusia itu sendiri, perdamaian, kemanusiaan,” katanya.
Dari Isu Kemanusiaan hingga Perubahan Iklim
Prof. Widodo mencontohkan persoalan kemanusiaan sebagai salah satu isu global yang membutuhkan perhatian bersama.
Ia menyebut persoalan kemanusiaan di kawasan Timur Tengah, termasuk Palestina, sebagai salah satu isu yang turut menjadi perhatian. Menurutnya, UB berupaya mengambil bagian melalui berbagai bentuk advokasi kemanusiaan.
Di sisi lain, perubahan iklim dan pemanasan global juga menjadi persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau kelompok saja.
“Global warming. Nah, ini tidak bisa yang melakukan hanya orang Inggris, orang Amerika, tetapi semua individu harus membantu menyelesaikannya termasuk di Universitas Brawijaya,” tutur Prof. Widodo.
Karena itu, menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak mahasiswa berada di ruang kelas hingga menjalankan praktikum dan penelitian.
Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui konsep green campus, pengurangan penggunaan sampah plastik, kampanye lingkungan, hingga dorongan menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan untuk jarak dekat.
UB juga mendorong pengembangan teknologi dan praktik yang lebih ramah lingkungan, termasuk dalam sektor pertanian dan peternakan.
Mahasiswa Disiapkan Menghadapi Persoalan Global
Menurut Prof. Widodo, kesadaran terhadap lingkungan juga memiliki kaitan dengan tantangan mahasiswa ketika memasuki dunia profesional.
Produk yang dihasilkan melalui proses yang tidak ramah lingkungan berpotensi menghadapi tantangan ketika masuk ke pasar global. Karena itu, prinsip keberlanjutan perlu menjadi bagian dari proses pendidikan mahasiswa.
“Ini juga harus diajarkan ke anak-anak mulai dari ruang kelas sampai praktikum sampai nanti penelitiannya,” ujarnya.
Semangat tersebut sejalan dengan lima isu utama yang diangkat dalam RAJA BRAWIJAYA 2026, yakni kesehatan mental dan anti-kekerasan seksual, inklusivitas, perspektif global, kecerdasan artifisial dan digitalisasi, serta keberlanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, RAJA BRAWIJAYA 2026 tidak hanya diarahkan sebagai agenda penyambutan mahasiswa baru. Orientasi tersebut menjadi pintu awal untuk mengenalkan mahasiswa pada lingkungan akademik sekaligus persoalan yang lebih luas di tingkat global.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan UB, Dr. Sujarwo, S.P., M.P., sebelumnya mengatakan PKKMB menjadi momentum bagi universitas untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus menunjukkan wajah terbaik UB.
Sementara itu, Daffa menilai mahasiswa perlu mulai menentukan arah pengembangan dirinya sejak memasuki dunia perkuliahan.
“RAJA BRAWIJAYA ini ibarat gerbang bagi mereka untuk memasuki dunia perkuliahan. Harapannya mahasiswa baru siap secara fisik, mental, dan kesehatan, punya milestone setelah RAJA BRAWIJAYA ini akan ke mana, serta punya planning ketika di kuliah mereka akan mengikuti apa saja dan akan bekerja di mana,” katanya.
Melalui RAJA BRAWIJAYA 2026, UB ingin membangun generasi mahasiswa yang tidak hanya siap menghadapi kehidupan akademik, tetapi juga mampu melihat dirinya sebagai bagian dari masyarakat global dan ikut mengambil peran dalam menjawab persoalan kemanusiaan maupun lingkungan. (nid)














