Kanal24, Malang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) mengubah potensi hasil pertanian lokal menjadi produk pangan bernilai tambah melalui pelatihan pembuatan es krim sayur dan selai belimbing di Desa Argosuko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal sekaligus mendorong masyarakat mengembangkan usaha berbasis hasil pertanian.
Pelatihan yang digelar di Balai Desa Argosuko pada Rabu (22/7/2026) itu diikuti ibu-ibu PKK setempat dan didampingi Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Alia Fibrianingtyas, S.P., M.P. serta Mahfudlotul ‘Ula, S.E., M.Si. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN FBiPK UB memperkenalkan diversifikasi produk pangan yang mudah diterapkan dengan memanfaatkan potensi pertanian desa.
Baca juga:
FTAB UB Hibahkan Mesin Produksi Kacang Bawang untuk UMKM
Olahan Sederhana Tingkatkan Nilai Hasil Panen
Desa Argosuko memiliki potensi pertanian yang melimpah, terutama buah belimbing yang hampir dimiliki setiap rumah warga. Namun, hasil panen tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga sebagian hanya dikonsumsi seperlunya, bahkan terbuang ketika produksi sedang tinggi.

Di sisi lain, rendahnya minat anak-anak mengonsumsi sayuran masih menjadi tantangan dalam pemenuhan gizi keluarga. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN menghadirkan inovasi berupa es krim berbahan dasar sawi dan selai belimbing sebagai alternatif olahan yang lebih menarik sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Es krim sayur diperkenalkan sebagai camilan bergizi yang lebih mudah diterima anak-anak, sedangkan selai belimbing diharapkan mampu memperpanjang masa simpan buah sekaligus meningkatkan nilai jual komoditas lokal. Inovasi ini menunjukkan bahwa hasil pertanian dapat diolah menjadi produk yang memiliki daya saing tanpa memerlukan teknologi yang rumit.
Warga Antusias Ikuti Pelatihan
Pelatihan berlangsung interaktif melalui demonstrasi sekaligus praktik langsung pembuatan kedua produk tersebut. Mahasiswa menjelaskan setiap tahapan pengolahan, mulai dari pemilihan bahan, proses pembuatan, hingga teknik menghasilkan produk dengan tekstur dan cita rasa yang baik.
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan, mulai dari kemungkinan mengganti susu dengan santan hingga daya simpan produk setelah diolah. Setelah sesi praktik selesai, peserta mencicipi es krim sayur dan selai belimbing yang mendapat respons positif karena dinilai memiliki rasa yang unik sekaligus layak dikembangkan sebagai produk olahan rumah tangga.
Salah satu peserta, Ibu Iin, mengaku kegiatan tersebut memberikan wawasan baru dalam memanfaatkan hasil pertanian yang selama ini mudah dijumpai di lingkungan sekitar.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan kami sebagai ibu-ibu PKK. Ternyata sayuran dan belimbing yang selama ini sering kami jumpai bisa diolah menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai tambah. Semoga ilmu yang diberikan mahasiswa KKN dapat kami praktikkan di rumah,” ujarnya.
Dorong Gizi Keluarga dan Peluang Usaha
Selain memperkenalkan inovasi pangan, pelatihan ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya peluang usaha berbasis komoditas lokal. Es krim sayur dapat menjadi alternatif camilan bergizi bagi anak-anak, sedangkan selai belimbing berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan desa yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan buah segar.
Program tersebut turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Inovasi es krim sayur mendukung SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, sementara pengembangan selai belimbing berkontribusi terhadap SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 11 mengenai Kota dan Permukiman Berkelanjutan, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN FBiPK UB berharap masyarakat Desa Argosuko semakin terdorong memanfaatkan hasil pertanian lokal menjadi produk olahan yang memiliki nilai gizi, nilai ekonomi, dan daya saing lebih tinggi. Dengan demikian, potensi pertanian desa tidak hanya memberikan manfaat bagi ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui usaha berbasis komoditas lokal.(ffn)













