Kanal24, Malang – Produk lokal tak cukup hanya punya rasa dan kualitas. Di tengah persaingan pasar yang semakin digital, kemasan, identitas produk, hingga cara memasarkannya ikut menentukan apakah sebuah produk mampu dikenal lebih luas. Persoalan itu coba dijawab mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) melalui sejumlah program pengabdian di Desa Sumbergondo, Kota Batu.
Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa mengembangkan tiga program, yakni LARISS untuk penguatan UMKM, AROMA yang mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi, serta BENTARA yang mengenalkan flora, fauna, dan lingkungan kepada anak-anak. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Nina Dwi Lestari, S.P., M.Ling.
Baca juga:
RAJA Brawijaya 2026 Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Kuliah
LARISS Perkuat Identitas dan Pemasaran UMKM
Program LARISS diarahkan untuk membantu pelaku UMKM memperkuat identitas produk sekaligus memperluas pemasaran. Pendampingan dilakukan melalui rebranding, pembaruan desain kemasan, serta penerapan smart packaging menggunakan QR Code.

QR Code tersebut dapat memuat informasi produk, profil UMKM, proses pembuatan, manfaat produk, hingga kontak yang dapat dihubungi konsumen.
Mahasiswa juga mengenalkan pemanfaatan media sosial dan e-commerce sebagai sarana pemasaran agar produk lokal Sumbergondo dapat menjangkau konsumen lebih luas.
Salah satu mitra UMKM kopi, Agus Purnomo, mengaku mendapat pemahaman baru mengenai pentingnya kemasan dan strategi pemasaran.
“Kami berterima kasih karena sudah dibantu dan diberikan masukan untuk mengembangkan produk kami. Selama ini kami hanya fokus membuat dan menjual produk, ternyata kemasan dan cara pemasaran juga penting supaya produk lebih menarik bagi pembeli,” ujarnya.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun identitas dan strategi pemasaran yang lebih sesuai dengan perkembangan pasar.
AROMA Ubah Minyak Jelantah Jadi Lilin
Persoalan limbah rumah tangga diangkat mahasiswa melalui program AROMA yang menyasar remaja Forum Anak Desa Sumbergondo.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat edukasi mengenai pengelolaan minyak jelantah sekaligus praktik mengolahnya menjadi lilin aromaterapi.
Minyak jelantah terlebih dahulu direndam dengan arang selama 24 jam, kemudian disaring dan dipanaskan bersama stearic acid dengan perbandingan 1:1. Setelah campuran menghangat, peserta menambahkan essential oil sebelum menuangkannya ke wadah yang telah diberi sumbu.
Kegiatan ini mengenalkan alternatif pemanfaatan minyak jelantah agar tidak langsung menjadi limbah rumah tangga.
Koordinator Dusun Segundu, Muhammad Syafiq Syadidin Azmi, berharap program yang dijalankan mahasiswa dapat tetap dimanfaatkan masyarakat setelah KKN berakhir.
“Harapannya program kerja LARISS dan AROMA ini tidak hanya dilakukan masyarakat selama waktu KKN, tetapi hasil program kerja ini dapat dirasakan masyarakat meskipun masa pelaksanaan kegiatan KKN telah berakhir,” ujarnya.
BENTARA Kenalkan Flora dan Fauna Sejak Dini
Sementara itu, program BENTARA menyasar siswa SDN Sumbergondo 02 di Dusun Tegalsari. Mahasiswa mengenalkan bentang alam Indonesia, media tanam non-tanah seperti hydrogel, cocopeat, rockwool, pupuk kandang, dan arang sekam.

Siswa juga diperkenalkan dengan sejumlah flora dan fauna Nusantara, seperti anggrek hitam, bunga bangkai, Rafflesia arnoldii, gajah, orang utan, dan komodo.
Kegiatan dikemas secara interaktif melalui praktik media tanam hingga pet lovers, yang memberikan kesempatan kepada siswa membawa hewan peliharaan ke sekolah.
Kepala SDN Sumbergondo 02, Aina Asmarani, menilai pengenalan flora dan fauna penting dilakukan sejak usia dini. Salah satunya dengan mengenalkan fungsi ular dalam rantai makanan.
“Pengenalan ular kepada anak-anak merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan peran ular dalam rantai makanan. Sering kali ular yang muncul langsung dibunuh, padahal ular juga memiliki fungsi bagi ekosistem,” ujarnya.
Koordinator Dusun Tegalsari, Aaliyah Lathifah Zuhra, berharap kegiatan tersebut dapat menjadi dasar bagi anak-anak untuk lebih mengenal dan menjaga lingkungan.
“Melalui BENTARA, kami tidak hanya mengenalkan sekilas terkait ekosistem alam, tetapi juga menjelaskan fungsi flora dan fauna bagi ekosistem alam. Harapannya, hal ini dapat menjadi dasar bagi anak-anak untuk lebih menyayangi ekosistem alam yang telah terbentuk,” ujarnya.
Melalui LARISS, AROMA, dan BENTARA, mahasiswa FBiPK UB menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kampus dengan kebutuhan masyarakat Sumbergondo. Program tersebut mencakup penguatan UMKM, pemanfaatan minyak jelantah, serta edukasi lingkungan bagi anak-anak.
Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan diharapkan dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah kegiatan KKN berakhir. (ern)














