Kanal24, Malang – Hari kedua Culture Exchange antara SMA Brawijaya Smart School (BSS) dan Joto High School, Jepang, di halaman SMA BSS, Jumat (7/8/2026), diwarnai pembelajaran budaya Indonesia melalui angklung dan aksara Jawa. Para pelajar asal Jepang tampak antusias memainkan angklung sekaligus menuliskan nama mereka menggunakan aksara Jawa pada instrumen tersebut yang kemudian dibawa pulang ke Jepang sebagai kenang-kenangan.
Berbeda dengan hari pertama yang diisi dengan pertukaran budaya dan penguatan kemampuan berbahasa Inggris, rangkaian kegiatan hari kedua difokuskan pada pembelajaran seni tradisional, presentasi waste management, serta workshop kolaboratif mendaur ulang botol PET. Melalui kegiatan tersebut, siswa dari kedua sekolah tidak hanya saling mengenal budaya, tetapi juga belajar bekerja sama dalam upaya menjaga lingkungan.
Baca Juga:
Rektor UB Tegaskan Riset Harus Beri Dampak Nyata
Belajar Budaya dan Peduli Lingkungan
Pada hari kedua, siswa Joto High School diajak mengenal budaya Indonesia melalui pembelajaran seni tradisional. Mereka belajar memainkan angklung sekaligus menuliskan nama masing-masing menggunakan aksara Jawa pada instrumen tersebut. Angklung yang telah diberi tulisan nama itu kemudian dibawa pulang ke Jepang sebagai kenang-kenangan dari pengalaman mengikuti Culture Exchange di Malang.
Selain mengenalkan budaya Indonesia, kegiatan juga diisi dengan presentasi mengenai waste management dan workshop kolaboratif mendaur ulang botol PET bersama siswa SMA Brawijaya Smart School. Kegiatan tersebut mengajak siswa dari kedua sekolah memahami pentingnya pengelolaan sampah sekaligus memperkuat kolaborasi lintas budaya.
Ketua Pelaksana, Atik Mudia, S.Pd., mengatakan hari kedua Culture Exchange mengusung tiga agenda utama, yakni pembelajaran seni tradisional, presentasi waste management, dan workshop kolaborasi mendaur ulang botol PET.
“Fokus utamanya ada tiga, yaitu pembelajaran seni tradisional, presentasi waste management, dan workshop kolaborasi antara siswa Joto High School dengan siswa SMA Brawijaya Smart School untuk mendaur ulang botol PET,” ujarnya.
Keakraban Makin Erat
Atik menilai antusiasme peserta semakin terlihat pada hari kedua. Menurutnya, para siswa menikmati setiap rangkaian kegiatan dan hubungan antarpeserta dari kedua sekolah pun semakin akrab.
“Terlihat mereka sangat antusias. Mereka bersemangat belajar memainkan alat musik tradisional dan menulis aksara Jawa pada angklung. Kegiatan ini juga semakin mempererat keakraban antara siswa SMA Brawijaya Smart School dan siswa Joto High School,” katanya.
Ia menjelaskan, kedua hari pelaksanaan memiliki fokus yang berbeda. Pada hari pertama, para peserta lebih banyak mengikuti sesi pertukaran budaya dan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Sementara pada hari kedua, mereka diajak mengenal budaya Indonesia secara langsung melalui seni tradisional sekaligus berkolaborasi dalam kegiatan daur ulang.
“Pengalamannya tentu sangat banyak. Pada hari pertama mereka lebih banyak bertukar budaya, kemudian juga meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Terlihat pada hari kedua mereka sudah semakin akrab,” tuturnya.
Atik berharap kerja sama antara SMA Brawijaya Smart School dan Joto High School dapat terus berlanjut sehingga memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa kedua sekolah untuk memperoleh pengalaman belajar lintas budaya.
“Harapannya kerja sama antara SMA Brawijaya Smart School dan Joto High School dapat terus berlanjut sehingga kedua sekolah dapat saling memperoleh pengalaman yang berharga,” pungkasnya. (gal)













