Kanal24, Malang – Di balik padatnya aktivitas perkuliahan, persoalan kesehatan mental mahasiswa menjadi tantangan yang semakin nyata di lingkungan perguruan tinggi. Tidak sedikit mahasiswa datang dengan tekanan akademik, persoalan keluarga, hingga kesulitan beradaptasi dengan kehidupan kampus. Kondisi tersebut mendorong Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) memperkuat peran dosen pembimbing akademik sebagai pendamping pertama yang mampu mengenali persoalan mahasiswa sejak dini.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Konseling Dosen Pembimbing Akademik yang digelar di Auditorium Prof. Ir. Suryono, Lantai 2 Gedung Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Kamis (6/8/2026). Kegiatan yang merupakan bagian dari program strategis Universitas Brawijaya ini bertujuan membekali dosen dengan kemampuan dasar melakukan pendampingan awal terhadap mahasiswa yang menghadapi persoalan akademik maupun nonakademik, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Baca juga:
UB Gandeng KPI Perkuat Riset dan SDM Penyiaran Digital
Dosen Pembimbing Akademik Jadi Garda Terdepan Pendamping Mahasiswa
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FT UB, Ir. L. Tri Wijaya N. Kusuma, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan tindak lanjut instruksi Rektor Universitas Brawijaya yang menjadikan kesehatan mental sebagai salah satu program prioritas universitas.

Menurutnya, dosen pembimbing akademik memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang paling sering berinteraksi dengan mahasiswa selama masa studi. Karena itu, hubungan antara dosen dan mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada urusan administrasi akademik seperti pengisian Kartu Rencana Studi (KRS).
“Kami tidak ingin komunikasi antara dosen pembimbing akademik dan mahasiswa hanya sebatas pengisian KRS atau tanda tangan administrasi. Dosen harus lebih mengenal mahasiswanya, memahami latar belakang keluarganya, serta peka terhadap perubahan kondisi yang dialami mahasiswa,” ujarnya.
Ia menilai banyak persoalan yang dialami mahasiswa berawal dari kondisi di luar kampus, terutama lingkungan keluarga. Ketika memasuki dunia perkuliahan dengan tuntutan yang semakin kompleks, persoalan tersebut dapat berkembang dan berdampak pada proses belajar apabila tidak dikenali sejak awal.
FT UB menargetkan seluruh dosen pembimbing akademik mengikuti pelatihan serupa secara bertahap. Dengan jumlah lebih dari 240 dosen, pelatihan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya mitigasi untuk menekan munculnya kasus kesehatan mental di lingkungan fakultas.
Microcounseling Jadi Bekal Awal bagi Delapan Departemen
Dosen Program Studi Teknik Elektro FT UB, Ir. Sigit Kusmaryanto, M.Eng., mengatakan pelatihan microcounseling dirancang sebagai bekal dasar agar dosen mampu memberikan penanganan awal ketika menemukan mahasiswa yang menghadapi persoalan psikologis maupun akademik.

Pada tahap pertama, pelatihan diikuti lima dosen pembimbing akademik dari masing-masing delapan departemen, yakni Teknik Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Kimia, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Teknik Pengairan, Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Industri.
Menurut Sigit, seluruh dosen pembimbing akademik di Fakultas Teknik ditargetkan mengikuti pelatihan sebelum akhir tahun sebagai bagian dari implementasi program prioritas universitas.
“Yang paling penting pada tahap awal ini adalah membangun awareness bahwa persoalan kesehatan mental mahasiswa harus menjadi perhatian bersama. Dosen memang bukan psikolog, tetapi mereka perlu memiliki pemahaman dasar agar dapat mengenali persoalan sejak dini dan mengarahkan mahasiswa ke layanan yang tepat,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan dosen pembimbing akademik diharapkan dapat mempercepat penanganan mahasiswa sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius dan membutuhkan intervensi yang lebih kompleks.
Pendampingan Harus Menjaga Mahasiswa dan Dosen Sekaligus
Sebagai narasumber pelatihan, Dr. Dra. Ika Widyarini, MLHR., Psi., menyampaikan bahwa tantangan terbesar mahasiswa saat ini bukan hanya persoalan akademik, tetapi juga kesiapan mental menghadapi perubahan ketika memasuki dunia perkuliahan.

Menurutnya, banyak mahasiswa yang sebelumnya tumbuh dalam lingkungan yang sangat protektif sehingga mengalami kesulitan ketika harus menghadapi tuntutan baru di perguruan tinggi. Situasi tersebut membuat dosen pembimbing akademik memiliki peran yang semakin penting, tidak hanya sebagai pembimbing akademik, tetapi juga sebagai teman berdiskusi yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi.
“Kami berharap para dosen pembimbing akademik mampu mengenali persoalan mahasiswa yang dapat memengaruhi prestasi akademiknya. Namun dalam proses pendampingan itu, kesehatan mental dosen juga harus tetap dijaga agar mereka tetap mampu menjalankan perannya secara optimal,” katanya.
Ika menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini bukan menjadikan dosen sebagai psikolog, melainkan membangun kepekaan untuk mengenali tanda-tanda awal persoalan mahasiswa sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat melalui layanan profesional yang tersedia di Universitas Brawijaya.
Melalui pelatihan ini, Fakultas Teknik UB berupaya membangun budaya pendampingan yang lebih dekat dan lebih manusiawi. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental di lingkungan pendidikan tinggi, dosen pembimbing akademik diharapkan tidak lagi sekadar menjadi penandatangan KRS, tetapi hadir sebagai sosok yang mampu mendengar, memahami, dan mengarahkan mahasiswa menuju bantuan yang tepat ketika mereka menghadapi masa-masa sulit. (ern)














