Kanal24, Malang – Akses komunikasi menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi mahasiswa tuli dalam mengikuti pembelajaran di perguruan tinggi. Ketika interaksi akademik bergantung pada komunikasi lisan, keterbatasan akses dapat memengaruhi kesempatan mahasiswa tuli untuk mengikuti proses belajar dan berinteraksi secara mandiri dengan civitas akademika.
Persoalan tersebut mendorong Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Brawijaya mengembangkan VERO (Voice Recognition and Openness), sebuah Learning Management System (LMS) berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk menjembatani komunikasi antara teman tuli, teman dengar, dan dosen.
Baca juga : Saat AI Membantu Mahasiswa Tuli Belajar, UB Kembangkan LMS VERO
Sebagai bagian dari pengembangan, tim bersama dosen pendamping melaksanakan system testing di lingkungan Universitas Brawijaya pada Kamis (30/7). Pengujian dilakukan untuk mengetahui tingkat kebermanfaatan sekaligus penerimaan pengguna terhadap inovasi tersebut.
Ketika Platform Pembelajaran Belum Sepenuhnya Inklusif
Perkembangan platform pembelajaran digital telah mengubah cara perguruan tinggi menyampaikan materi dan membangun interaksi akademik. Namun, akses terhadap teknologi pembelajaran belum selalu berarti akses komunikasi yang setara bagi mahasiswa tuli.
Dalam rilis pengembangan VERO disebutkan, masih terbatas platform pembelajaran digital yang menyediakan fitur untuk mendukung komunikasi dua arah secara real-time menggunakan bahasa isyarat. Kondisi tersebut membuat mahasiswa tuli masih bergantung pada pendamping atau penerjemah bahasa isyarat ketika mengikuti kegiatan akademik.
VERO dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan aksesibilitas yang lebih terintegrasi dalam lingkungan pembelajaran digital.

VERO Menggabungkan AI dan Bahasa Isyarat
VERO mengintegrasikan teknologi Computer Vision dan Deep Learning, dengan dukungan data pelatihan atau dataset berbasis Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung sejumlah fitur dalam VERO, mulai dari menerjemahkan bahasa isyarat menjadi teks, speech-to-text, text-to-speech, digital whiteboard, hingga ruang diskusi pembelajaran daring.
Dengan kombinasi fitur tersebut, VERO diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan komunikasi teman tuli, teman dengar, dan dosen dalam satu lingkungan pembelajaran digital.
Pengguna Langsung Menguji Sistem
System testing di Universitas Brawijaya melibatkan teman tuli dan teman dengar dari civitas akademika sebagai pengguna secara langsung. Peserta mendapat kesempatan mencoba berbagai fitur VERO sekaligus melakukan simulasi komunikasi dalam konteks pembelajaran.
Pengujian juga menjadi ruang bagi tim untuk melihat pengalaman pengguna secara langsung. Peserta dapat memberikan respons terhadap kemudahan penggunaan maupun manfaat sistem, sementara tim memperoleh masukan yang dapat digunakan untuk menyempurnakan pengembangan VERO.

Respons peserta menunjukkan penerimaan positif terhadap inovasi tersebut. Baik teman tuli maupun teman dengar menilai VERO memiliki potensi untuk mendukung pembelajaran yang lebih inklusif di perguruan tinggi.
Salah satu peserta uji coba, Fajrul dari Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya, melihat manfaat VERO dalam membantu teman tuli dan teman dengar memahami komunikasi yang berlangsung.
“Ada manfaatnya, karena orang dengar ataupun orang tuli bisa paham. Contohnya isyarat abjad A, B, C itu bisa muncul di layar melalui gestur tangan.”
Feedback Menjadi Dasar Penyempurnaan
Pengembangan VERO tidak berhenti pada pengujian fitur. Tim juga menyediakan Google Form sebagai media pengisian umpan balik bagi peserta.
Melalui kuesioner tersebut, peserta dapat menyampaikan pengalaman penggunaan, tingkat kemudahan sistem, manfaat yang dirasakan, serta saran pengembangan. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan VERO pada tahap berikutnya.
Pendekatan ini membuat proses pengembangan teknologi tetap berpijak pada pengalaman pengguna. Sistem tidak hanya diuji dari sisi teknis, tetapi juga dilihat dari sejauh mana fitur yang tersedia dapat digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh pengguna.
Ke depan, tim akan terus menyempurnakan fitur maupun performa sistem berdasarkan hasil evaluasi yang diperoleh. Hasil pengujian juga dipublikasikan sebagai bagian dari diseminasi inovasi sekaligus upaya meningkatkan kesadaran mengenai pemanfaatan teknologi untuk mendukung pendidikan inklusif.
Teknologi untuk Pendidikan yang Lebih Setara
Pengembangan VERO sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam mendorong akses pembelajaran yang lebih inklusif bagi mahasiswa dengan kebutuhan komunikasi yang berbeda. Inovasi ini juga mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui upaya mengurangi hambatan komunikasi dalam lingkungan pendidikan tinggi.
Bagi Universitas Brawijaya, pengembangan VERO memperlihatkan bagaimana inovasi mahasiswa dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lingkungan kampus. Hal tersebut sejalan dengan semangat UB Berdampak, ketika pengetahuan, teknologi, dan kreativitas mahasiswa dikembangkan untuk menciptakan manfaat yang dapat dirasakan secara lebih luas.
Melalui VERO, Tim PKM-KC Universitas Brawijaya berharap mahasiswa tuli memiliki kesempatan yang semakin setara untuk berkomunikasi, berpartisipasi, dan berkembang bersama seluruh civitas akademika. Inovasi tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari pengembangan pembelajaran digital yang lebih inklusif dan dapat diadopsi lebih luas oleh perguruan tinggi di Indonesia.














