Kanal24, Malang – Membeli kopi, membayar makanan, hingga berbelanja kini semakin mudah dilakukan tanpa uang tunai. Cukup membuka aplikasi perbankan atau dompet digital, memindai QRIS, memastikan nominal, lalu transaksi selesai. Pola pembayaran yang serba cepat ini semakin dekat dengan keseharian generasi muda yang terbiasa menggunakan smartphone untuk berbagai kebutuhan.
Perubahan tersebut menunjukkan cara masyarakat bertransaksi ikut bergeser seiring perkembangan teknologi. Bagi sebagian generasi muda, pembayaran digital semakin menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Kemudahan dan kecepatan menjadi alasan transaksi melalui QRIS kian diminati, termasuk untuk kebutuhan dengan nominal kecil.
Baca Juga:
Cara Sederhana Menyegarkan Otak di Tengah Aktivitas Padat
QRIS Tumbuh di Tengah Kebiasaan Cashless
Perkembangan QRIS menunjukkan pembayaran digital semakin mendapat tempat dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Bank Indonesia mencatat volume transaksi QRIS mencapai 12,55 miliar transaksi sepanjang semester I 2026, tumbuh 100,12 persen secara tahunan.
Pada periode yang sama, nilai transaksi QRIS mencapai Rp600,69 triliun. Dari sisi ekosistem, QRIS telah menjangkau sekitar 66 juta pengguna dan 44,86 juta merchant hingga akhir Juni 2026. Mayoritas merchant tersebut merupakan pelaku UMKM.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan QRIS tidak lagi hanya digunakan di pusat perbelanjaan atau bisnis berskala besar. Pedagang makanan, kedai kopi, usaha rumahan, hingga berbagai pelaku UMKM kini dapat menyediakan pembayaran digital melalui satu kode yang dapat digunakan oleh berbagai aplikasi pembayaran.
Bagi konsumen, kondisi tersebut membuat transaksi menjadi lebih praktis. Sementara bagi pelaku usaha, kehadiran QRIS membuka akses terhadap pola pembayaran yang semakin bergeser dari tunai menuju digital.
Gen Z Makin Dekat dengan Transaksi Digital
Kedekatan generasi muda dengan smartphone dan layanan internet turut membuat pembayaran digital lebih mudah diterima. Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan uang tunai kini dapat diselesaikan melalui perangkat yang sama untuk berkomunikasi, mencari informasi, hingga berbelanja.
QRIS juga menawarkan proses pembayaran yang sederhana. Pengguna cukup memindai kode, memasukkan atau memastikan nominal, kemudian melakukan konfirmasi. Proses tersebut membuat transaksi sehari-hari terasa lebih ringkas.
Kebiasaan tersebut semakin terlihat ketika QRIS tersedia di berbagai tempat. Dari membeli makanan dan minuman hingga membayar kebutuhan lainnya, pilihan pembayaran digital membuat masyarakat tidak selalu harus menyiapkan uang tunai.
Namun, kemudahan tidak selalu berarti pengelolaan keuangan menjadi lebih baik. Transaksi yang cepat justru membutuhkan kesadaran pengguna untuk tetap memperhatikan pengeluaran.
Sekali Scan, Tetap Harus Bijak
Pembayaran tanpa uang fisik dapat membuat pengeluaran kecil terasa lebih ringan. Padahal, transaksi dengan nominal kecil yang dilakukan berulang kali tetap dapat mengakumulasi pengeluaran dalam jumlah besar.
Karena itu, penggunaan QRIS perlu diimbangi dengan kebiasaan mengatur keuangan. Pengguna dapat mencatat transaksi, menetapkan batas pengeluaran, serta membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan pembayaran.
Keamanan juga tidak boleh diabaikan. Sebelum menyelesaikan transaksi, pengguna perlu memastikan nama penerima, nominal, dan tujuan pembayaran. Langkah sederhana tersebut penting untuk mengurangi risiko salah transaksi maupun penyalahgunaan kode pembayaran.
Pada akhirnya, QRIS bukan sekadar pengganti uang tunai. Pertumbuhannya menunjukkan bagaimana teknologi mengubah kebiasaan masyarakat dalam melakukan pembayaran. Bagi generasi muda, sekali scan memang dapat membuat transaksi langsung beres. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu diikuti kontrol agar gaya hidup cashless tidak berubah menjadi kebiasaan konsumtif. (ndr)














