Kanal24, Malang – Sampah sisa sayur dan makanan rumah tangga yang biasanya langsung dibuang dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos. Cara tersebut dikenalkan Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Kelompok 20 Universitas Brawijaya (UB) kepada 50 Ibu-Ibu PKK RW 1 Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (19/7/2026).
Melalui program “Optimalisasi Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga melalui Biokomposter”, mahasiswa MMD UB mengenalkan pemanfaatan biokomposter sebagai salah satu cara mengolah sampah organik rumah tangga dengan menggunakan bahan bekas seperti ember atau galon.
Kegiatan yang berlangsung di rumah salah satu anggota PKK RW 1 tersebut menghadirkan Imelda Laurent Santosa sebagai pemateri utama. Dalam materi bertajuk “Mengolah Sampah Organik melalui Biokomposter”, Imelda menjelaskan proses pengolahan sampah organik hingga faktor yang memengaruhi keberhasilan pengomposan.
Baca juga: UB dan Mahasiswa MMD Dampingi Pokdakan Klampok, Bangun Desa Lewat Teknologi Bioflok
Program tersebut berangkat dari kebiasaan warga yang masih langsung membuang sisa sayur dan makanan rumah tangga tanpa melalui proses pengolahan. Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sampah dan menimbulkan bau tidak sedap.
Kenalkan Pengolahan Sampah Organik dengan Biokomposter
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada biokomposter yang dapat dibuat menggunakan bahan bekas seperti ember atau galon. Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai jenis bahan organik yang dapat digunakan dalam proses pengomposan.
Bahan tersebut terdiri atas komponen hijau, komponen cokelat, serta bahan pendukung seperti EM4 atau air cucian beras. Selain pemilihan bahan, proses pengomposan turut dipengaruhi ukuran potongan sampah hingga keseimbangan antara bahan basah dan kering.

Materi tersebut juga menjawab kendala yang sebelumnya dialami Ibu-Ibu PKK RW 1. Mereka sempat mencoba membuat biokomposter secara mandiri, tetapi proses pengomposan terkendala dengan munculnya belatung.
“Kalau muncul belatung, itu biasanya karena kondisi isi biokomposter yang tidak seimbang, sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Bau tersebut kemudian mengundang lalat masuk dan bertelur di dalamnya. Solusinya, kita bisa memperbaiki keseimbangan bahan dengan menambahkan bahan kering dan memastikan biokomposter tertutup dengan baik,” jelas Imelda.
Praktik Biokomposter dengan Galon Bekas
Selain penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi langsung pembuatan biokomposter menggunakan dua galon bekas. Proses tersebut dimulai dari pemotongan dan penyusunan galon, pembuatan lubang aerasi, hingga pengisian bahan organik secara bertahap.
Demonstrasi kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti oleh tiga peserta. Antusiasme tertinggi terlihat saat proses demonstrasi pembuatan biokomposter berlangsung.
Baca juga: Hijau dari Rumah: Edukasi Hidroponik dari MMD UB
Dalam kegiatan tersebut, Imelda menyerahkan dua unit biokomposter berbahan galon bekas kepada Ibu-Ibu PKK RW 1 untuk melanjutkan proses pengomposan.
Satu unit telah dibuat dan diisi sejak awal Juli sehingga proses pengomposannya sudah berjalan lebih dahulu. Sementara itu, satu unit lainnya masih dalam kondisi setengah jadi dan digunakan secara langsung dalam demonstrasi.
Setelah pelaksanaan kegiatan, Kelompok MMD 20 akan melakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat perkembangan proses pengomposan pada kedua biokomposter yang telah diserahkan kepada Ibu-Ibu PKK RW 1.
Melalui program ini, Kelompok MMD 20 berharap pemanfaatan biokomposter yang sederhana dan relatif murah dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi penumpukan sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman. (afr)














