Kanal24, Malang – Rencana mendaki Gunung Arjuno-Welirang untuk sementara harus ditunda. Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo membuat seluruh jalur pendakian ditutup mulai 19 Agustus 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Penutupan bukan sekadar soal akses wisata. Di baliknya ada proses pemadaman yang masih berlangsung, medan yang sulit dijangkau, serta risiko keselamatan bagi pendaki jika aktivitas tetap dipaksakan. Hingga 20 Agustus, sebanyak 59 personel gabungan telah dikerahkan untuk menangani titik kebakaran di kawasan Arjuno-Welirang.
Baca juga:
Karhutla 2026 Meluas, El Niño Bukan Satu-satunya Pemicu
Seluruh Jalur Pendakian Ditutup
Kebakaran dilaporkan terjadi pada 18 Agustus 2026 di kawasan Tahura Raden Soerjo. Menyusul kondisi tersebut, UPT Tahura Raden Soerjo menetapkan seluruh aktivitas pendakian Gunung Arjuno-Welirang ditutup sementara mulai 19 Agustus.

Penutupan berlaku untuk seluruh jalur pendakian yang berada di kawasan Tahura. Pengelola juga meminta pendaki maupun calon pendaki tidak melakukan aktivitas pendakian sampai ada pengumuman resmi mengenai pembukaan kembali jalur.
Langkah ini menjadi keputusan yang masuk akal mengingat jalur pendakian berada di kawasan yang sedang menghadapi kebakaran. Memaksakan pendakian ketika petugas masih melakukan penanganan justru dapat menambah risiko.
Apalagi, gunung bukan tempat yang bisa diperlakukan seperti destinasi wisata biasa. Ketika kondisi berubah, rencana perjalanan juga harus ikut berubah.
59 Personel Dikerahkan Padamkan Api
Penanganan kebakaran terus dilakukan oleh tim gabungan. Pada 20 Agustus, sebanyak 59 personel dari unsur Polisi Hutan, Manggala Agni, BPBD, relawan, hingga Masyarakat Peduli Api dikerahkan menuju lokasi.
Tim pemadam menggunakan jalur Sumber Brantas, Kota Batu, karena akses tersebut dinilai lebih mudah untuk mencapai titik api yang sempat mengarah ke wilayah Batu. Sebelumnya, tim pertama telah ditarik setelah berhasil memadamkan sejumlah titik dan kemudian digantikan tim berikutnya.
Kondisi medan menjadi salah satu tantangan utama. Pemadaman tidak bisa dilakukan dengan sekadar mendatangi lokasi menggunakan kendaraan, sehingga sebagian proses harus dilakukan secara manual oleh petugas di lapangan.
Di sisi lain, BPBD Jawa Timur juga menyiapkan skema water bombing. Namun, metode pemadaman dari udara belum bisa dilakukan karena kondisi cuaca di kawasan pegunungan belum memungkinkan. Kabut tebal membuat helikopter kesulitan melihat titik api dari udara.
Pendaki Bisa Reschedule Tiket
Penutupan tentu berdampak kepada pendaki yang sudah merencanakan perjalanan atau bahkan membeli tiket sebelumnya.
Pengelola menyediakan mekanisme reschedule bagi pendaki yang terdampak penutupan. Namun, penjadwalan ulang baru dapat dilakukan setelah jalur pendakian secara resmi dinyatakan dibuka kembali.
Artinya, pendaki tidak perlu terburu-buru mencari tanggal pengganti sebelum ada kepastian pembukaan jalur.
Informasi mengenai pembukaan kembali juga penting diperhatikan karena keputusan tersebut akan bergantung pada kondisi kawasan dan hasil penanganan kebakaran.
Jangan Paksa Naik Saat Jalur Ditutup
Bagi sebagian pendaki, pembatalan perjalanan mungkin terasa menyebalkan. Jadwal sudah disusun, perlengkapan sudah disiapkan, bahkan cuti bisa saja sudah diajukan.
Tetapi ada asumsi yang perlu diluruskan: mendaki bukan sekadar soal kesiapan fisik pendaki.
Kondisi gunung juga menjadi bagian dari perhitungan.
Ketika kebakaran masih ditangani, memaksakan pendakian bukan bentuk keberanian. Justru bisa menambah persoalan bagi tim yang sedang bekerja di lapangan.
Petugas harus fokus menangani kebakaran tanpa dibebani pencarian atau evakuasi pendaki yang nekat masuk kawasan tertutup.
Di titik ini, menunda pendakian justru menjadi bentuk tanggung jawab.
Arjuno Bukan Sekadar Destinasi Wisata
Kebakaran di Arjuno-Welirang juga mengingatkan bahwa kawasan pegunungan memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat mengejar puncak.
Tahura Raden Soerjo merupakan kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai flora dan fauna. Ketika kebakaran terjadi, dampaknya tidak berhenti pada tertutupnya jalur pendakian.
Ekosistem ikut terdampak.
Karena itu, pembukaan kembali jalur seharusnya tidak hanya dilihat dari pertanyaan “kapan bisa mendaki lagi?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kawasan sudah cukup aman bagi manusia dan cukup siap untuk menerima kembali aktivitas wisata.
Jawabannya tentu tidak bisa dipaksakan mengikuti kalender liburan.
Menunggu Gunung Kembali Aman
Untuk sementara, pendaki harus menunda rencana menuju Arjuno-Welirang dan menunggu informasi resmi dari pengelola.
Pemadaman masih menjadi prioritas. Puluhan personel telah dikerahkan, sementara upaya pemadaman udara masih terkendala kondisi cuaca.
Bagi pendaki yang sudah memiliki tiket, mekanisme reschedule tetap tersedia setelah jalur resmi dibuka kembali.
Jadi, tidak perlu memaksakan perjalanan hanya demi mengejar tanggal yang sudah direncanakan. (ern)













