Kanal24, Malang – Dawai Cempluk mulai diarahkan menjadi identitas kreatif Kampung Cempluk, Dau, Kabupaten Malang. Alat musik berbahan kayu yang dibuat masyarakat setempat tersebut tidak hanya dikembangkan sebagai produk seni, tetapi juga diperkuat dari sisi merek, perlindungan karya, produksi, hingga pemasaran digital.
Upaya tersebut dikembangkan Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) melalui program pengabdian “Resonansi Kayu: Dawai Cempluk sebagai Identitas Bunyi Kampung Lingkar Kampus UB” pada Jumat (3/7/2026). Kegiatan ini mencakup pendampingan branding, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), penyusunan buku digital, hingga penguatan produksi dan pemasaran digital masyarakat.
Baca Juga:
UB Kirim Logistik dan Tim Kesehatan untuk Korban Bencana NTT
Dawai Cempluk Dibangun sebagai Identitas Kampung
Ketua pelaksana program, Pramadika Ramanda, S.T., M.AB., mengatakan Dawai Cempluk memiliki karakter yang lahir dari keterampilan tangan, kreativitas masyarakat, dan nilai budaya lokal. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi identitas yang membedakan Kampung Cempluk dari kawasan lain.

“Dawai Cempluk memiliki karakter yang kuat karena lahir dari perpaduan antara keterampilan tangan, kreativitas masyarakat, dan nilai budaya lokal. Melalui pendampingan ini, kami ingin membantu masyarakat membangun identitas yang lebih kuat agar karya mereka dapat dikenal lebih luas,” ujar Pramadika.
Menurutnya, pengembangan identitas menjadi penting karena potensi Dawai Cempluk masih menghadapi sejumlah tantangan. Identitas merek belum optimal, perlindungan kekayaan intelektual masih terbatas, modul pembelajaran belum terstandar, sementara pemanfaatan media digital untuk promosi juga masih perlu diperkuat.
Karena itu, tim pengabdian UB melakukan pendampingan untuk membangun brand identity Kampung Cempluk sebagai Sound Destination. Identitas tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai konsep visual, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan karya masyarakat kepada publik yang lebih luas.
HAKI dan Digitalisasi Tingkatkan Nilai Produk
Pengembangan Dawai Cempluk juga diarahkan pada perlindungan karya masyarakat. Tim mendorong pengajuan HAKI kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) sebagai langkah untuk memberikan perlindungan hukum sekaligus memperkuat nilai ekonomi produk kreatif lokal.
Hingga tahap pelaksanaan awal, program telah mencapai sekitar 70 persen dari target kegiatan. Capaian tersebut mencakup sosialisasi dan pendampingan kepada pengrajin serta masyarakat, penyusunan identitas merek, produksi konten promosi digital, penyelesaian buku panduan digital Dawai Cempluk, hingga pengajuan dokumen HAKI.
Buku Panduan Digital Dawai Cempluk telah memperoleh nomor ISBN. Dokumen HAKI juga telah disusun dan diajukan serta memperoleh nomor pendaftaran DJKI. Di sisi lain, identitas visual dan media promosi digital Kampung Cempluk mulai dikembangkan sebagai bagian dari strategi pemasaran.
Program tersebut juga menghadirkan workshop mengenai standardisasi produksi, branding, dan pemasaran digital. Materi tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran melalui kanal digital.
Kapasitas Produksi Masih Jadi Tantangan
Mahasiswa Fakultas Vokasi UB turut dilibatkan dalam pelaksanaan program. Keterlibatan mereka mencakup administrasi, dokumentasi, sosialisasi kepada masyarakat, hingga pengembangan konten promosi digital.
Bagi mahasiswa, keterlibatan tersebut menjadi ruang untuk menerapkan kompetensi akademik secara langsung. Sementara bagi masyarakat, kehadiran mahasiswa membantu memperkuat proses pendampingan, khususnya dalam pengelolaan informasi dan promosi melalui media digital.
Meski sejumlah luaran telah tercapai, pengembangan Dawai Cempluk masih menghadapi tantangan. Salah satunya kapasitas produksi yang masih bergantung pada satu pengrajin utama. Kondisi tersebut membuat keberlanjutan produksi dan pengembangan pasar menjadi pekerjaan lanjutan yang perlu diperhatikan.
Tim pengabdian kemudian mendorong keterlibatan lebih banyak pengrajin serta kaderisasi generasi muda agar keterampilan membuat Dawai Cempluk tidak berhenti pada satu generasi. Pengembangan katalog produk, optimalisasi media sosial mitra, distribusi buku panduan digital, dan publikasi hasil pengabdian juga menjadi bagian dari langkah lanjutan.
Dengan penguatan identitas, perlindungan karya, serta pemanfaatan teknologi digital, Dawai Cempluk diarahkan untuk tidak sekadar menjadi produk kerajinan. Produk tersebut diharapkan dapat tumbuh sebagai penanda kreativitas Kampung Cempluk sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. (ndr/nid)














