Kanal24, Malang – Tidak semua orang melihat dunia dengan cara yang sama. Bagi Juwita Mireya, tokoh utama dalam novel Lukisan Tanpa Warna karya Tarisa, dunia hadir tanpa warna. Namun, persoalan terbesar dalam hidupnya bukan hanya bagaimana menjalani hari dengan kondisi tersebut, melainkan bagaimana menerima diri ketika orang terdekat justru membuat sebuah kekurangan terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan.
Melalui kisah Juwita, Lukisan Tanpa Warna membawa pembaca pada cerita tentang kesepian, keluarga, persahabatan, impian, dan penerimaan diri. Novel yang dipasarkan sebagai karya fiksi romansa ini tidak berhenti pada hubungan Juwita dengan Elang Ragasta, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seseorang berusaha menemukan keberanian untuk tetap menjadi dirinya sendiri di tengah penilaian orang lain.
Baca juga:
Penulis UB Tembus Residensi Sastra Internasional di Arab Saudi
Juwita dan Sketchbook Tanpa Warna
Juwita memiliki sebuah sketchbook yang menjadi tempatnya menuangkan perasaan. Ia mengisinya dengan lukisan tanpa warna, sebuah gambaran yang sekaligus merepresentasikan kondisi yang dialaminya.

Dalam cerita, Juwita terlahir dengan buta warna total. Kondisi tersebut membuatnya memilih berhati-hati dalam berinteraksi dengan lingkungan. Terlebih, sang ibu menganggap kekurangan tersebut sebagai sesuatu yang memalukan bagi keluarga.
Di sinilah konflik emosional cerita mulai terbentuk. Juwita bukan hanya berhadapan dengan keterbatasan yang dimilikinya, tetapi juga dengan pandangan orang lain terhadap keterbatasan tersebut.
Padahal, buta warna bukan berarti seseorang tidak mampu melihat sama sekali. Kondisinya juga beragam, mulai dari gangguan membedakan warna tertentu hingga kondisi yang sangat jarang berupa buta warna total.
Elang Membawa Warna Berbeda
Kehidupan Juwita mulai berubah ketika Elang Ragasta hadir. Elang merupakan laki-laki yang memiliki impian menjadi gitaris.
Pertemuan keduanya perlahan membuat kehidupan Juwita yang sebelumnya terasa sepi menjadi lebih berwarna, meskipun secara harfiah ia tetap tidak dapat melihat warna seperti kebanyakan orang.
Elang juga memiliki persoalan sendiri. Ia berusaha memperjuangkan keinginannya bermain musik di hadapan sang ibu yang memiliki luka masa lalu.
Hubungan keduanya kemudian menjadi ruang bagi masing-masing tokoh untuk belajar memahami kehidupan. Juwita belajar membuka diri, sementara Elang berusaha menghadapi persoalan yang selama ini menghambat langkahnya.
Ketika Kekurangan Dijadikan Senjata
Konflik semakin berkembang ketika kedekatan Juwita dan Elang menarik perhatian Naya, siswi ambisius yang juga mengikuti seleksi Klub Seni Senja bersama Juwita.
Naya mengetahui kondisi Juwita dan menggunakannya sebagai alat untuk menekan Elang. Ancaman tersebut membuat rahasia yang selama ini berusaha disembunyikan Juwita kembali menjadi persoalan.
Bagian ini menjadi salah satu sisi yang menarik dari novel. Kekurangan seseorang ternyata dapat berubah menjadi sumber tekanan ketika lingkungan tidak mampu melihat manusia di balik kondisi tersebut.
Cerita pun tidak hanya berbicara mengenai cinta. Ada persoalan tentang stigma, rasa malu, tekanan keluarga, dan kebutuhan untuk diterima apa adanya.
Lukisan Menjadi Suara Juwita
Bagi Juwita, melukis bukan sekadar kegiatan seni. Sketchbook menjadi tempat untuk menyimpan emosi yang tidak mampu ia sampaikan secara langsung.
Menariknya, lukisan tanpa warna justru menjadi simbol yang cukup kuat dalam cerita. Juwita mungkin tidak dapat menikmati warna sebagaimana orang lain, tetapi ia tetap memiliki cara sendiri untuk memahami keindahan.
Dari sini, judul novel terasa tidak hanya menggambarkan kondisi tokoh utama. “Tanpa warna” juga dapat dibaca sebagai gambaran kehidupan Juwita yang sempat terasa kosong karena terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang rasa takut dan penolakan.
Bukan Sekadar Romansa Remaja
Jika hanya melihat premisnya, Lukisan Tanpa Warna memang mudah ditempatkan sebagai novel romansa remaja. Ada pertemuan dua tokoh, kedekatan yang berkembang, konflik hubungan, hingga persoalan cinta pura-pura.
Namun, lapisan ceritanya menawarkan persoalan yang lebih luas.
Juwita berbicara tentang penerimaan diri. Elang membawa persoalan tentang keberanian mengejar mimpi. Sementara konflik dengan Naya memperlihatkan bagaimana kelemahan seseorang dapat dieksploitasi ketika empati tidak ditempatkan sebagai dasar hubungan.
Karena itu, kekuatan cerita bukan semata pada siapa yang akhirnya bersama siapa. Pertanyaan yang lebih penting justru bagaimana para tokohnya menghadapi keadaan yang tidak bisa mereka pilih.
Penerimaan Diri Jadi Benang Merah
Pada akhirnya, perjalanan Juwita menjadi bagian paling menarik untuk diperhatikan. Ia tidak tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang sepenuhnya percaya diri. Prosesnya berlangsung melalui hubungan, konflik, kesepian, dan keberanian untuk menghadapi apa yang selama ini ia sembunyikan.
Hal tersebut membuat cerita terasa cukup dekat dengan pembaca muda. Banyak orang mungkin tidak mengalami kondisi seperti Juwita, tetapi hampir setiap orang pernah merasa berbeda, takut dinilai, atau berusaha menyembunyikan bagian dirinya yang dianggap tidak sesuai dengan harapan orang lain.
Di titik itulah Lukisan Tanpa Warna memiliki ruang untuk berbicara lebih jauh dari sekadar kisah cinta.
Juwita mungkin tidak melihat dunia dalam warna yang sama seperti orang lain. Namun, cerita ini justru mengingatkan bahwa warna kehidupan tidak selalu ditentukan oleh apa yang terlihat mata. (ern)













