Kanal24, Malang – Perjalanan ke tempat baru bagi penulis tidak hanya membuka kesempatan untuk melihat budaya yang berbeda, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menemukan cerita dan mengembangkan kreativitas. Pengalaman itu dirasakan Sendang Pradani saat mengikuti Retreat & Residency 2025 di Taif City of Literature, Arab Saudi, yang mempertemukannya dengan penulis dari berbagai negara.
Program yang diselenggarakan Literature, Publishing, & Translation Committee di bawah Ministry of Culture, Saudi Arabia tersebut memilih 10 novelis dari berbagai negara melalui proses seleksi. Bagi Sendang, kesempatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk mengembangkan novel, tetapi juga memperluas jejaring, bertukar pengalaman, serta mengenal perspektif kepenulisan dari lintas budaya.
Baca Juga:
SMART Drone UB Juarai Kompetisi Internasional
Berawal dari Informasi di Media Sosial
Kesempatan mengikuti residensi bermula ketika Sendang menemukan informasi program melalui akun Instagram @melbournecityofliterature. Ia kemudian mempelajari persyaratan dan mengirimkan sejumlah dokumen, mulai dari CV, portofolio karya yang telah terbit, hingga motivation letter.
Tahap berikutnya, penyelenggara meminta pelamar mengirimkan draf karya. Sendang melengkapinya dengan contoh satu bab serta writer’s intention yang menjelaskan tujuan penulisan novel tersebut. Dari pelamar yang berasal dari berbagai negara, penyelenggara kemudian memilih 10 orang untuk mengikuti residensi.
Program 2025 juga memiliki fokus berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya residensi ditujukan bagi penulis puisi, edisi 2025 secara khusus mencari novelis dengan karya berbahasa Inggris atau Prancis. Karya yang dihasilkan peserta juga berpeluang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Menulis dan Menemukan Cerita di Taif
Selama program berlangsung, kegiatan peserta terbagi dalam aktivitas kepenulisan dan cultural visit. Dalam kegiatan kepenulisan, peserta mendapat kesempatan menulis, berdiskusi, sekaligus memperoleh bimbingan dari Dr. Mazen Al-Harthi dari Taif University.

Peserta secara bergantian mempresentasikan naskah dan memberikan masukan satu sama lain. Interaksi juga berlangsung melalui poetry reading setiap malam serta kegiatan makan bersama.

Perkampungan tua yang sudah ditinggalkan penghuninya lebih dari enam dekade silam.
Sementara itu, kunjungan ke sejumlah situs bersejarah menjadi bagian yang paling dinanti. Taif yang berada di dataran tinggi memiliki suasana sejuk sekaligus menyimpan banyak cerita sejarah. Kondisi tersebut dimanfaatkan Sendang untuk melakukan riset lapangan, mulai dari mengunjungi tempat bersejarah, berbincang dengan penduduk lokal, hingga mengamati kehidupan masyarakat.
Dalam karyanya, Sendang mengangkat salah satu tradisi di Pulau Jawa dan mengaitkannya dengan budaya Arab Saudi. Meski demikian, peserta tidak diwajibkan mengangkat tema tertentu. Karya yang dikembangkan para peserta memiliki tema beragam, mulai dari jin, kriminal, historical fiction, hingga bencana.
Keluar Zona Nyaman dan Memperluas Jejaring
Pengalaman di Taif turut memengaruhi proses kreatif Sendang. Ia mengaku memperoleh banyak ide selama residensi, bahkan hingga beberapa bulan setelah kembali ke Indonesia.
“Konon, melakukan perjalanan otomatis mengubah seseorang menjadi penutur cerita. Hal itu benar adanya,” ujar Sendang.
Menurutnya, residensi juga membuktikan bahwa proses kreatif tidak selalu harus berlangsung di tempat yang biasa. Lingkungan baru dan minim distraksi membuatnya lebih fokus. Interaksi dengan penulis yang memiliki latar belakang sebagai penerjemah, akademisi creative writing, jurnalis, penyair, hingga seniman turut memperkaya perspektifnya.
Dari pengalaman tersebut, Sendang mengembangkan novel atau novel anak yang setara dengan jenjang C dalam perjenjangan buku anak di Indonesia. Ia juga memperoleh gagasan untuk mengembangkan buku anak bertema Islami dan cerpen fiksi.
Lebih dari sekadar perjalanan, residensi tersebut memberikan exposure internasional, jejaring lintas negara, peluang penerbitan, serta persahabatan baru. Program yang fully funded juga menyediakan tempat tinggal, ruang kerja, dan biaya penerbangan dari serta menuju Taif.
Ke depan, Sendang ingin terus berkarya sekaligus membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada penulis lain. Ia mendorong penulis muda untuk berani mencoba kesempatan internasional.
“Jangan pernah takut mencoba. Kita tidak pernah tahu pintu mana yang terbuka setelah kita mencoba mengetuknya,” tuturnya. (ndr)














