Kanal24, Malang – Spider-Man: Brand New Day membawa Peter Parker memasuki fase yang jauh lebih sepi. Setelah peristiwa Spider-Man: No Way Home, Peter harus menerima kenyataan bahwa orang-orang terdekatnya tidak lagi mengingat keberadaannya. Kali ini, kesendirian bukan sekadar latar cerita, tetapi menjadi bagian penting dari perjalanan karakter yang dimainkan Tom Holland.
Film arahan Destin Daniel Cretton ini mencoba menggeser Spider-Man dari sosok remaja yang penuh rasa ingin tahu menjadi pahlawan yang lebih matang, keras, dan terbebani. Hasilnya cukup menarik karena film tidak hanya mengandalkan kostum, aksi, dan efek visual, tetapi juga mencoba menggali sisi manusia Peter Parker. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya membuat Brand New Day terasa sebagai sesuatu yang benar-benar baru.
Baca Juga:
Mengapa Film 3726 MDPL Banyak Dinanti? Ini 7 Fakta Menarik Garapan Falcon Pictures
Peter Parker Lebih Gelap dan Personal
Perubahan terbesar film ini ada pada karakter Peter. Ia digambarkan sebagai sosok yang lebih mandiri dan terisolasi. Kehidupan sebagai Spider-Man berjalan hampir tanpa jeda, sementara kehidupan personalnya seperti berhenti sejak pengorbanan di film sebelumnya.
Pendekatan tersebut membuat Tom Holland mendapatkan ruang lebih besar untuk menunjukkan sisi emosional Peter. Ia tidak lagi terlalu bergantung pada karakter pendukung untuk membangun daya tarik cerita. Kesepian, rasa kehilangan, dan keinginan untuk tetap menjalankan tanggung jawab sebagai Spider-Man menjadi konflik yang lebih terasa.
Hal ini sejalan dengan ulasan The Guardian yang melihat Brand New Day sebagai babak yang lebih muram bagi Peter, terutama melalui persoalan hubungan dan kondisi psikologisnya. Namun, media tersebut juga menilai Zendaya sebagai salah satu kekuatan emosional film.
Aksi Memuaskan, Cerita Kadang Terlalu Padat
Secara visual, Brand New Day masih memberikan alasan untuk menikmati pengalaman layar lebar. Adegan pertarungan terasa lebih intens dan Spider-Man tampil sebagai pahlawan jalanan yang lebih dekat dengan akar karakter.

Kehadiran Jon Bernthal sebagai Frank Castle atau The Punisher juga memberikan warna berbeda. Alih-alih menjadikan film sekadar pertunjukan CGI, konflik dibuat lebih dekat dengan persoalan kriminalitas dan konsekuensi menjadi pahlawan.
Masalahnya, film ini terkadang terasa terlalu sibuk. Variety menilai film memiliki aksi yang kuat dan pendekatan lebih dewasa, tetapi perjalanan ceritanya terasa berat dan terlalu panjang.
Sementara itu, Time Out memberi nilai 3 dari 5 dan menilai Tom Holland serta Zendaya tetap menjadi daya tarik utama, meski film secara keseluruhan belum sepenuhnya keluar dari formula superhero yang sudah akrab.
Zendaya dan Holland Menjadi Kekuatan Utama

Di tengah berbagai konflik dan aksi, hubungan Peter dan MJ justru menjadi bagian yang paling mudah diingat. Chemistry Tom Holland dan Zendaya membuat konflik emosional terasa lebih manusiawi. Keduanya tidak hanya menjual kisah romantis, tetapi juga memperlihatkan konsekuensi ketika dua orang yang pernah dekat harus berhadapan dengan jarak dan ingatan yang tidak lagi sama.
Menariknya, respons kritikus terhadap film ini cukup beragam. Tom’s Guide justru menilai Brand New Day mampu mengembalikan energi Marvel melalui perpaduan emosi dan aksi, serta memberi nilai 4 dari 5.
Perbedaan penilaian tersebut memperlihatkan posisi film ini: Brand New Day bukan film Spider-Man yang sempurna, tetapi juga bukan sekadar pengulangan. Kekuatan utamanya berada pada Peter Parker yang lebih dewasa dan konflik personal yang lebih kuat.
Pada akhirnya, Spider-Man: Brand New Day berhasil ketika memilih menjadi cerita tentang manusia di balik topeng. Film ini kurang maksimal ketika terlalu sibuk menambah konflik dan elemen superhero.
Jika penonton mencari Spider-Man yang lebih gelap, emosional, dan personal, film ini cukup layak disaksikan. Namun, jika ekspektasinya adalah sebuah revolusi besar dalam waralaba, Brand New Day masih terasa seperti langkah baru yang berjalan di jalur lama. (ndr)













