Kanal24, Malang – Ingatan tentang sejarah tidak selalu tersimpan dalam buku atau ruang-ruang formal. Bagi masyarakat kampung, ingatan juga hidup melalui ruang sosial, kebiasaan, serta hubungan antarwarga yang terbentuk dari waktu ke waktu. Karena itu, kampung dipandang memiliki peran penting dalam menjaga identitas sekaligus membangun solidaritas masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi “Dekolonisasi Ruang & Ingatan: Strategi Dekolonial & Solidaritas Organik dari Kampung” yang digelar di Rendezvous Kalimetro Ruang Baca & Toko Buku, Jalan Joyosuko Metro No. 42, Merjosari, Kota Malang, Jumat (21/8/2026). Kegiatan menghadirkan Redy Eko Prastyo, Pegiat Kampung Cempluk sekaligus Dosen Vokasi UB, Abd. Mu’id Aris Shofa, Sejarawan sekaligus Dosen FIS UM, serta Salman J. Mahua selaku pengelola ruang baca dan toko buku.
Baca Juga:
Ruang Digital dan Resiko Perlindungan Anak
Menghidupkan Kembali Ruang Diskusi
Sejarawan sekaligus Dosen FIS UM Abd. Mu’id Aris Shofa mengatakan, diskusi tersebut dilatarbelakangi kebutuhan untuk kembali menghidupkan ruang-ruang dialog di tengah masyarakat. Menurutnya, ruang diskusi menjadi penting ketika masyarakat perlu membaca kembali hubungan antara sejarah masa lalu dengan kondisi kehidupan saat ini.

“Ruang-ruang diskusi itu harus kita hidupkan kembali,” ujar Mu’id.
Ia menjelaskan, dekolonisasi tidak hanya berkaitan dengan upaya melihat kembali sejarah masa lalu. Lebih dari itu, masyarakat perlu mengonstruksi kembali memori tersebut dengan perspektif yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam konteks tersebut, kampung memiliki posisi penting sebagai basis sosial masyarakat. Kampung menjadi ruang tempat masyarakat tumbuh, berinteraksi, dan membangun kehidupan sosial secara langsung.
“Kampung menjadi basis sosial yang sangat mendasar bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Mu’id, setiap kampung memiliki ciri khas dan karakter yang dapat menjadi kekuatan sosial. Keberagaman tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga memori masyarakat sehingga sejarah tidak hanya dipahami melalui satu narasi.
Kampung sebagai Ruang Strategis
Pegiat Kampung Cempluk sekaligus Dosen Vokasi UB Redy Eko Prastyo melihat kampung sebagai ruang strategis untuk memperkuat kehidupan sosial. Menurutnya, kampung memiliki karakter organik karena hubungan di dalamnya tumbuh dari interaksi dan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

“Kata kampung itu tidak ada di konteks struktural. Sebetulnya kampung itu menjadi nama ruang yang sangat organik,” jelas Redy.
Ia menilai posisi kampung, termasuk Kampung Cempluk yang berada di kawasan lingkar kampus, dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan kehidupan sosial. Kampung bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang yang memungkinkan masyarakat membangun relasi dan kerja kolektif.
Namun, menurut Redy, solidaritas masyarakat kampung menghadapi tantangan di tengah perkembangan teknologi informasi. Untuk menjaga hubungan sosial tersebut, ia melihat tiga aspek yang dapat menjadi pemantik kerja bersama, yakni ekologi, budaya, dan ekonomi.
Ketiga aspek itu dinilai dapat memperkuat kekerabatan serta kerja kolektif masyarakat. Kehidupan kampung, kata Redy, tidak dapat berjalan secara individual karena setiap warga memiliki keterkaitan satu sama lain.
“Penguatan solidaritasnya juga dengan penguatan spirit kebersamaan dan penguatan di aspek empati,” tuturnya.
Literasi untuk Merawat Ingatan
Pengelola ruang baca dan toko buku Salman J. Mahua mengatakan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem literasi di kalangan mahasiswa dan masyarakat sekitar. Ruang baca diharapkan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang untuk bertemu dan bertukar gagasan.

“Yang pertama kita ingin membangun ekosistem literasi dalam kalangan mahasiswa maupun masyarakat sekitar,” kata Salman.
Menurutnya, tema dekolonisasi ruang dan ingatan relevan dibahas saat ini karena generasi muda perlu kembali memahami sejarah. Pemahaman tersebut juga perlu disertai kemampuan melihat beragam tafsir terhadap peristiwa sejarah.
“Sekarang banyak dari kita generasi muda lupa akan sejarah dan juga melihat tafsir-tafsir dari sejarah itu sendiri,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menyasar mahasiswa, masyarakat sekitar, serta komunitas literasi. Pertemuan berbagai kelompok dalam satu ruang diskusi diharapkan dapat membuka percakapan mengenai sejarah dan kehidupan masyarakat dari perspektif yang lebih dekat dengan pengalaman warga.
Diskusi dekolonisasi tersebut menunjukkan bahwa kampung memiliki posisi lebih dari sekadar ruang permukiman. Melalui ingatan kolektif, interaksi sosial, serta penguatan ekologi, budaya, ekonomi, dan literasi, kampung dapat menjadi ruang untuk mempertahankan identitas sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat di tengah perubahan zaman. (ndr)














