Kanal24, Malang – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan teknologi wearable yang dirancang untuk membantu menangani tantrum pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Bernama ADAPT-V, rompi pintar ini mampu mendeteksi tanda-tanda stres fisiologis dan memberikan tekanan terkontrol secara otomatis.
ADAPT-V dikembangkan berbasis Deep Pressure Therapy (DPT) untuk memberikan tekanan terkontrol pada tubuh anak. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu meminimalkan risiko terjadinya tantrum sekaligus memberikan sensasi nyaman bagi anak dengan ASD.
Inovasi ini berangkat dari persoalan sensory processing yang kerap dihadapi anak dengan ASD. Respons emosional terhadap rangsangan tertentu dapat memicu perilaku tantrum yang tidak terkendali.
Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB, Muhammad Nafis Khilmi, menjelaskan latar belakang psikologis di balik pengembangan ADAPT-V.
“Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik, yang dampaknya bisa memunculkan perilaku menangis, berteriak, menendang, hingga tindakan agresif yang membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar. Melalui ADAPT-V, kami menerapkan metode Deep Pressure Therapy (DPT) dengan memberikan tekanan terkontrol pada tubuh untuk menghadirkan sensasi nyaman menyerupai pelukan hangat yang telah terbukti efektif memberikan efek relaksasi,” ujar Nafis.
Baca juga: Dawai Cempluk Dikembangkan Vokasi UB sebagai Identitas Kampung
Deteksi Tantrum secara Otomatis
Terapi sejenis sebelumnya dapat dilakukan menggunakan alat manual seperti Snug Vest. Namun, rompi konvensional tersebut masih memiliki keterbatasan karena membutuhkan pengawasan penuh dari terapis atau orang tua untuk mengatur tekanan secara manual.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, ADAPT-V mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (Machine Learning) sehingga sistem dapat bekerja secara otomatis dan real-time.
Ketua tim pengembang, Zakky Yahya dari Program Studi Teknik Elektro UB, menjelaskan ADAPT-V menggunakan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak.
Data dari kedua sensor kemudian dianalisis menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM) untuk mendeteksi ketika anak mulai mengalami fase tantrum.
“Untuk mengatasi keterbatasan rompi manual, ADAPT-V dirancang bekerja secara otomatis dan bekerja secara real-time. Kami menanamkan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak. Data dari kedua sensor fisik ini kemudian dianalisis secara cerdas oleh algoritma Support Vector Machine (SVM) guna mendeteksi secara presisi kapan anak mulai mengalami fase tantrum,” jelas Zakky.
Ketika fase tantrum terdeteksi, mikrokontroler ESP32 secara otomatis mengaktifkan pompa udara (micro air pump DC) untuk mengisi kantung udara di dalam rompi.
Atur Tekanan Udara dalam Batas Aman
Selain mendeteksi kondisi anak secara otomatis, ADAPT-V dilengkapi sistem yang mengatur tekanan udara pada rompi.
Anggota tim dari Teknik Elektro, Sugih Rizkiawan, menjelaskan sistem menggunakan algoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP.
Algoritma tersebut digunakan untuk menjaga tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang telah ditentukan. Ketika sistem mendeteksi kondisi emosi anak kembali tenang, katup solenoid (solenoid valve) akan terbuka secara perlahan untuk mengempiskan rompi.
“Kunci keamanan rompi ini terletak pada kendali algoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP. Algoritma ini memastikan tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang ditentukan. Ketika sistem mendeteksi kondisi emosi anak telah kembali tenang (tidak tantrum), katup solenoid (solenoid valve) akan terbuka perlahan untuk mengempiskan rompi secara otomatis,” tambah Sugih.
Baca juga: Saat AI Membantu Mahasiswa Tuli Belajar, UB Kembangkan LMS VERO
Terhubung dengan Aplikasi melalui IoT
ADAPT-V tidak hanya mengandalkan otomatisasi pada rompi, tetapi juga terintegrasi dengan ekosistem digital berbasis Internet of Things (IoT).
Data aktivitas anak dan respons rompi dikirimkan secara langsung menggunakan koneksi Wi-Fi ke aplikasi smartphone. Melalui sistem tersebut, orang tua dan terapis dapat melakukan pemantauan kondisi anak dari jarak jauh secara real-time.
Pengembangan ADAPT-V didanai melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Program tersebut berada di bawah bimbingan dosen Teknik Elektro, Ir. Nurussa’adah, M.T., dan dosen Kedokteran, DR. dr. Agung Riyanto Budi S, SpOT.
Keamanan Jadi Fokus Pengujian
Dosen pembimbing teknis, Ir. Nurussa’adah, M.T., menegaskan bahwa keandalan dan keamanan produk menjadi fokus utama dalam proses pengujian ADAPT-V.
Pengujian dilakukan mulai dari akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udara. Evaluasi juga melibatkan terapis dari lembaga pendidikan inklusif untuk melihat aspek kenyamanan, keamanan medis, dan kemudahan penggunaan alat.
“Pengembangan ADAPT-V ini melalui tahapan pengujian yang sangat ketat, mulai dari akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udaranya. Kami juga melibatkan evaluasi langsung dari para terapis di lembaga pendidikan inklusif demi menjamin aspek kenyamanan, keamanan medis, serta kemudahan operasional alat saat diaplikasikan langsung pada anak,” terang Nurussa’adah.
Pengembangan ADAPT-V melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu, yaitu teknik elektro, kedokteran, dan psikologi. Melalui inovasi tersebut, tim berharap ADAPT-V dapat menjadi solusi berkelanjutan yang memberikan dampak bagi masyarakat luas.
ADAPT-V menjadi salah satu bentuk pengembangan teknologi kesehatan melalui kolaborasi lintas disiplin untuk menghadirkan teknologi yang dapat digunakan dalam penanganan tantrum pada anak dengan ASD.














