Kanal24, Malang – Sebelum sebuah data survei digunakan untuk membaca perilaku masyarakat, ada proses panjang yang menentukan apakah data tersebut benar-benar dapat dipercaya. Mulai dari menentukan sasaran penelitian, memilih responden, hingga memastikan sampel mampu mewakili populasi menjadi bagian penting dalam riset survei.
Pemahaman terhadap proses tersebut diperkuat Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) melalui workshop metodologi riset survei pada Rabu (26/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Lab AI, Lantai 7, Gedung E FIA UB ini menjadi bagian dari program Globalizing UB melalui proyek riset Cakap Politika yang melibatkan FIA UB, FISIP UB, pendidikan vokasi, serta Indopol Survey and Consulting sebagai mitra praktisi.
Baca Juga:
FAST UB Terapkan Kurikulum Baru, Publikasi Mahasiswa Diperkuat
Menghubungkan Teori dan Praktik Riset
Kepala Laboratorium Politik dan Tata Pemerintahan FIA UB, Dr. Ike Wanusmawatie, S.Sos., M.AP., mengatakan workshop tersebut merupakan bagian dari program inkubasi riset Globalizing UB. Program ini membuka ruang bagi pengembangan riset sekaligus mempertemukan lingkungan akademik dengan praktisi survei.
Keterlibatan Indopol menjadi salah satu pembeda kegiatan karena mahasiswa dapat memperoleh gambaran mengenai penerapan metodologi survei dalam praktik. Peserta workshop terdiri atas mahasiswa, tim Indopol, serta asisten Laboratorium Politik dan Tata Pemerintahan.

“Yang membedakan ini adalah gabungan antara praktisi yaitu dari Indopol dan melibatkan mahasiswa,” ujar Ike.
Menurut Ike, pengalaman tersebut penting karena mahasiswa tidak hanya dituntut memahami konsep metodologi secara teoritis. Mereka juga perlu mengetahui bagaimana metode penelitian diterapkan ketika berhadapan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan data yang nyata.
Menyiapkan Pemetaan Perilaku Pemuda
Workshop ini sekaligus menjadi tahap awal penelitian yang akan memetakan perilaku pemuda di Kota Malang. Direktur Eksekutif Indopol Survey, Ratno Sulistiyanto, M.I.Kom., mengatakan penelitian tersebut menargetkan 600 responden yang terdiri atas pemuda ber-KTP Malang dan mahasiswa yang berdomisili di Kota Malang.
Riset tersebut nantinya digunakan untuk melihat sejumlah aspek kehidupan pemuda, termasuk perilaku politik, perilaku konsumen, serta pemahaman terhadap literasi digital politik.
Ratno menjelaskan jumlah responden bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas sebuah survei. Cara memilih responden menjadi bagian penting agar data yang diperoleh dapat menggambarkan populasi yang menjadi sasaran penelitian.
Salah satu metode yang diperkenalkan dalam workshop adalah multistage random sampling. Metode tersebut dilakukan melalui beberapa tahapan pemilihan wilayah hingga penentuan responden secara acak.
Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya belajar bagaimana mengumpulkan data, tetapi juga memahami alasan di balik setiap tahapan pengambilan sampel. Pemahaman ini menjadi penting karena kesalahan pada tahap awal penelitian dapat memengaruhi kualitas data hingga proses analisis.
Mahasiswa Didorong Punya Skill Riset
Bagi mahasiswa, keterampilan metodologi survei dapat menjadi bekal yang digunakan dalam berbagai kebutuhan. Selain penelitian akademik seperti skripsi, tesis, dan disertasi, kemampuan tersebut juga dapat diterapkan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja yang berkaitan dengan survei, riset, maupun konsultasi politik.
Ike menilai pengalaman praktis menjadi salah satu capaian utama yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut. Mahasiswa diharapkan mampu memahami riset bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai proses yang membutuhkan ketelitian sejak tahap perencanaan hingga pengolahan data.
“Harapan kami itu ada skill praktis yang bisa dipegang oleh para mahasiswa,” kata Ike.
Kegiatan tersebut juga diarahkan menghasilkan sejumlah luaran, termasuk publikasi artikel berbahasa asing dan video publikasi. Sementara bagi Laboratorium Politik dan Tata Pemerintahan, keterlibatan dalam proses riset menjadi kesempatan untuk meningkatkan kapasitas asisten laboratorium.
Ke depan, kolaborasi FIA UB dengan mitra praktisi diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kerja sama lanjutan. Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana data survei dibangun sejak awal, bukan sekadar membaca hasilnya dalam bentuk angka. (ndr)














