Kanal24, Malang — Penggunaan bahan kimia dalam proses analisis di laboratorium menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan kimia yang lebih ramah lingkungan. Konsep Green Chemistry mendorong para peneliti untuk mencari metode yang dapat meminimalkan penggunaan bahan kimia sekaligus mengurangi potensi dampaknya terhadap lingkungan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu dasar penelitian yang dikembangkan dosen Departemen Kimia, Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM), Universitas Brawijaya (UB), bersama Departemen Kimia, Mahidol University, Thailand. Melalui Program Dosen Berkarya (DOKAR) skema B2, kedua institusi mengembangkan metode penentuan ion Al(III) menggunakan ekstrak bunga asoka merah sebagai reagen alami melalui metode spektrofotometri sinar tampak.

Penelitian tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana tanaman yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman hias dapat dikaji untuk kebutuhan analisis kimia. Bunga asoka merah atau Ixora coccinea L. diketahui mengandung sejumlah senyawa, antara lain sikloartenol ester, sianidin, quercetin, dan senyawa flavonoid. Bunga ini juga diperkaya senyawa fenolik antosianin yang dominan dibandingkan flavonoid lainnya.
Mengganti Reagen Kimia dengan Bahan Alami
Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan kadar unsur adalah spektrofotometri visibel atau spektrofotometri sinar tampak. Dalam konteks penelitian ini, metode tersebut digunakan untuk menentukan kadar ion aluminium atau Al(III).
Rilis penelitian menjelaskan bahwa penelitian sebelumnya telah menggunakan Eriokrom Sianin R (ECR) sebagai agen pengompleks dalam media buffer asetat pH 6. Proses tersebut menghasilkan kompleks aluminium-ECR yang ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi merah. Namun, penggunaan ECR sebagai ligan masih berbasis bahan kimia sehingga belum sepenuhnya sejalan dengan konsep Green Chemistry.
Di sinilah ekstrak bunga asoka merah menjadi bagian penting dari penelitian.

Antosianin yang terdapat dalam bunga asoka merah memiliki gugus hidroksil bebas yang dapat berperan dalam pembentukan kompleks dengan logam seperti aluminium. Interaksi tersebut dapat ditandai melalui perubahan warna, sehingga berpotensi dimanfaatkan dalam proses analisis ion logam. Kandungan antosianin pada bunga asoka merah juga disebut dapat membentuk kompleks yang lebih stabil melalui proses kopigmentasi dengan logam bervalensi dua atau tiga.
Baca juga : Disertasi FMIPA UB Ungkap Nasib Tarsius Dipecahkan dengan Matematika
Pendekatan ini membawa penelitian pada persoalan yang lebih besar dari sekadar menemukan metode analisis baru. Pemanfaatan ekstrak tanaman sebagai senyawa pereaksi menjadi alternatif penggunaan bahan kimia sekaligus mendukung penerapan prinsip Green Chemistry. Upaya tersebut sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, terutama dalam mendorong penggunaan sumber daya dan proses yang lebih berkelanjutan.
Dengan kata lain, tanaman yang mudah ditemukan dan selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal dapat dikaji sebagai bagian dari solusi untuk proses analisis yang lebih berkelanjutan.
Kolaborasi UB-Mahidol Perkuat Riset dan Publikasi Internasional
Pengembangan metode tersebut dilakukan melalui kerja sama penelitian dan publikasi ilmiah antara Universitas Brawijaya dan Mahidol University. Kolaborasi ini bukan hubungan yang baru dibangun. Kedua pihak sebelumnya telah bekerja sama dalam penelitian dan pengiriman mahasiswa UB untuk melanjutkan studi S-2 di Department of Chemistry, Mahidol University. Kolaborasi lintas negara tersebut sekaligus memperkuat kontribusi UB terhadap SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui pengembangan riset dan publikasi bersama dengan perguruan tinggi mitra di tingkat internasional.
Mahidol University merupakan salah satu perguruan tinggi di Thailand yang berdiri pada 1969 sebagai pengembangan dari University of Medical Sciences yang berdiri pada 1943. Universitas tersebut memiliki 17 fakultas, sementara Department of Chemistry berada di Faculty of Sciences. Dalam kerja sama ini, Prof. Duangjai Nacapricha menjadi salah satu mitra dari Mahidol University.
Hubungan akademik kedua institusi juga telah berlangsung melalui berbagai kegiatan. Prof. Duangjai Nacapricha dan Prof. Atitaya Sipirinyanond beberapa kali diundang sebagai pembicara utama dalam seminar kimia di Universitas Brawijaya, antara lain pada 2017 dan 2023. Tim UB juga mengikuti seminar internasional dan Flow Injection Analysis (FIA) Conference bersama Prof. Duangjai Nacapricha di sejumlah negara, termasuk Australia, Jerman, Jepang, Polandia, dan Thailand.

Dalam program DOKAR kali ini, tiga dosen Departemen Kimia FSTeM UB terlibat, yakni Prof. Dr. Ir. Adam Wiryawan, Prof. Hermin Sulistyarti, PhD., dan Prof. Dr. Rurini Retnowati, MSi.
Tim Universitas Brawijaya juga telah melakukan kunjungan ke Mahidol University pada 12–15 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mencakup pertemuan dan diskusi bersama mitra, termasuk penyusunan serta penyelesaian artikel jurnal bersama Prof. Duangjai Nacapricha. Tim juga melakukan pertemuan dengan Prof. Rattikan Chantiwas dan Prof. Atitaya Siripinyanond.
Kolaborasi tersebut diarahkan tidak berhenti pada pengembangan metode. Luaran yang ditargetkan berupa artikel untuk publikasi internasional pada jurnal bereputasi Q1/Q2. Program ini sekaligus mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU-5), khususnya hasil kerja dosen yang digunakan masyarakat atau memperoleh rekognisi internasional melalui publikasi internasional terindeks dan publikasi internasional bereputasi bersama institusi luar negeri.
Pengembangan metode analisis berbasis bahan alami tersebut juga sejalan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur, khususnya melalui penguatan riset dan inovasi untuk menghasilkan metode analisis yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Universitas Brawijaya, riset ini mempertemukan dua kepentingan sekaligus: penguatan kolaborasi akademik internasional dan pengembangan metode analisis yang lebih selaras dengan prinsip keberlanjutan.
Pemanfaatan ekstrak bunga asoka merah sebagai reagen alami menunjukkan bahwa inovasi dalam kimia tidak selalu harus dimulai dari material baru yang kompleks. Bahan yang tersedia di sekitar dapat menjadi objek penelitian ketika dikaji dengan pendekatan ilmiah yang tepat.
Melalui DOKAR, pendekatan tersebut sekaligus diperluas melalui jejaring riset internasional. Dari laboratorium kimia di UB dan Mahidol University, bunga asoka merah kini ditempatkan dalam konteks yang berbeda: bukan sekadar tanaman hias, tetapi sebagai kandidat bahan alami dalam pengembangan metode analisis ion aluminium yang mendukung Green Chemistry.(Din)













