Kanal24, Malang – Layar gawai perlahan menjadi bagian dari keseharian mahasiswa dalam mencari informasi dan membaca berbagai jenis bacaan. Namun, di tengah kebiasaan tersebut, buku cetak masih memiliki ruang tersendiri. Kehadiran buku fisik tidak serta-merta hilang ketika ebook dan berbagai platform digital berkembang, melainkan bergeser mengikuti kebutuhan dan kenyamanan pembaca.
Kondisi tersebut terlihat dalam Creative Book Fair 2026 yang diselenggarakan UB PRESS bersama IKAPI Malang pada Senin (31/8/2026) di Gazebo Perpustakaan Universitas Brawijaya. Pameran ini mempertemukan penerbit dengan pembaca di lingkungan kampus, sekaligus menjadi ruang bagi delapan penerbit untuk memperkenalkan produk buku mereka. Kegiatan tersebut juga dilengkapi empat stan kopi yang turut meramaikan area pameran.
Baca Juga:
Kampung Klasik RW 11 Villa Bukit Tidar Hidupkan Budaya Jawa Timur
Mendekatkan Penerbit dengan Mahasiswa
Perwakilan IKAPI Kota Malang, Tri Prajoko Nugroho, mengatakan kehadiran penerbit di lingkungan kampus merupakan salah satu cara untuk memperluas akses masyarakat terhadap buku sekaligus memperkuat budaya literasi.

“Kami punya visi dan misi untuk meningkatkan budaya literasi. Karena dalam hal ini di Malang, lingkupnya kita ada di lingkungan kampus,” ujar Tri.
Menurutnya, mahasiswa merupakan salah satu kelompok pembaca yang mengalami perubahan pola konsumsi bacaan seiring perkembangan teknologi. Karena itu, industri penerbitan perlu tidak hanya menunggu pembaca datang melalui kanal penjualan, tetapi juga menghadirkan buku secara langsung di ruang yang dekat dengan aktivitas mereka.
Pameran seperti Creative Book Fair juga memberikan kesempatan kepada penerbit untuk memperkenalkan produk baru yang belum banyak ditemukan melalui marketplace maupun media sosial.
“Teman-teman dari penerbit sendiri bisa mempromosikan buku-buku produk baru,” katanya.
Bagi IKAPI, upaya memperluas akses tersebut juga berkaitan dengan persoalan daya beli. Namun, Tri menilai peningkatan daya beli terhadap buku harus berjalan beriringan dengan tumbuhnya ketertarikan untuk membaca.
“Yang harus kita tingkatkan adalah minat baca karena minat baca nanti sebanding dengan daya beli,” ujarnya.
Buku Cetak dan Digital Bukan Kompetitor
Perkembangan ebook kerap dipandang sebagai tantangan bagi keberadaan buku fisik. Namun, IKAPI Malang melihat hubungan keduanya tidak selalu berada dalam posisi berhadap-hadapan.
Tri menyebut perubahan tren membaca justru menunjukkan bahwa buku cetak dan digital dapat berjalan beriringan. Menurutnya, pilihan terhadap format bacaan sangat bergantung pada kebutuhan serta kenyamanan masing-masing pembaca.
“Sebenarnya kalau untuk perbedaan antara printed sama ebook, sebenarnya pergeserannya saling melengkapi,” jelasnya.
Ia mengatakan tren ebook memang sempat menguat ketika teknologi digital mulai berkembang pesat pada awal 2010-an. Namun, dalam perkembangannya, buku cetak kembali menemukan pembacanya.
“Jadi sebenarnya sesuai kebutuhan dan kenyamanan masing-masing,” lanjut Tri.
Pandangan tersebut menempatkan format sebagai persoalan medium, bukan penentu utama seseorang membaca atau tidak. Baik buku cetak maupun ebook tetap memiliki fungsi yang sama dalam menyampaikan pengetahuan dan gagasan, dengan karakter penggunaan yang berbeda.
Membaca Perubahan Selera Generasi Muda
Selain menjadi ruang promosi, Creative Book Fair juga memberi kesempatan bagi penerbit untuk melihat secara langsung perubahan selera pembaca. Pergeseran minat generasi muda menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbukuan untuk terus menghadirkan bacaan yang relevan.
Tri menilai perubahan tersebut tidak selalu dapat dimaknai sebagai menurunnya minat baca. Ketertarikan pembaca dapat bergeser mengikuti perkembangan budaya, termasuk munculnya berbagai bacaan populer yang memiliki pendekatan berbeda dibandingkan buku-buku sebelumnya.
“Kalau pengaruhnya saya pikir enggak, Mas. Karena printed ataupun ebook atau digital itu kan sifatnya media,” kata Tri.
Menurutnya, tantangan utama bukan terletak pada apakah masyarakat membaca melalui buku fisik atau perangkat digital, tetapi bagaimana industri menghadirkan konten yang mampu menarik perhatian pembaca.
Creative Book Fair 2026 menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan kebutuhan tersebut. Dengan membawa penerbit lebih dekat ke lingkungan kampus, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang transaksi buku, tetapi juga membuka peluang bagi penerbit untuk membaca perubahan perilaku dan preferensi pembaca muda.
Bagi IKAPI Malang, keberadaan buku fisik dengan demikian tidak harus dipertentangkan dengan perkembangan digital. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama industri perbukuan mampu menjaga relevansi isi dan terus menemukan cara untuk mendekatkan buku kepada pembacanya. (ndr/ern)














