Kanal24, Surabaya – Akses pembelajaran bagi mahasiswa tuli tidak hanya ditentukan oleh tersedianya materi, tetapi juga oleh kemampuan teknologi menjembatani komunikasi di ruang kelas. Kebutuhan inilah yang mendorong mahasiswa Universitas Brawijaya mengembangkan VERO (Voice Recognition and Openness) , inovasi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendukung komunikasi antara teman tuli, teman dengar, dan dosen.
Baca juga: Raja Brawijaya 2026 Perkuat Fasilitas Inklusif bagi Maba Difabel
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), tim VERO kembali menguji inovasinya di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Jumat (21/8/2026). Kali ini, perhatian tim diarahkan pada hardware VERO yang menggunakan kamera untuk mengenali gerakan bahasa isyarat.
Uji coba tersebut menjadi bagian penting karena keberhasilan teknologi inklusif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan sistem membaca gerakan, tetapi juga oleh bagaimana pengguna dapat berinteraksi dengan perangkat secara mudah dan intuitif.

Hardware Diuji Langsung oleh Pengguna
Dalam pengujian di UNESA, peserta mencoba perangkat secara langsung dengan memperagakan gerakan bahasa isyarat di hadapan kamera. Sistem kemudian diuji dari sisi pengalaman penggunaan dan respons terhadap gerakan yang diberikan.
Salah satu peserta, Hazell Aulia Putri Jatmiko, memberikan respons positif terhadap pengalaman menggunakan latihan VERO. Menurutnya, latihan tersebut membantu pengguna mengikuti gerakan bahasa isyarat melalui kamera. Ia juga memberikan masukan agar instruksi penggunaan dibuat lebih jelas dan latihan dikembangkan dengan variasi bahasa isyarat yang lebih beragam.
Masukan tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan perangkat. Tim tidak hanya mengevaluasi kemampuan hardware dalam menangkap gerakan, tetapi juga melihat apakah pengguna dapat memahami instruksi dan mengikuti interaksi dengan sistem tanpa hambatan yang tidak perlu.
Pengujian juga menghasilkan sejumlah catatan untuk penyempurnaan, terutama pada kejelasan instruksi, akurasi pengenalan gerakan, serta variasi latihan bahasa isyarat.

VERO Dikembangkan dari Kebutuhan Pembelajaran
VERO memanfaatkan Computer Vision dan Deep Learning untuk mendukung pengenalan bahasa isyarat dan kebutuhan komunikasi dalam proses pembelajaran. Karena itu, pengembangan perangkat tidak berhenti pada kemampuan teknologi, tetapi terus diarahkan pada pengalaman pengguna.
Uji coba di UNESA melanjutkan pengujian yang sebelumnya dilakukan tim di Universitas Brawijaya pada 30 Juli 2026 dan Universitas Negeri Malang pada 3 Agustus 2026. Rangkaian pengujian tersebut memberikan kesempatan bagi tim untuk memperoleh pengalaman penggunaan dari lingkungan perguruan tinggi yang berbeda.
Baca juga: VERO, Inovasi Mahasiswa UB Hadirkan Akses Pembelajaran Inklusif
Bagi pengembangan teknologi inklusif, proses semacam ini penting untuk memastikan inovasi tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi terus disesuaikan dengan kebutuhan nyata pengguna.
Tim PKM-KC VERO selanjutnya akan melakukan penyempurnaan pada performa hardware dan sistem pendukungnya. Pengembangan diarahkan pada perangkat yang semakin mudah digunakan, akurat dalam mengenali gerakan, serta mampu mendukung terciptanya akses pembelajaran yang lebih setara bagi mahasiswa tuli di perguruan tinggi.(Din/Afr)














