Kanal24, Malang – Kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah masih menjadi tantangan dalam pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. Kehadiran lulusan baru diharapkan tidak hanya menjadi tambahan tenaga medis, tetapi juga mampu memperkuat pelayanan kesehatan dan mengabdi sesuai kebutuhan masyarakat.
Harapan tersebut mengiringi pelantikan 18 dokter spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) yang digelar di Auditorium Lantai 6 Gedung Pusat Pendidikan atau Gedung Pendidikan Bersama FK UB, Jumat (4/9/2026). Pelantikan menjadi penanda berakhirnya pendidikan sekaligus awal perjalanan para lulusan untuk menjalankan profesi dan memberikan pengabdian kepada masyarakat.
Baca juga:
Pengunjung Gemini Campus Tour di UB Melonjak pada Hari Kedua
18 Dokter Spesialis Resmi Dilantik FK UB
Dekan FK UB, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med, Sp.A(K), mengatakan pelantikan merupakan rangkaian inaugurasi sekaligus pelepasan dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikan di FK UB.

Menurut Wisnu, para lulusan diharapkan dapat segera menjalankan tugasnya di tempat masing-masing dengan membawa kompetensi yang telah diperoleh selama menjalani pendidikan.
“Bagi fakultas tentunya ini sebagai acara inaugurasi dan juga pelepasan spesialis baru yang sudah kita didik dan harapannya spesialis ini bisa segera menampilkan diri bekerja di tempatnya masing-masing,” ujar Wisnu.
Ia juga menekankan pentingnya profesionalisme para lulusan ketika nantinya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Selain kompetensi, dokter spesialis juga diharapkan mampu menjaga nama baik almamater.
“Kita berharap lulusan bisa bekerja secara profesional, bisa memberikan layanan terbaik untuk masyarakat dan juga membawa nama baik untuk almamater,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Departemen Kedokteran Spesialis dan Subspesialis FK UB sekaligus Guru Besar bidang Ilmu Patologi Klinik/Penyakit Infeksi, Prof. Dr. dr. Agustin Iskandar, M.Kes., Sp.PK, Subsp. P.I.(K), menjelaskan pelantikan merupakan tahapan yang wajib dijalani dokter spesialis setelah menyelesaikan pendidikan.
“Memang secara aturan dokter spesialis setelah lulus maka harus dilantik untuk menyampaikan sumpahnya juga,” jelas Agustin.
Pada pelantikan tersebut, sebanyak 18 dokter spesialis resmi dilantik. Agustin juga menyebut FK UB telah memiliki sekitar 2.400 lulusan spesialis.
Pelantikan Jadi Awal Pengabdian
Bagi Agustin, kelulusan dan pelantikan bukan berarti perjalanan seorang dokter spesialis telah selesai. Justru, momentum tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang untuk mengabdikan kompetensi kepada masyarakat.

“Kali ini yang menjadi lebih penting adalah bahwa proses kelulusan ini tidak serta-merta menghentikan, tetapi ini adalah awal dari perjalanan panjang, awal dari pengabdian sebagai dokter spesialis,” ujar Agustin.
Ia mengingatkan para dokter yang baru dilantik agar menjaga nama baik almamater selama menjalani perjalanan karier. Pesan tersebut juga berlaku dalam penggunaan media sosial.
Menurut Agustin, identitas sebagai bagian dari Universitas Brawijaya dan Rumah Sakit Saiful Anwar akan tetap melekat dalam perjalanan profesional para lulusan.
“Untuk semua lulusan jangan lupa jaga nama baik almamater, bijak dalam menggunakan media sosial karena Anda akan membawa terus nama Universitas Brawijaya, nama Rumah Sakit Saiful Anwar sepanjang perjalanan karir Anda,” katanya.
Selain menjaga nama baik institusi, Agustin berpesan agar para dokter spesialis tetap memberikan manfaat bagi sesama.
“Yang kedua, tetaplah bermanfaat untuk sesama karena itu nanti manfaatnya akan dirasakan oleh keluarga kalian semua,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi bekal bagi para dokter spesialis sebelum memasuki dunia kerja. Keahlian yang telah diperoleh selama pendidikan diharapkan dapat digunakan untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.
Lulusan Baru Didorong Bantu Pemerataan Dokter Spesialis
Kehadiran dokter spesialis baru juga diharapkan dapat menjawab kebutuhan layanan kesehatan di berbagai daerah. Wisnu mengatakan FK UB ingin jumlah dokter spesialis yang dihasilkan terus bertambah sehingga dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi Indonesia.
“Kita berharap dengan adanya spesialis ini bisa memenuhi kebutuhan layanan spesial daerah di Indonesia dan harapannya bisa lebih banyak lagi yang kita hasilkan,” tutur Wisnu.
Agustin menambahkan, FK UB terus menargetkan peningkatan jumlah lulusan dokter spesialis. Menurutnya, semakin banyak lulusan yang dihasilkan, semakin besar pula kontribusi fakultas terhadap kebutuhan tenaga kesehatan nasional.
“Target ke depannya tentunya FK UB akan semakin banyak meluluskan dokter spesialis sehingga sumbangsihnya untuk negara juga akan semakin besar,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti program FK UB yang menerima utusan khusus dari daerah. Program tersebut dinilai dapat mendukung pemerataan dokter spesialis di Indonesia.
“Karena FK UB itu hanya satu-satunya universitas yang punya program untuk utusan khusus dari daerah sehingga tentunya ini akan sangat menunjang program pemerataan dokter spesialis,” katanya.

Salah satu dokter yang dilantik, dr. Septian Dwi Putra, Sp.PK, turut merasakan perjalanan panjang selama menjalani pendidikan dokter spesialis. Ia mengaku masa pendidikan yang dijalani sekitar tiga setengah tahun menjadi pengalaman yang penuh tantangan, baik secara fisik maupun mental.
“Yang pasti perjuangan selama 3,5 tahun ya, mungkin ada yang 3,5, ada yang empat atau lebih, baik dari tenaga, mental, maupun juga jauh dari keluarga,” ungkap Septian.
Septian sendiri harus menjalani pendidikan jauh dari keluarganya yang berada di Bandung. Menurutnya, perjuangan tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan hingga akhirnya sampai pada tahap pelantikan.
“Yang pasti yang paling berkesan adalah bagaimana capeknya baik itu fisik maupun mental sampai akhirnya bisa dari titik ini,” katanya.
Memasuki dunia kerja di tengah perkembangan teknologi, Septian juga menyadari bahwa dokter perlu mampu beradaptasi dengan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya dilihat sebagai sesuatu yang harus dilawan. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan agar dapat berjalan seiring dengan profesi dokter.
“Kita tidak bisa bermusuhan dengan teknologi ya. Jadi kita harus bersahabat,” ujar Septian.
Ia menilai pemanfaatan teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan profesi kedokteran. Karena itu, dokter perlu mampu memanfaatkan teknologi secara tepat untuk mendukung pekerjaannya.
Setelah resmi dilantik, Septian berencana kembali terjun ke masyarakat. Setelah cukup lama menjalani pendidikan dan belum memiliki penghasilan tetap, ia ingin segera kembali bekerja sekaligus memberikan pengabdian.
“Kalau saya mungkin karena sudah lama tidak berpenghasilan ya, mungkin akan terjun lagi ke masyarakat dan bisa berbakti buat masyarakat,” tuturnya.
Pelantikan 18 dokter spesialis FK UB akhirnya tidak hanya menjadi seremoni kelulusan. Momentum tersebut menjadi titik awal bagi para lulusan untuk membawa kompetensi yang diperoleh selama pendidikan ke tengah masyarakat.
FK UB pun menargetkan semakin banyak dokter spesialis yang dapat dilahirkan, khususnya untuk mendukung kebutuhan layanan kesehatan dan pemerataan tenaga dokter spesialis di berbagai daerah Indonesia. (ern)














