Kanal24, Malang – Pertumbuhan kredit menjadi salah satu indikator penting dalam melihat geliat bisnis perbankan. Namun, ekspansi yang semakin besar juga membawa tantangan untuk memastikan pembiayaan tetap sehat dan risiko kredit dapat dikendalikan. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan kredit tidak cukup hanya dilihat dari besarnya angka penyaluran, tetapi juga dari kemampuan bank menjaga kualitas aset.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp1.646 triliun hingga akhir Triwulan II 2026. Angka tersebut tumbuh 16,2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini dibarengi dengan perbaikan sejumlah indikator kualitas aset BRI yang disampaikan dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 di Jakarta, Senin (31/8).
Baca Juga:
Investasi Beiersdorf Perkuat Ekonomi Kabupaten Malang
Ekspansi Kredit Tetap Selektif
Pertumbuhan kredit BRI pada semester pertama 2026 tidak dilakukan dengan mengejar penyaluran secara agresif. Perseroan menerapkan strategi selective growth dengan mempertimbangkan segmen, sektor, serta profil risiko nasabah sebelum pembiayaan diberikan.
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan pertumbuhan kredit perseroan pada Triwulan II 2026 berada di atas industri perbankan dan berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset.
“Pertumbuhan kredit dan pembiayaan BRI pada Triwulan II 2026 berada di atas industri perbankan dan diikuti dengan perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan,” ujar Ety.
Strategi pertumbuhan selektif tersebut menjadi penting di tengah kondisi industri perbankan yang menghadapi kebutuhan ekspansi sekaligus tuntutan untuk menjaga kualitas portofolio. BRI memperkuat pengelolaan risiko sejak proses akuisisi dan seleksi debitur, pemantauan kualitas kredit, hingga collection dan recovery.
Dengan pendekatan tersebut, ekspansi kredit tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan volume pembiayaan, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya.
Kualitas Aset Menunjukkan Perbaikan
Perbaikan kualitas aset tercermin dari sejumlah indikator risiko kredit BRI. Rasio Non-Performing Loan (NPL) tercatat turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026.
Penurunan juga terjadi pada Loan at Risk (LaR) yang berada di level 9,1 persen pada akhir Triwulan II 2026, dari 9,6 persen pada akhir 2025. Sementara itu, Cost of Credit (CoC) turun menjadi 3,1 persen dari 3,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ety menjelaskan, pengelolaan risiko dilakukan secara menyeluruh untuk menjaga kualitas kredit sejak awal proses penyaluran.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery,” jelasnya.
Penurunan sejumlah rasio tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pertumbuhan kredit BRI tetap diikuti dengan upaya menjaga risiko. Artinya, kenaikan penyaluran pembiayaan tidak serta-merta diikuti peningkatan kredit bermasalah.
UMKM Tetap Menjadi Bagian Penting
Sebagai bank yang memiliki basis bisnis kuat pada sektor mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pembiayaan kepada sektor tersebut tetap menjadi bagian penting dalam portofolio BRI. Hingga akhir Triwulan II 2026, porsi kredit dan pembiayaan BRI Group kepada segmen UMKM mencapai sekitar 75,1 persen.
Besarnya porsi tersebut membuat kualitas pembiayaan UMKM menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan BRI. Penyaluran kredit kepada pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan ekspansi bisnis perbankan, tetapi juga dengan akses pembiayaan bagi aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, BRI juga mencatat pertumbuhan aset dan laba sepanjang periode tersebut. Total aset BRI Group mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen yoy. Sementara itu, laba bersih konsolidasian tercatat Rp31,2 triliun atau meningkat 17,5 persen yoy.
Capaian tersebut memperlihatkan arah pertumbuhan BRI yang tidak hanya berfokus pada peningkatan penyaluran kredit. Strategi pertumbuhan selektif menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas aset.
Bagi perbankan, pertumbuhan kredit yang tinggi memang menjadi peluang untuk memperluas pembiayaan. Namun, kemampuan menjaga kualitas kredit tetap menjadi faktor penting agar ekspansi dapat berlangsung secara berkelanjutan. (ndr)














