Kanal24, Malang – Setiap aktivitas di lingkungan kampus menghasilkan sampah yang perlu dikelola sejak dari sumbernya. Bagi Universitas Brawijaya (UB), persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan menyediakan fasilitas pembuangan, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan melalui pemilahan sampah sesuai jenisnya.
Upaya membangun kebiasaan tersebut dilakukan UPT Green Campus melalui Workshop Pemilahan Sampah Universitas Brawijaya di Aula Gedung F Lantai 7 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB, Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menyosialisasikan mekanisme pemilahan sekaligus mendorong penerapannya secara lebih seragam di berbagai unit UB.
Baca Juga:
Pelatihan Advokasi FH UB Hadirkan Simulasi Kasus
UPT Green Campus Kenalkan Lima Kategori
Kepala UPT Green Campus, Prof. Sri Suhartini, S.TP., M.Env.Mgt., Ph.D., mengatakan workshop tersebut merupakan bagian dari tugas UPT Green Campus untuk mendiseminasikan informasi mengenai pemilahan sampah kepada sivitas akademika.

Sosialisasi kali ini menyasar ketua SGC di unit fakultas, PSDKU Kediri dan PSDKU Jakarta, serta perwakilan KTU dari masing-masing unit. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai mekanisme pemilahan yang diharapkan dapat diterapkan secara seragam di lingkungan UB.
Sebelumnya, fasilitas pemilahan sampah 3R berbasis klasifikasi warna telah diterapkan dengan tiga kategori, yakni sampah organik berwarna hijau, anorganik berwarna kuning, dan residu berwarna hitam.
Dalam sosialisasi ini, UPT Green Campus memperkenalkan dua kategori tambahan, yaitu sampah kertas dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) padat. Sampah kertas menggunakan warna biru, sedangkan limbah B3 menggunakan warna merah.
Dengan demikian, terdapat lima kategori pemilahan yang mulai disosialisasikan kepada unit-unit di lingkungan UB. Standarisasi tersebut diperlukan agar proses pemilahan dari sumber hingga pengumpulan dapat berjalan lebih terarah.
“Mensosialisasikan bagaimana mekanisme pemilahan sampah yang harapannya bisa distandarisasi sehingga akan memudahkan ketika tim UPT UB Green Campus dan juga DTUK UB melakukan pengumpulan dan pengelolaan sampah,” jelas Prof. Sri.
Perubahan Kebiasaan Jadi Tantangan
Prof. Sri menyebut tantangan penerapan pemilahan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga perubahan perilaku individu. Menurutnya, membangun budaya memilah sampah membutuhkan waktu dan upaya yang dilakukan secara konsisten.
Untuk mendukung proses tersebut, UPT Green Campus melakukan edukasi melalui berbagai media, termasuk Instagram dan video. Edukasi juga dilakukan melalui kegiatan Car Free Day untuk memperluas jangkauan informasi mengenai pemilahan sampah.
Menurut Prof. Sri, perubahan budaya perlu melibatkan seluruh warga kampus. Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta unsur lainnya di lingkungan UB memiliki peran dalam menerapkan pemilahan sejak dari sumber.
“Untuk merubah seseorang menjadi memiliki budaya untuk melakukan pemilahan sampah itu tidak bisa mudah untuk dilakukan. Tapi butuh waktu, butuh effort yang harus terus digencarkan,” ujar Prof. Sri.
Sosialisasi selanjutnya akan diperluas kepada kelompok lain di lingkungan UB. UPT Green Campus berencana menyasar petugas kebersihan di tingkat universitas dan unit, perwakilan pengelola kantin, kepala laboratorium, serta laboran.
Menurut Prof. Sri, edukasi dan penyediaan fasilitas harus berjalan secara bersamaan. Edukasi diperlukan untuk membangun kebiasaan, sedangkan fasilitas menjadi sarana untuk mendukung penerapannya dalam aktivitas sehari-hari.
Pengelolaan Limbah Menuju Ekonomi Sirkular
Workshop pemilahan sampah menjadi bagian dari evaluasi program Smart Green Campus yang merupakan salah satu program prioritas UB. Dari evaluasi pelaksanaan program tersebut, UPT Green Campus menemukan masih terdapat sejumlah unit yang belum optimal dalam menerapkan berbagai aspek, termasuk pengelolaan limbah.
Masukan dari peserta workshop kemudian menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut bagi UPT Green Campus. Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengintegrasikan sistem pengumpulan sampah yang telah dipilah dari masing-masing unit.
Pengelolaan tersebut selanjutnya diarahkan pada konsep ekonomi sirkular. Sampah yang telah dipilah diharapkan tidak hanya berakhir sebagai material buangan, tetapi dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk bernilai.
“Dengan adanya budaya pemilahan ini pengelolaan limbah di Universitas Brawijaya bisa lebih efektif, lebih efisien dan juga bisa memenuhi target kami yaitu mampu mengelola limbah secara berkelanjutan dan juga berbasis sirkular ekonomi,” tutur Prof. Sri.
UPT Green Campus saat ini tengah menginisiasi pengembangan pengolahan limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, termasuk bioproduk dan bioenergi. Implementasi konsep tersebut ditargetkan dapat dimulai pada akhir 2026.
Melalui workshop ini, UPT Green Campus menargetkan pemilahan sampah tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Standarisasi kategori, edukasi, penyediaan fasilitas, hingga pengembangan sistem pengumpulan disiapkan sebagai rangkaian untuk membangun pengelolaan limbah yang lebih efektif dan berkelanjutan di lingkungan UB. (gal)














