Kanal24, Malang – Datang tanpa deretan prestasi olimpiade matematika maupun sains, Muhammad Faizal Haris Mukota atau Koda sempat merasa tidak percaya diri ketika namanya masuk dalam jajaran peserta Clash of Champions (COC) Season 3. Berbeda dengan sejumlah peserta lain, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) tersebut justru membawa pengalaman dari bidang nonakademik yang telah lama digelutinya, yakni Rubik.
Namun, pengalaman bertahun-tahun menghadapi kompetisi Rubik ternyata membentuk kemampuan yang kemudian berguna di berbagai situasi. Mulai dari kemampuan untuk berkonsentrasi, kedisiplinan, problem solving, hingga pengendalian rasa gugup.
Dalam Podcast Let’s Talk, Koda menceritakan perjalanannya mengikuti COC Season 3, pengalamannya sebagai kompetitor Rubik, hingga bagaimana keduanya membentuk cara dirinya menjalani perkuliahan di UB.
Berawal dari Undangan dan Rekomendasi Teman
Koda menjelaskan terdapat dua jalur untuk mengikuti COC, yakni melalui undangan atau pendaftaran mandiri. Meski mendapatkan undangan, peserta tetap harus melalui proses pendaftaran dengan menyertakan sejumlah berkas, termasuk prestasi dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Setelah lolos seleksi berkas, peserta menghadapi skill test yang menguji berbagai kemampuan, mulai dari berhitung, memori, hingga persoalan spasial.
Koda mengaku latar belakangnya sebagai mahasiswa teknik membuat dirinya cukup percaya diri menghadapi tahap tersebut.
“Dari saya sendiri sih kayaknya cukup percaya diri karena jurusan saya sendiri kan teknik, di mana itu ada banyak hitung-hitungan dan kita harus lumayan melakukan problem solving. Mungkin ada suatu konsep yang kita harus belajar on the spot, kita harus belajar secara cepat dan juga memahaminya dengan cepat,” ungkapnya.
Menariknya, mengikuti COC bukanlah rencana yang sejak awal benar-benar ingin ia lakukan. Koda sempat ragu untuk mendaftar hingga mendapat dorongan dari Max, peserta COC Season 2 yang juga merupakan temannya.
“Justru pas awal mula pendaftaran itu saya agak ragu kalau mau join atau enggak. Tapi pas diundang dan kalau kalian tahu dari Season 2 ada peserta yang juga bakatnya Rubik namanya Max. Dia sebenarnya teman saya dan dia merekomendasikan saya untuk ikuti COC ini,” ujarnya.
Baca juga: Pelatihan Advokasi FH UB Hadirkan Simulasi Kasus
Datang Bukan untuk Menjadi Juara
Berhadapan dengan mahasiswa berprestasi dari berbagai bidang sempat membuat Koda tidak percaya diri. Terlebih, sebagian peserta memiliki rekam jejak olimpiade matematika dan sains, sedangkan prestasinya banyak berasal dari Rubik.
Meski demikian, sejak awal Koda tidak menempatkan kemenangan sebagai tujuan utama ketika mengikuti COC.
“Saya sebenarnya ikut COC itu cuma mau ketemu orang-orang pintar, apalagi mahasiswa Indonesia yang berprestasi,” kata Koda.
Menurutnya, berada di lingkungan tersebut sudah menjadi pengalaman tersendiri meski dirinya tidak berhasil mencapai babak final.
“Walaupun saya enggak paling cerdas di COC, saya ada di ruangan itu juga kan, sudah proven lah,” lanjutnya.
Salah satu tantangan yang paling membekas baginya adalah Aroma Master pada episode pertama. Permainan tersebut menguji kemampuan peserta menghafalkan 40 aroma parfum yang berbeda.
Koda mengaku sudah memiliki gambaran mengenai jenis kemampuan yang kemungkinan diuji karena COC telah memasuki musim ketiga. Namun, ia tidak menyangka kemampuan memori akan diuji melalui indra penciuman.
“Tapi kalau game-nya memorize tapi harus pakai hidung itu enggak kepikiran juga sih sebenarnya. Enggak kepikiran juga kok ada game seperti itu,” ceritanya.
Baca juga: Libatkan 500 Relawan, UB dan Lions Club Bersihkan Sungai di Kota Malang
Rubik Bukan Sekadar Kecepatan
Sebelum dikenal melalui COC, Koda telah aktif mengikuti kompetisi Rubik. Ia bahkan menyebut telah mengikuti perlombaan selama tiga tahun berturut-turut dan meraih juara pertama untuk kategori dua tangan maupun satu tangan. Kini, Koda juga mulai mengajar Rubik.
Meski tidak berkaitan secara langsung dengan materi yang dipelajarinya di bidang teknik, Koda melihat Rubik membentuk cara berpikir dan mentalitasnya.
“Yang penting itu cara kita belajar mental. Karena dari saya ikuti beberapa lomba Rubik itu kan pasti ada rasa gugup. Kalau misalnya kita sering konsisten ikut lomba, sering latihan, itu pasti bakal terbiasa,” jelasnya.
Selain mental menghadapi kompetisi, ia melihat adanya kesamaan dalam aspek problem solving. Menyelesaikan Rubik membutuhkan kemampuan memahami persoalan dan mencari penyelesaian, sementara dunia perkuliahan teknik menuntut mahasiswa memahami konsep dan berpikir secara logis.
Konsistensi Lebih Penting daripada Hasil Pertama
Pengalaman berkompetisi juga membentuk pandangan Koda terhadap prestasi. Menurutnya, seseorang tidak harus langsung mendapatkan hasil pada percobaan pertama.
Ia justru mendorong mahasiswa untuk mencari kompetisi atau kegiatan yang berkaitan dengan bidang yang benar-benar mereka sukai.
“Kalau kalian ada sesuatu yang bikin tertarik, enggak harus Rubik, mungkin bisa saja main game atau itu, cari saja lomba yang berhubungan sama event itu atau hobi itu dan ikut saja sebenarnya. Mungkin pasti enggak dapat hasil first try,” tuturnya.
“Tapi kalau misalnya kita sering latihan atau sering melakukan hobi yang kita tertarik, lama-lama bakal ada reward-nya, mungkin dari prestasi atau juga experience minimalnya,” lanjut Koda.
Prinsip serupa ia terapkan dalam menjalani perkuliahan. Bagi Koda, pencapaian akademik bukan semata persoalan motivasi, tetapi kedisiplinan dan kemampuan membagi waktu.
“Lebih ke kedisiplinan. Jadi kayak hasilnya saja enggak terlalu di-overthinking juga sebenarnya. Kalau misalnya ada waktu, there’s time for everything. Jadi ada waktu buat Rubik, ada waktu buat ini. Cuma ngatur-ngatur waktu saja sih sebenarnya,” jelasnya.
Baca juga: Teknik Lingkungan UB Perkuat Riset Pencemaran Bersama BRIN
Dari Kompetitor Menuju Penyelenggara
Setelah bertahun-tahun berada di sisi peserta, Koda kini mulai melihat Rubik dari sisi berbeda. Ia tengah mempersiapkan diri untuk menjadi penyelenggara kompetisi dan berencana mengadakan lomba Rubik di Surabaya.
Kompetisi tersebut nantinya terbuka untuk umum tanpa batasan usia. Syarat utamanya sederhana: peserta mampu menyelesaikan Rubik.
Dari Rubik, COC, hingga perkuliahan, Koda memandang pengalaman sebagai bagian penting dari proses belajar. Ia pun berpesan kepada mahasiswa agar tidak membatasi kehidupan kampus hanya pada aktivitas akademik.
“Jangan anggap kuliah itu itu saja. Kalau misalnya ada opportunity, mau itu ikuti sebuah kegiatan atau lomba, ikutin saja,” kata Koda.
“Kalau misalnya lomba seperti tadi, mungkin kalian enggak dapat juara satu atau dapat juara, tapi yang penting kalian dapat experience atau bisa juga mengenali teman-teman baru,” pungkasnya. (Afr)














