Oleh: Dr. drg. Merlya Balbeid, M.MRS*
Kanal24, Malang – Kesehatan gigi anak sering kali baru mendapat perhatian ketika rasa sakit mulai muncul atau ketika gigi sudah mengalami kerusakan. Padahal, dalam kedokteran gigi, persoalan kesehatan tidak seharusnya selalu menunggu sampai masuk pada tahap pengobatan. Pencegahan dan deteksi dini justru menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan gigi anak sejak awal.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Kampung Lingkar Kampus (KLK) Universitas Brawijaya. Melalui kolaborasi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Brawijaya, upaya menjaga kesehatan anak dilakukan tidak hanya melalui pemeriksaan gigi, tetapi juga dengan melihat perilaku kesehatan, pola konsumsi makanan, peran orang tua, hingga lingkungan sekolah.
Baca juga:
Ruang Digital dan Resiko Perlindungan Anak

Anak usia sekolah dasar, khususnya 6–12 tahun, berada pada fase penting karena gigi permanen mulai tumbuh. Pada usia ini, pencegahan menjadi sangat berarti agar kerusakan gigi tidak berkembang menjadi persoalan yang membutuhkan tindakan lebih kompleks.
Karies Tidak Hanya Persoalan Gigi
Dalam kedokteran maupun kedokteran gigi, terdapat pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Sebagai seseorang yang memiliki perhatian pada preventive dentistry, saya melihat upaya promotif dan preventif perlu diperkuat sejak anak belum mengalami kerusakan gigi yang berat.
Karies tidak berdiri sendiri sebagai persoalan pada gigi. Ada perilaku yang turut memengaruhinya. Misalnya, kebiasaan menyikat gigi, konsumsi makanan manis, hingga aturan yang diterapkan di rumah.
Anak yang terbiasa mengonsumsi makanan dengan kandungan gula tinggi, terutama makanan yang lengket, memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Karena itu, edukasi kepada anak saja tidak cukup. Orang tua juga perlu memahami kebiasaan apa yang perlu dibangun di rumah.
Hal yang sama berlaku di sekolah. Anak menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan sekolah. Karena itu, lingkungan sekolah juga perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan gigi anak.
Inilah alasan kolaborasi dengan Program Studi Gizi FIKES menjadi penting. Edukasi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan gigi, tetapi juga dengan pilihan makanan yang bergizi sekaligus tidak meningkatkan risiko terjadinya karies.
Deteksi Dini Membuka Ruang Pencegahan
Sebelum menentukan tindakan, kita perlu mengetahui kondisi dan tingkat risiko karies pada anak. Karena itu, salah satu inovasi yang sedang kami kembangkan adalah aplikasi Maintain, yang diarahkan sebagai alat untuk melakukan penilaian risiko karies secara lebih mudah.
Aplikasi tersebut dikembangkan untuk membantu pemeriksaan dan pemetaan kondisi kesehatan gigi anak. Pemeriksaan mencakup kondisi gigi, termasuk jumlah gigi yang berlubang, dicabut, maupun ditambal. Selain itu, informasi dari orang tua dan sekolah juga menjadi bagian dari pendekatan yang digunakan.
Pendekatan ini penting karena risiko karies seorang anak tidak hanya dapat dilihat dari kondisi giginya. Perilaku di rumah dan kondisi lingkungan sekolah juga perlu diketahui.
Selama ini, pemeriksaan di lapangan dapat menghadapi berbagai keterbatasan. Karena itu, digitalisasi diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan melakukan skrining secara lebih praktis sekaligus menghasilkan data yang dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan pencegahan.
Maintain telah melalui uji coba di beberapa sekolah di Kota Malang dan masih terus dikembangkan. Versi berbasis Android sebelumnya menjadi bagian dari proses evaluasi, sementara pengembangan berbasis web dilakukan untuk meningkatkan kemudahan dan stabilitas penggunaannya.
Orang Tua dan Sekolah Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Hasil pemeriksaan seharusnya tidak berhenti sebagai angka. Data tentang risiko karies perlu diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat dilakukan oleh anak, orang tua, maupun sekolah.
Jika seorang anak memiliki gigi berlubang, maka diperlukan tindak lanjut. Jika belum terdapat lubang, pencegahan perlu dilakukan. Begitu pula jika ditemukan kebiasaan di rumah yang meningkatkan risiko karies, maka orang tua perlu mendapatkan rekomendasi mengenai perubahan perilaku.
Sekolah juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Kantin sekolah, pilihan makanan, kebiasaan menjaga kebersihan gigi, hingga tindak lanjut rujukan dari Puskesmas perlu menjadi bagian dari ekosistem kesehatan anak.
Dengan demikian, pencegahan karies tidak dapat dibebankan hanya kepada dokter gigi. Ada anak, orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, dan lingkungan yang semuanya memiliki peran.

Menuju Anak Indonesia Bebas Karies
Program KLK memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Kolaborasi FKG dan FIKES UB diharapkan tidak hanya meningkatkan literasi kesehatan gigi dan gizi, tetapi juga membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Ke depan, pemetaan risiko karies diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak sekolah di Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga wilayah Malang Raya. Data yang lebih luas dapat menjadi dasar untuk menentukan intervensi pencegahan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Upaya ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya pada aspek kesehatan, pendidikan, dan kolaborasi.
Kita tentu berharap cita-cita anak Indonesia bebas karies dapat diwujudkan. Namun, target tersebut tidak akan tercapai hanya dengan mengobati gigi yang sudah berlubang. Kita perlu membangun kebiasaan baru: mendeteksi lebih awal, memahami risikonya, dan melakukan pencegahan bersama.
Sebab, menjaga kesehatan gigi anak bukan hanya tentang memastikan mereka tidak sakit hari ini. Ini tentang membangun kebiasaan dan lingkungan yang memungkinkan mereka tumbuh dengan kesehatan yang lebih baik di masa depan.
*) Dr. drg. Merlya Balbeid, M.MRS
Dokter gigi, dosen, peneliti, dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi FKG Universitas Brawijaya (UB).














