Kanal24, Malang – Kepercayaan pasar menjadi salah satu pekerjaan awal yang harus dijaga Menteri Keuangan baru setelah pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan. Pakar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., menilai respons awal pasar terhadap pergantian tersebut menjadi sinyal yang perlu diperhatikan, tetapi arah selanjutnya akan sangat bergantung pada kebijakan konkret yang diambil Menteri Keuangan baru.
Prof. Setyo mengatakan kepercayaan pasar tidak cukup dibangun hanya melalui pergantian figur. Pasar, menurutnya, perlu melihat langkah nyata pemerintah dalam mengelola kebijakan fiskal dan perekonomian dalam beberapa hari hingga minggu setelah pergantian tersebut.
Baca juga:
Jejak Hamid Rusdi Tak Boleh Hilang, Generasi Muda Perlu Kenali Sejarahnya

Respons Awal Pasar Jadi Sinyal
Prof. Setyo menyebut respons pasar terhadap pelantikan Menteri Keuangan baru menunjukkan kecenderungan positif. Ia menyoroti pergerakan indeks harga saham yang menurutnya sempat terkoreksi positif, termasuk sejumlah saham sektor perbankan nasional.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu indikator awal bahwa pasar masih memberikan ruang kepercayaan terhadap figur Menteri Keuangan baru.
“Kepercayaan itu menjadi kunci utama sebetulnya bagi beliau untuk bisa melanjutkan program-program yang selama ini terbengkalai atau masih on progress,” ujar Prof. Setyo dalam wawancara eksklusif dengan Kanal24, Rabu (16/9/2026).
Ia menilai latar belakang Menteri Keuangan baru yang telah lama berada di lingkungan Kementerian Keuangan juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu proses transisi. Pengalaman tersebut dinilai memberikan pemahaman terhadap mekanisme kebijakan fiskal sekaligus berbagai program yang sedang berjalan.
Meski demikian, Prof. Setyo menekankan bahwa respons pasar tidak dapat hanya dibaca dari pergerakan awal. Kebijakan yang benar-benar diambil dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi penentu bagaimana kepercayaan tersebut berkembang.
Kebijakan Konkret Jadi Penentu
Prof. Setyo mengatakan pasar perlu menunggu langkah konkret Menteri Keuangan baru. Menurutnya, kepercayaan tidak akan terbentuk apabila pemerintah hanya berada pada tahap mengamati kondisi tanpa segera menunjukkan arah kebijakan.
“Coba kita lihat dalam beberapa hari ke depan kebijakan apa yang akan beliau sampaikan ke masyarakat,” katanya.
Ia menilai kesinambungan kebijakan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan tersebut. Kebijakan yang sudah berjalan dan dinilai masih relevan tidak harus dihentikan hanya karena terjadi pergantian pejabat.
Sebaliknya, kebijakan yang membutuhkan perbaikan dapat dievaluasi agar pelaksanaannya lebih efektif.
Dalam konteks tersebut, Prof. Setyo menilai sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, akan menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Ia mengatakan kebijakan anggaran untuk program prioritas pemerintah perlu tetap mempertimbangkan kemampuan fiskal sekaligus efektivitas penggunaannya.
Di sisi lain, reformasi perpajakan juga dinilai perlu terus berjalan. Perbaikan sistem dan prosedur perpajakan diperlukan agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih sederhana dan efisien.
“Reformasi perpajakan dan sebagainya sepertinya ini juga akan terus jalan,” ujarnya.
Disiplin Fiskal dan Kepercayaan Wajib Pajak
Selain kebijakan belanja, tantangan Menteri Keuangan baru juga berkaitan dengan kemampuan menjaga disiplin fiskal. Prof. Setyo menilai pemerintah perlu memastikan defisit anggaran tetap berada dalam batas aturan yang berlaku.
Menurutnya, tantangan tersebut semakin penting ketika memasuki periode akhir tahun. Pada periode tersebut, realisasi belanja pemerintah biasanya meningkat karena berbagai proyek dan program mulai berjalan lebih intensif. Sementara itu, penerimaan negara harus mampu mengikuti kebutuhan pembiayaan tersebut.
“Anggaran sama pembiayaan itu harus berjalan seiringan,” tegasnya.
Ia juga menilai optimalisasi penerimaan pajak tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan masyarakat. Meskipun membayar pajak merupakan kewajiban, kepatuhan masyarakat akan lebih mudah dibangun ketika mereka percaya terhadap pengelolaan penerimaan negara.
Prof. Setyo mengatakan pemerintah perlu memastikan pengelolaan perpajakan berlangsung secara baik serta meminimalkan praktik yang dapat mengurangi kepercayaan masyarakat.
“Kantor Kementerian Perpajakan, oknum-oknum pajak yang selama ini nakal-nakal itu benar-benar harus dikurangi. Kalau bisa dihilangkanlah supaya masyarakat percaya lagi dengan perpajakan kita,” katanya.
Menurutnya, kepercayaan tersebut pada akhirnya tidak hanya berdampak pada penerimaan negara, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjalankan berbagai program pembangunan.
Karena itu, Prof. Setyo menilai langkah Menteri Keuangan baru dalam beberapa minggu pertama akan menjadi perhatian penting. Kebijakan konkret terkait fiskal, perpajakan, belanja negara, dan keberlanjutan program pemerintah akan menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan pasar sekaligus masyarakat terhadap pengelolaan ekonomi nasional. (nid)













