Kanal24, Malang – Masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pemerintah dan industri. Dari ruang kampus, mahasiswa juga memiliki ruang untuk mempertanyakan, memahami, sekaligus menawarkan solusi atas persoalan energi yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk soal subsidi.
Gagasan tersebut dibawa BPH Migas melalui kegiatan Goes to Campus di Universitas Brawijaya, Rabu (16/9/2026). Bertempat di Auditorium Algoritma Lantai 2 FILKOM UB, diskusi bertema “Subsidi Tepat bagi Masyarakat yang Berhak” mengajak mahasiswa memahami tata kelola energi sekaligus melihat perannya sebagai generasi muda dalam menghadapi tantangan energi Indonesia.
Baca Juga:
8 Mahasiswa Internasional Mulai Kenali Indonesia Lewat BIPA UB
Mahasiswa Diajak Pikirkan Masa Depan Energi
Anggota Komite BPH Migas Dr. Baskara Agung Wibawa mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengajak generasi muda ikut memikirkan masa depan energi Indonesia. Menurutnya, terdapat tiga persoalan utama yang perlu menjadi perhatian, yakni ketersediaan energi, keterjangkauan energi, dan transisi energi.

“Kami mengajak anak-anak muda untuk memikirkan masa depan energi Indonesia,” ujar Baskara.
Ia menilai lingkungan kampus memiliki potensi besar untuk melahirkan gagasan baru karena mahasiswa mempunyai daya kritis, keberanian, inovasi, serta daya dobrak. Karena itu, mahasiswa tidak hanya didorong memahami persoalan energi, tetapi juga melihat sektor energi sebagai ruang pengembangan karier.
Rektor UB Prof. Widodo S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc. mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, sosialisasi BPH Migas memberikan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai tata kelola minyak dan gas bumi, pengawasan, hingga bagaimana energi dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Ia menilai mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa perlu memahami bagaimana sumber daya energi dikelola negara dan dimanfaatkan untuk masyarakat, termasuk melalui subsidi bagi kelompok yang membutuhkan.
Generasi Muda Didorong Jadi Agen Perubahan
Baskara mengatakan mahasiswa memiliki posisi penting sebagai agen perubahan dalam membangun pemahaman masyarakat mengenai subsidi. Ia menilai mahasiswa perlu memiliki pemahaman yang tepat agar mampu membedakan informasi berdasarkan fakta dengan informasi yang belum terverifikasi.
“Diharapkan setelah mahasiswa mengerti itu bisa menjadi agen-agen perubahan tentang subsidi ini,” jelasnya.
Selain menjadi penyampai informasi, generasi muda juga didorong memberikan kontribusi melalui inovasi. Baskara berharap mahasiswa mampu menghasilkan solusi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan energi Indonesia.
Daya kritis mahasiswa juga dinilai penting dalam mengawal persoalan energi. Menurut Baskara, apabila menemukan persoalan, mahasiswa perlu menyampaikannya secara terukur dan solutif sehingga dapat menjadi masukan yang dapat ditindaklanjuti.
Ia turut menyoroti tantangan dalam mengedukasi masyarakat mengenai subsidi. Salah satunya adalah anggapan bahwa Indonesia memiliki kekayaan minyak yang besar sehingga kebutuhan dalam negeri dapat sepenuhnya dipenuhi dari produksi nasional. Menurut Baskara, konsumsi minyak Indonesia lebih besar dibandingkan produksinya.
Selain itu, disparitas harga antara produk subsidi dan nonsubsidi juga menjadi persoalan. Perbedaan harga tersebut dapat mendorong pergeseran konsumsi masyarakat dari produk nonsubsidi ke produk subsidi.
Karena itu, BPH Migas mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk menggunakan produk nonsubsidi sehingga subsidi dapat lebih tepat diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Jejaring Buka Peluang Mahasiswa Berkarya
Bagi UB, kegiatan BPH Migas Goes to Campus tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa membangun jejaring dengan lembaga dan perusahaan di sektor energi.
Prof. Widodo menyebut kehadiran BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa mengenal dunia profesional secara lebih dekat. Jejaring tersebut juga dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengikuti internship dan mengembangkan karier di sektor energi.
Menurutnya, pengembangan kompetensi mahasiswa tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan dan praktikum. Kemampuan berkomunikasi, membangun jejaring, memahami persoalan masyarakat, serta mengetahui peran negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membentuk calon pemimpin.
Sementara itu, Baskara berharap mahasiswa UB dapat menghasilkan inovasi dan solusi bagi persoalan energi Indonesia. Ia juga mendorong mahasiswa menyampaikan persoalan terkait subsidi melalui jalur resmi BPH Migas agar laporan dapat diterima dan ditindaklanjuti secara lebih cepat.
Melalui kegiatan BPH Migas Goes to Campus, mahasiswa UB didorong tidak berhenti pada pemahaman mengenai kebijakan subsidi. Mereka juga diharapkan mampu mengambil peran melalui inovasi, pemikiran kritis, dan penyampaian informasi yang tepat kepada masyarakat. (gal)













