Kanal24, Malang – Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan tersendiri dalam menata wilayah. Perencanaan pembangunan tidak cukup hanya melihat daratan, tetapi juga perlu memahami hubungan antar pulau serta peran laut dan air dalam kehidupan masyarakat. Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kuliah tamu dan bedah buku Menata Kembali Ke-Indonesia-An Melalui Perencanaan Wilayah dan Kota.
Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan has.id menghadirkan diskusi tersebut di Auditorium Surjono Lantai 2 Gedung Dekanat Fakultas Teknik UB, Jumat (18/9/2026). Kegiatan menghadirkan Dr. phil. Hendricus Andy Simarmata, S.T., M.Si., untuk membagikan pengalaman sekitar 25 tahun di bidang perencanaan wilayah dan kota sekaligus memperluas perspektif mahasiswa PWK.
AI Makin Masuk Dunia Pendidikan, FIB UB Dorong Mahasiswa Tetap Kritis
PWK Tidak Hanya Bicara Soal Teknis
Ketua Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik UB, Dr. Eng. I Nyoman Suluh Wijaya, S.T., M.T., mengatakan mahasiswa membutuhkan wawasan yang lebih luas dari sekadar pembelajaran di dalam kampus.

Menurutnya, pengalaman praktisi di tingkat nasional hingga internasional dapat memberikan sudut pandang berbeda kepada mahasiswa. Terlebih, Andy Simarmata memiliki pengalaman di dunia perencanaan serta pernah menjadi Ketua Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP).
Pengalaman tersebut dinilai penting karena perencanaan wilayah dan kota tidak hanya berbicara mengenai aspek teknis, tetapi juga menyangkut bagaimana sebuah wilayah dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan konteksnya.
Nyoman berharap mahasiswa semester satu hingga delapan yang mengikuti kegiatan dapat melihat bahwa dunia PWK memiliki cakupan yang lebih luas daripada materi yang diperoleh di ruang kuliah.
“Bisa paling enggak wawasannya itu ternyata PWK tuh seperti itu, bukan hanya apa yang mereka dapatkan dari kampus saja,” ujar Nyoman.
Menurut Nyoman, pembangunan sendiri tidak dapat dilepaskan dari persoalan sosial, lingkungan, dan ekonomi. Seluruh persoalan tersebut membutuhkan ruang yang dirancang dan dianalisis secara tepat.
“Kalau ruangnya itu tidak pernah didesain, tidak pernah dianalisis, ya pembangunan tuh enggak akan kontekstual atau tidak bisa menjawab kebutuhan sebenarnya apa,” jelasnya.
Karena itu, perspektif perencanaan, khususnya tata ruang, dinilai penting untuk menentukan bagaimana arah pembangunan dapat berjalan sesuai kebutuhan wilayah, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Bedah Buku Buka Perspektif Indonesia Kepulauan
Ketua Kompartemen Perancangan Kota sekaligus Dosen Tetap Departemen PWK Fakultas Teknik UB, Wulan Dwi Purnamasari, S.T., M.T., menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan perspektif profesional kepada mahasiswa.

Andy Simarmata dipilih karena memiliki pengalaman sekitar 25 tahun di bidang PWK. Pengalaman tersebut kemudian dibawa ke ruang akademik melalui kuliah tamu sekaligus bedah buku yang mengangkat gagasan tentang menata kembali Indonesia dari perspektif perencanaan wilayah dan kota.
Menurut Wulan, tema buku tersebut relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Mahasiswa perlu melihat Indonesia tidak hanya dari daratan, tetapi juga memahami hubungan antarpulau sebagai bagian dari tantangan perencanaan.
“Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak sekali tantangan perencanaannya, sehingga adik-adik punya perspektif baru bahwa Indonesia itu jangan dilihat daratannya saja,” kata Wulan.
Selain membuka perspektif baru, kegiatan ini ditujukan untuk mendorong mahasiswa berpikir lebih kritis. Diskusi juga melibatkan Ikatan Ahli Perencana (IAP) Jawa Timur, Bappeda Kota Malang, serta kolega PWK dari ITN untuk mempertemukan lebih banyak sudut pandang profesional.
Kehadiran berbagai pihak tersebut diharapkan memperkaya diskusi mahasiswa mengenai persoalan perencanaan wilayah dan kota dari sisi akademik maupun praktik.
Wulan berharap pengetahuan yang diperoleh melalui kuliah tamu dan bedah buku dapat diterapkan mahasiswa. Kerja sama dengan para kolega juga diharapkan terus berkembang untuk mendukung peningkatan kualitas perencanaan di Indonesia.
Laut dan Air Jadi Bagian Penting Perencanaan
Andy Simarmata menjelaskan buku Menata Kembali Ke-Indonesia-An Melalui Perencanaan Wilayah dan Kota merupakan sari dari perjalanan keprofesiannya selama sekitar 25 tahun sebagai planner dan scholar.

Buku tersebut merupakan refleksi dari berbagai diskusi dan hasil karya yang menurutnya menunjukkan masih adanya hal yang perlu disempurnakan dalam pendekatan perencanaan wilayah dan kota di Indonesia.
“Buku ini merupakan inti sari atau sari dari perjalanan keprofesian selama 25 tahun saya sebagai profesional planner maupun juga scholar,” ujar Andy.
Salah satu persoalan mendasar yang diangkat adalah cara pandang dalam membaca wilayah Indonesia. Andy menilai laut selama ini kerap ditempatkan sebagai batas dalam perencanaan. Padahal, laut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang seharusnya menjadi bagian integral dari perencanaan.
Ia juga menyoroti posisi air dalam pembangunan kota. Menurutnya, air tidak seharusnya dipandang sebagai elemen pelengkap. Dari pemikiran tersebut, ia mendorong pendekatan kota ramah air dan konsep tanah air dalam melihat wilayah Indonesia.
Andy kemudian menawarkan pendekatan urban metabolism untuk membaca persoalan pembangunan melalui berbagai aliran yang terjadi di dalam kota. Mulai dari aliran energi, air, orang, hingga barang perlu dipetakan untuk mengetahui titik-titik persoalan dalam suatu wilayah.
“Bagaimana persoalan-persoalan pembangunan itu harus dilihat dari kacamata metabolisme kota. Artinya aliran energi, aliran air, aliran orang, barang itu selalu harus dipetakan dengan baik,” jelasnya.
Ke depan, Andy mendorong agar perencanaan wilayah Indonesia kembali memperhatikan nilai budaya dan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan tropis. Menurutnya, riset di bidang PWK perlu kembali memahami hubungan masyarakat dengan tanah dan air.
Selain riset, ia juga mendorong adanya advokasi terhadap kebijakan, peraturan, dan standar perencanaan agar lebih merefleksikan karakter Indonesia.
Andy berharap pengetahuan, praktik, dan riset yang berkembang dari konteks Indonesia dapat turut memberikan kontribusi bagi dunia perencanaan secara lebih luas.
Bagi Departemen PWK Fakultas Teknik UB, kegiatan tersebut diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas. Tidak hanya melalui kuliah tamu, tetapi juga kerja sama keilmuan yang dapat mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman profesional di bidang perencanaan wilayah dan kota. (ern)














