Berawal dari tugas kuliah, sebuah persoalan sederhana di sekitar lingkungan justru berkembang menjadi ide penelitian. Ketika limbah deterjen rumah tangga menjadi perhatian, mahasiswa UB melihat peluang lain dari bahan yang selama ini dianggap tidak terpakai, yaitu kulit pisang.
Ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi CLEANSO PKM Deterjen Ramah Lingkungan oleh Syahfa Aulia Nurfaradilla, mahasiswa Program Studi Teknik Bioproses FTP UB. CLEANSO diperkenalkan dalam kegiatan Podcast Last Talk UBTV di Lorong Studio UBTV, lantai 2 Gedung Rektorat UB, Rabu (23/9/2026).
Baca juga:
Undip Studi Tiru Zona Integritas ke UB, Pelajari Transformasi Budaya Birokrasi
Berawal dari Persoalan Limbah Deterjen
Syahfa mengatakan, gagasan CLEANSO muncul setelah tim melihat kondisi lingkungan perairan yang cukup tercemar. Mereka kemudian mengidentifikasi limbah rumah tangga, khususnya deterjen, sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.
āSebagian besar akibat pencemaran di air itu karena limbah rumah tangga, terutama deterjen,ā ujar Syahfa.
Persoalan tersebut mendorong tim melakukan brainstorming untuk mencari alternatif produk yang tetap dapat digunakan sebagai deterjen, tetapi memanfaatkan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Kulit Pisang Jadi Alternatif Surfaktan
Dalam pengembangannya, tim melihat potensi kulit pisang sebagai sumber surfaktan alami. Potensi tersebut dinilai relevan karena kulit pisang tersedia cukup melimpah di wilayah Malang.
āDari situ kami mulai memikirkan untuk menciptakan deterjennya ramah lingkungan dan juga kami juga melihat potensi kulit pisang sebagai sumber surfaktan alami di mana di Malang sendiri juga terdapat kulit pisang yang cukup melimpah,ā jelasnya.
Untuk menghasilkan produk, tim tidak langsung berhenti pada tahap ide. Mereka melakukan kajian literatur dan serangkaian percobaan untuk menentukan formulasi yang sesuai, termasuk menguji kestabilan produk hingga memperoleh formulasi yang dinilai stabil.
Formulasi Jadi Tantangan Terbesar
Proses pengembangan CLEANSO tidak lepas dari tantangan teknis. Syahfa menyebut formulasi menjadi tantangan terbesar karena surfaktan alami yang digunakan sensitif terhadap perubahan suhu.
āKarena dari Cer sendiri kan kami menggunakan surfaktan alami di mana surfaktan alami itu sangat sensitif terhadap perubahan suhu,ā katanya.
Untuk mengatasinya, tim mencari bahan yang dapat membantu menjaga kestabilan produk, terutama agar tekstur deterjen tetap sesuai dengan formulasi yang diinginkan.
āJadi, kami juga harus mencari ee bahan untuk membantu menstabilkan supaya deterjennya itu tetap seperti tekstur yang emang memang kami inginkan. Jadi tidak terlalu encer ataupun tidak terlalu kental,ā pungkas Syahfa. (ern)














