Kanal24, Malang – Mahasiswa didorong tidak hanya memahami isu pembangunan berkelanjutan, tetapi juga mengambil peran sebagai penggerak di lingkungan sekitarnya. Peran tersebut dinilai penting untuk memperkuat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang menargetkan berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dorongan itu menjadi salah satu fokus Brawijaya SDG’s Summit 2026 yang digelar Universitas Brawijaya (UB) di Ruang Jamuan Lantai 6 Gedung Rektorat UB, Rabu (23/9/2026). Kegiatan dikemas melalui talk show interaktif, workshop, serta kompetisi yang melibatkan pelajar dan mahasiswa.
Baja juga:
Hamid Rusdi Dikenalkan Kembali Lewat Karya Visual Digital
Summit Dorong Literasi SDGs
Ketua Pelaksana Brawijaya SDG’s Summit 2026, Yoga Rendysa Galang, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk ikut mendorong percepatan pencapaian SDGs.

Menurutnya, mahasiswa memiliki ruang untuk menjadi role model bagi teman sebaya sekaligus ikut memperluas literasi masyarakat mengenai pembangunan berkelanjutan.
“Kami ingin mendorong percepatan dari ketercapaian SDGs itu sendiri. Kami sebagai mahasiswa menanggapi ini sebagai salah satu momen yang paling tepat untuk kami dalam mendorong pertumbuhan tersebut,” ujar Yoga.
Tahun ini, summit dikemas melalui talk show interaktif dengan menghadirkan empat perspektif. Presiden Eksekutif Mahasiswa UB 2026 Azhar Zidane mewakili mahasiswa, dosen UB sekaligus GIS enthusiast Adipandang Yudono dari kalangan akademisi, Asfa Agustina Nusba Aini dari Bappeda Kota Malang mewakili pemerintah, serta Natasha Kenira sebagai influencer dan clean energy enthusiast.
Yoga mengatakan format tersebut dipilih agar pembahasan SDGs lebih mudah dipahami generasi Z.
Kompetisi Hadirkan Inovasi Mahasiswa
Wakil Ketua Pelaksana, Abelina Abtari Chandra, mengatakan rangkaian summit juga diisi workshop dan kompetisi. Untuk pelajar SMA, panitia menghadirkan Brawijaya SDG Student Ambassador.

Sementara untuk mahasiswa, digelar Brawijaya Sustainable Strategic Innovation Contest (BSSIC) tingkat nasional. Kompetisi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan inovasi dan hasil riset yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan.
BSSIC 2026 diikuti 17 perguruan tinggi di Indonesia. Sejumlah peserta berasal dari perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada.
“BSSIC 2026 atau Brawijaya Sustainable Strategic Innovation Contest ini telah diikuti oleh 17 perguruan tinggi di Indonesia dari UI, ITB, UGM, dan juga universitas lainnya,” jelas Yoga.
Menurutnya, keberadaan BSSIC juga menjadi bagian dari upaya mendorong mahasiswa menghasilkan gagasan yang dapat mendukung pembangunan yang lebih sustainable.
Selain kompetisi, peserta mendapatkan pembekalan melalui workshop mengenai SDGs. Program tersebut diharapkan membantu peserta memahami isu pembangunan berkelanjutan secara lebih aplikatif.
Tak Berhenti di Hari Pelaksanaan
Presiden Eksekutif Mahasiswa UB 2026, Azhar Zidane, menekankan bahwa keberlanjutan menjadi bagian penting dari pelaksanaan program tersebut.

Menurutnya, Brawijaya SDG’s Summit tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Peserta diharapkan membawa pengetahuan dan gagasan yang diperoleh untuk kemudian diterapkan di lingkungan masing-masing.
“Harapannya tidak berhenti pada acara seremonial ini. Namun pasca itunya yang tadi bisa memantik teman-teman semuanya menjadi penggerak dalam SDGs ini,” kata Azhar.
Yoga menambahkan, keberlanjutan kampanye akan dilakukan melalui Brawijaya SDG Student Ambassador. Para ambassador diharapkan dapat terus mengkampanyekan SDGs kepada teman sebaya.
Kampanye tersebut juga akan dilanjutkan melalui program kerja Kementerian Lingkungan Hidup Eksekutif Mahasiswa UB.
Yoga berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong pelajar dan mahasiswa untuk lebih memahami pembangunan berkelanjutan. (ern)














