Kanal24, Malang – Harga cabai dan beras kembali menjadi sorotan menjelang rilis inflasi September 2026. Kenaikan dua komoditas pangan tersebut diperkirakan turut memberikan tekanan terhadap inflasi nasional pada akhir bulan.
Ekonom BCA David Sumual memperkirakan inflasi September 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,36 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Cabai menjadi salah satu komoditas yang dinilai memberikan tekanan terhadap pergerakan harga pangan.
Baca juga:
Tumpukan Utang Makin Berat? Ini Cara Melunasinya
Harga Cabai Melonjak
Pergerakan harga cabai menjadi salah satu perhatian utama pada September 2026. Harga cabai rawit merah pada 29 September tercatat sekitar Rp109.000 per kilogram, setelah mengalami kenaikan 13,72 persen dalam sehari.
Harga cabai merah keriting juga berada di kisaran Rp75.900 per kilogram. Sementara cabai rawit hijau mencapai sekitar Rp74.400 per kilogram.
Kenaikan terjadi pada beberapa jenis cabai sekaligus. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga tidak hanya berasal dari satu komoditas, tetapi juga berkaitan dengan kondisi pasokan dan distribusi pangan di sejumlah daerah.
Badan Pusat Statistik sebelumnya mencatat cabai menjadi salah satu komoditas yang mendorong kenaikan Indeks Perubahan Harga (IPH) di sejumlah wilayah pada pekan ketiga September. Cabai rawit dan cabai merah termasuk komoditas yang perlu diperhatikan dalam perkembangan harga pangan.
Faktor produksi turut memengaruhi harga cabai. Kondisi cuaca dan kekeringan di sejumlah daerah dapat berdampak terhadap produksi sehingga berpotensi mengurangi pasokan ketika permintaan masyarakat tetap tinggi.
Harga Beras Ikut Naik
Selain cabai, harga beras juga menunjukkan kenaikan. Pada pekan ketiga September 2026, harga beras medium secara nasional meningkat 0,76 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Sementara itu, harga beras premium naik 0,69 persen. Rata-rata harga beras medium nasional pada periode tersebut mencapai sekitar Rp14.644 per kilogram.
Kenaikan harga beras menjadi perhatian karena komoditas tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Perubahan harga beras dapat langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga, terutama jika kenaikan berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.
Beras juga sebelumnya memberikan tekanan terhadap inflasi Agustus 2026. Pada bulan tersebut, inflasi nasional tercatat sebesar 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terhadap inflasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan harga pangan masih menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga nasional.
Bank Indonesia mencatat kelompok volatile food mengalami inflasi 0,88 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Tekanan Inflasi Masih Dipantau
Pergerakan harga cabai dan beras membuat komponen pangan menjadi perhatian menjelang akhir September. Selain dua komoditas tersebut, harga sejumlah bahan pangan lain juga dapat memengaruhi inflasi selama periode berjalan.
Ekonom CORE Indonesia Eliza Mardian sebelumnya memperkirakan risiko inflasi pangan September masih berada pada level moderat dan bersifat selektif. Cabai rawit dan daging ayam ras termasuk komoditas yang perlu mendapat perhatian dari sisi perkembangan harga.
Pengendalian pasokan dan distribusi menjadi faktor penting untuk menjaga harga pangan tetap stabil. Ketersediaan barang di pasar perlu dijaga agar kenaikan harga di tingkat produksi maupun distribusi tidak berlanjut hingga tingkat konsumen.
Tekanan inflasi juga dapat berasal dari sektor di luar pangan. Pergerakan nilai tukar rupiah dan harga energi, termasuk bahan bakar minyak nonsubsidi, dapat memberikan dampak terhadap biaya transportasi dan distribusi.
Meski demikian, angka inflasi September 2026 secara resmi masih menunggu rilis Badan Pusat Statistik. Perkiraan 3,34 persen secara tahunan dan 0,36 persen secara bulanan masih merupakan proyeksi sebelum data resmi diterbitkan.
Perkembangan harga cabai, beras, serta komoditas pangan lainnya pada penghujung September akan menjadi bagian penting dalam melihat arah inflasi nasional. Bagi masyarakat, perubahan harga pangan juga berkaitan langsung dengan pengeluaran kebutuhan sehari-hari. (ern)














