Kanal24, Malang – Inovasi teknologi untuk pengolahan kakao mengantarkan dua mahasiswa Teknik Elektro Universitas Brawijaya (UB) meraih juara pertama dalam ajang SORE 2 UGM. Mereka adalah Irsyad Annafi Nurhikmah dan Muhammad Zidane Fajarianto, mahasiswa angkatan 2024, yang mengembangkan Cocoflux sebagai sistem penyangraian otomatis.
Cocoflux dikembangkan dari persoalan yang ditemukan tim pada mitra UMKM pengolahan coklat. Inovasi tersebut tidak hanya berangkat dari gagasan teknologi, tetapi juga dari kebutuhan nyata pelaku usaha dalam menjaga kualitas biji kakao selama proses pengolahan. Keduanya membagikan cerita pengembangan karya tersebut dalam sesi wawancara bersama UBTV di Studio UBTV, lantai 2 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Kamis (1/10/2026).
Baca juga:
Dosen Pulang Kampung IPB Dorong KDMP Lumajang Ubah Business Plan Jadi Usaha Nyata
Berangkat dari Potensi Kakao Indonesia
Muhammad Zidane menjelaskan, Cocoflux merupakan sistem penyangraian otomatis yang dirancang setelah tim menemukan persoalan di lapangan. Proses pencarian solusi dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang dihadapi mitra, kemudian dilanjutkan melalui diskusi dan koordinasi.
“Jadi simpelnya karya kami itu adalah Cocoflux yang di mana Cocoflux ini merupakan sistem penyangraian otomatis,” ujar Zidane.
Menurutnya, tim tidak langsung menentukan teknologi yang akan dibuat. Mereka terlebih dahulu menggali persoalan yang dialami mitra UMKM pengolahan coklat. Dari persoalan tersebut, tim kemudian menyusun gagasan dan mendiskusikannya bersama anggota tim maupun mitra.
Irsyad menambahkan, ide pengembangan Cocoflux juga muncul dari keresahan terhadap pemanfaatan potensi biji kakao Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki biji kakao dengan kualitas yang baik, tetapi proses pengolahan secara konvensional masih menjadi persoalan di sejumlah produsen dan UMKM.
“Di mana biji kakao di Indonesia itu sebenarnya memiliki kualitas yang sangat baik, sangat bisa dikatakan istimewa,” kata Irsyad.
Ia menjelaskan, metode penyangraian yang masih dilakukan secara konvensional berpotensi memengaruhi kualitas biji kakao. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi tim untuk mencari solusi berbasis teknologi.
Dikembangkan Bersama Tim dan Dosen
Setelah menemukan persoalan yang hendak diselesaikan, pengembangan Cocoflux dilakukan melalui kolaborasi tim dan pendampingan dosen pembimbing. Zidane mengatakan, tim secara rutin berdiskusi untuk membahas persoalan, alternatif penyelesaian, hingga teknologi yang dapat diterapkan.

“Dari tim itu sendiri kita berdiskusi bagaimana masalahnya, bagaimana penyelesaiannya, bagaimana teknologinya,” jelas Zidane.
Dari rangkaian diskusi tersebut, tim kemudian merumuskan Cocoflux. Gagasan itu selanjutnya dikonsultasikan kepada dosen pembimbing untuk mendapatkan masukan dan pengembangan lebih lanjut.
Koordinasi dilakukan secara intensif, termasuk ketika tim mempersiapkan presentasi di hadapan dewan juri. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kekurangan karya sekaligus memperkuat cara penyampaian gagasan dalam kompetisi.
Proses tersebut menjadi bagian penting karena tim tidak hanya dituntut menghasilkan inovasi, tetapi juga harus mampu menjelaskan persoalan yang ingin diselesaikan serta relevansi solusi yang ditawarkan melalui Cocoflux.
Siapkan Riset dan Prototipe Lanjutan
Dalam proses pengembangan, Irsyad mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah meyakinkan mitra terhadap gagasan Cocoflux. Saat itu, konsep yang ditawarkan masih berada pada tahap ide dan belum melalui riset lebih lanjut.
“Karena ide ini bisa dibilang kan masih di atas kertas, belum dilakukan riset lebih lanjut,” ungkap Irsyad.
Tim kemudian berupaya membangun komunikasi dengan mitra dan menjelaskan potensi solusi yang ditawarkan. Tantangan tersebut sekaligus mendorong tim untuk memperkuat gagasan agar dapat diterima dan dikembangkan bersama.
Setelah meraih juara pertama, Zidane memastikan tim masih memiliki rencana untuk melanjutkan pengembangan Cocoflux. Tahap berikutnya akan diarahkan pada riset lanjutan hingga kemungkinan pembuatan prototipe.
“Pasti bakal ada riset lanjutan. Kemudian dari kami sendiri juga ketika kita misal sudah membuat ide atau gagasan riset kemudian apabila diperlukan kita bisa membuat prototipenya dan juga alatnya,” tutur Zidane.
Jika pengembangan alat telah dilakukan, tim juga membuka peluang untuk mengajukan hak kekayaan intelektual (HKI) atau paten. Dengan demikian, kemenangan dalam SORE 2 UGM menjadi pijakan awal bagi mahasiswa UB untuk membawa Cocoflux dari gagasan kompetisi menuju inovasi yang dapat dikembangkan dan diuji lebih lanjut. (ern)














