Kanal24, Malang – Besarnya anggaran pendidikan belum otomatis menjamin meningkatnya kualitas pembelajaran. Persoalan pendidikan Indonesia masih terlihat dari kemampuan dasar siswa dalam membaca, matematika, dan sains yang belum sejalan dengan besarnya investasi pemerintah di sektor pendidikan.
Pertanyaan mengenai efektivitas anggaran tersebut kembali mencuat setelah sejumlah data menunjukkan adanya jarak antara peningkatan belanja pendidikan dan capaian belajar siswa. Pada 2026, anggaran pendidikan dalam APBN mencapai sekitar Rp769 triliun atau setara 20 persen dari APBN. Namun, peningkatan pembiayaan tersebut masih menghadapi tantangan dalam mengubah proses belajar di sekolah menjadi capaian akademik yang lebih baik.
Anggaran Pendidikan Terus Mengalami Peningkatan
Alokasi pendidikan sebesar 20 persen merupakan amanat konstitusi yang ditujukan untuk mendukung berbagai kebutuhan pendidikan, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas tenaga pendidik, hingga perluasan akses belajar.
Data yang dihimpun dalam sebuah studi menunjukkan bahwa peningkatan belanja pendidikan memang berkontribusi terhadap sejumlah indikator akses pendidikan. Angka Partisipasi Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah mengalami peningkatan seiring bertambahnya pembiayaan.
Namun, peningkatan akses tersebut belum sepenuhnya beriringan dengan kualitas hasil belajar. Studi yang menggunakan data dari 34 provinsi menemukan bahwa peningkatan pembiayaan dan output pendidikan belum diikuti peningkatan outcome pembelajaran secara konsisten. Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar anggaran yang tersedia, tetapi juga bagaimana anggaran tersebut digunakan.
Kemampuan Dasar Siswa Masih Menjadi Tantangan
Persoalan tersebut tercermin dalam capaian akademik siswa. Data PISA 2022 menunjukkan kemampuan siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD dalam matematika, membaca, dan sains.
Dalam matematika, hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat kompetensi minimum Level 2. Untuk membaca, proporsinya sekitar 25 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang bersekolah tetapi belum memperoleh kemampuan dasar sesuai yang diharapkan.
Kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa peningkatan akses pendidikan belum otomatis menyelesaikan persoalan pembelajaran. Kualitas guru, lingkungan belajar, fasilitas sekolah, kondisi sosial ekonomi keluarga, hingga kesenjangan antarwilayah turut memengaruhi pengalaman dan hasil belajar siswa.
Persoalan Bukan Sekadar Besarnya Anggaran
Karena itu, efektivitas anggaran pendidikan perlu dilihat dari dampaknya terhadap proses pembelajaran, bukan semata dari besarnya nominal yang dialokasikan. Pemerataan fasilitas, peningkatan kompetensi guru, serta penguatan kualitas pembelajaran menjadi bagian penting dalam memastikan belanja pendidikan menghasilkan perubahan nyata.
Perdebatan mengenai penggunaan anggaran pendidikan juga menunjukkan pentingnya menjaga agar pembiayaan tetap mampu menjawab kebutuhan dasar sekolah dan peserta didik. Sejumlah pihak menekankan bahwa pemenuhan standar nasional pendidikan, termasuk kualitas pendidik, sarana prasarana, proses pembelajaran, dan pengelolaan sekolah, perlu menjadi perhatian utama.
Dengan demikian, tantangan pendidikan Indonesia bukan hanya bagaimana meningkatkan anggaran, tetapi memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar berkontribusi terhadap kualitas pembelajaran. Besarnya anggaran menjadi modal, sementara pemerataan, tata kelola, dan ketepatan program menjadi faktor yang menentukan dampaknya bagi siswa.(ffn)














