Kanal24, Malang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menguji sistem penyajian prasmanan di sejumlah sekolah. Melalui skema ini, makanan yang sebelumnya dibagikan dalam porsi individual disajikan secara langsung agar siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan. Perubahan tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas penyajian sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program pemenuhan gizi di lingkungan sekolah.
Badan Gizi Nasional (BGN) menguji sistem ini untuk mencapai sejumlah tujuan, mulai dari menjaga makanan tetap hangat, memperpendek waktu penyajian, hingga mengurangi makanan yang terbuang. Lebih dari itu, pola prasmanan juga membuka peluang untuk mengenalkan kebiasaan makan yang sehat, menjaga kebersihan, dan menumbuhkan tanggung jawab siswa. Meski demikian, efektivitas penerapannya masih perlu dilihat melalui proses evaluasi.
Baca juga:
MAG Scholar Soroti Tantangan Bisnis di Era Digital dan Berkelanjutan
MBG Prasmanan Mulai Diuji di Sekolah
Sistem prasmanan membawa perubahan pada mekanisme penyajian makanan dalam program MBG. Jika sebelumnya makanan disiapkan dalam porsi individual sebelum didistribusikan, skema baru memungkinkan makanan disajikan langsung di sekolah setelah dibawa dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dalam uji coba tersebut, makanan disiapkan oleh SPPG untuk kemudian dibawa ke sekolah dalam kondisi hangat. Selanjutnya, makanan disajikan kepada siswa sesuai mekanisme yang diterapkan di masing-masing sekolah.
BGN mulai menguji pola ini di lebih dari 60 dapur SPPG yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jayapura termasuk wilayah yang masuk dalam pelaksanaan uji coba.
Penerapan sistem prasmanan masih berada dalam tahap pengujian. Karena itu, skema tersebut belum dapat dianggap sebagai pengganti menyeluruh terhadap sistem pembagian MBG yang telah berjalan sebelumnya.
Evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah pola penyajian baru benar-benar memberikan manfaat dari sisi kualitas makanan, efisiensi distribusi, dan kenyamanan penerima manfaat. Kesiapan sekolah, ketersediaan fasilitas, serta sumber daya manusia juga menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan.
Konsep penyajian ini memiliki kemiripan dengan sistem makan di sekolah Jepang yang dikenal sebagai kyushoku. Dalam praktik tersebut, kegiatan makan bersama juga menjadi bagian dari pembelajaran mengenai kebersihan, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Meski demikian, penerapan di Indonesia tetap perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah, karakteristik siswa, dan mekanisme operasional MBG.
Enam Tujuan di Balik Sistem Prasmanan
Uji coba MBG prasmanan diarahkan untuk mencapai sejumlah tujuan yang berkaitan dengan kualitas makanan dan kebiasaan makan siswa.
Tujuan pertama adalah menjaga makanan tetap hangat dan segar ketika dikonsumsi. Penyajian langsung di sekolah diharapkan dapat membantu mempertahankan kualitas makanan hingga waktu makan tiba.
Kedua, sistem ini ditujukan untuk memperpendek jeda antara makanan selesai disiapkan dan dikonsumsi. Pengelolaan waktu penyajian menjadi penting karena kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh proses memasak, tetapi juga oleh penanganan selama distribusi.
Ketiga, sistem prasmanan diharapkan mampu mengurangi makanan yang terbuang atau food waste. Melalui pola ini, siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan, sehingga jumlah makanan yang tersisa berpotensi ditekan.
Keempat, siswa didorong untuk mengenali kebutuhan makan masing-masing. Mereka dapat belajar memperkirakan porsi yang sesuai dengan kemampuan menghabiskan makanan, alih-alih mengambil dalam jumlah berlebihan.
Kelima, sistem prasmanan dapat menjadi sarana pembelajaran mengenai kebersihan dan kedisiplinan. Siswa perlu mengikuti tata cara mengambil makanan, menjaga kebersihan peralatan, serta memastikan area makan tetap tertib.
Keenam, kegiatan makan bersama dapat dimanfaatkan untuk menanamkan tanggung jawab dan penghargaan terhadap makanan. Kebiasaan sederhana seperti mengambil secukupnya dan tidak menyisakan makanan dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter di sekolah.
Kendati demikian, enam tujuan tersebut perlu didukung pelaksanaan yang konsisten. Pengurangan sisa makanan, misalnya, tidak otomatis terjadi hanya karena sistem penyajian berubah. Siswa tetap perlu mendapatkan arahan agar mampu mengambil makanan secara bijak.
Dengan demikian, keberhasilan sistem prasmanan tidak cukup diukur dari perubahan mekanisme pembagian makanan. Hasilnya juga perlu dilihat dari kualitas makanan yang dikonsumsi, jumlah makanan tersisa, serta perubahan kebiasaan siswa selama program berlangsung.
Keamanan Pangan Jadi Penentu
Penerapan sistem prasmanan membuat peran sekolah semakin penting dalam pelaksanaan MBG. Sekolah tidak hanya menjadi tempat penerima manfaat, tetapi juga perlu memastikan proses penyajian berlangsung tertib, bersih, dan aman.
Keterlibatan guru serta tenaga pendukung dibutuhkan untuk mengarahkan siswa mengikuti prosedur yang telah ditentukan. Apabila siswa dilibatkan dalam kegiatan pelayanan secara bergantian, pelaksanaannya juga harus memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan.
Selain sumber daya manusia, kesiapan fasilitas sekolah menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Area penyajian, perlengkapan makan, kebersihan lingkungan, serta mekanisme distribusi perlu disesuaikan dengan kebutuhan sistem prasmanan.
Aspek keamanan pangan juga harus menjadi perhatian utama. Makanan perlu ditangani dengan benar sejak proses memasak, pengangkutan, hingga penyajian. Menjaga makanan tetap hangat tidak cukup jika prosedur kebersihan dan penanganan pangan tidak dijalankan dengan baik.
Karena itu, evaluasi uji coba perlu mencakup berbagai indikator, mulai dari kualitas dan keamanan makanan, kenyamanan siswa, tingkat kepuasan penerima manfaat, hingga jumlah makanan yang tersisa.
Hasil evaluasi tersebut akan membantu menentukan apakah sistem prasmanan efektif diterapkan secara lebih luas atau masih membutuhkan penyesuaian. Kondisi setiap sekolah yang berbeda juga perlu menjadi pertimbangan agar penerapan program tidak hanya berorientasi pada perubahan mekanisme penyajian.
Pada akhirnya, MBG prasmanan bukan sekadar pergantian cara membagikan makanan. Sistem ini membawa peluang untuk meningkatkan kualitas penyajian sekaligus menjadikan aktivitas makan sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah.
Namun, tujuan tersebut hanya dapat tercapai jika kualitas gizi, keamanan pangan, kesiapan sekolah, dan edukasi kepada siswa berjalan beriringan. Dengan evaluasi yang terukur, uji coba ini dapat menjadi bahan penting untuk menentukan pola penyajian MBG yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. (ern)














