Kanal24, Malang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera Selatan (Sumsel) masih menjadi tantangan dalam penanganan bencana lingkungan. Meski upaya pemadaman terus dilakukan, titik panas dan kabut asap masih ditemukan di sejumlah lokasi hingga Oktober 2026.
Salah satu faktor yang membuat kebakaran sulit dikendalikan adalah karakteristik lahan gambut. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat merambat ke lapisan organik di bawah tanah. Akibatnya, bara dapat bertahan meskipun kobaran api tidak lagi terlihat dan berpotensi memicu kebakaran kembali ketika kondisi mengering.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Barton Panjaitan, menjelaskan bahwa pemadaman karhutla perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk pendinginan dan pembasahan lapisan gambut untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Baca juga:
Komunikasi Krisis Karhutla: Ketika Pemerintah Sibuk Membela Diri
Bara di Dalam Gambut Membuat Api Sulit Dipadamkan
Lahan gambut memiliki lapisan material organik yang dapat menyimpan bara ketika terbakar. Dalam kondisi kering, api dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat oleh petugas dari luar.
Situasi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang. Petugas tidak cukup hanya memadamkan api yang tampak di permukaan, tetapi juga harus memastikan lapisan gambut yang terbakar telah mengalami pendinginan secara menyeluruh.
Barton menjelaskan, proses tersebut membutuhkan ketersediaan air, peralatan yang sesuai, serta pemeriksaan berulang di lokasi kebakaran. Tanpa penanganan lanjutan, bara yang masih tertinggal berpotensi kembali menyala dan memunculkan titik api baru.
Karena itu, pemantauan setelah pemadaman menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla, terutama pada wilayah yang memiliki lahan gambut luas.
Cuaca Kering dan Angin Memperluas Dampak Kebakaran
Selain karakteristik lahan, kondisi cuaca turut memengaruhi perkembangan karhutla. Curah hujan yang rendah membuat vegetasi dan lapisan organik tanah semakin kering sehingga lebih mudah terbakar.
Angin juga dapat mempercepat penyebaran api dan membawa asap menuju wilayah lain. Ketika kebakaran terjadi secara bersamaan di beberapa titik, asap dari berbagai lokasi dapat memperburuk kualitas udara dalam cakupan yang lebih luas.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan pemadaman, tetapi juga pada pemantauan cuaca, deteksi dini titik panas, dan kesiapan sumber daya di lapangan.
Ketersediaan sumber air menjadi tantangan tambahan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya menyebut keterbatasan sumber air sebagai salah satu hambatan pemadaman di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sumur bor dan sarana pendukung lainnya perlu disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan setiap lokasi.
Sinergi Pemadaman Darat dan Udara Diperlukan
Penanganan karhutla membutuhkan koordinasi antara satuan tugas darat, satuan tugas udara, pemerintah daerah, BNPB, TNI, Polri, dan instansi terkait. Setiap unsur memiliki peran dalam menekan penyebaran api dan mengurangi risiko kebakaran berulang.
Satgas darat bertugas melakukan pemadaman langsung, pembasahan lahan, pemeriksaan titik api, serta pemantauan bara yang berpotensi menyala kembali. Sementara itu, operasi pemboman air atau water bombing dapat membantu menjangkau titik kebakaran tertentu, terutama ketika akses darat sulit.
Meski demikian, pemadaman dari udara tetap perlu didukung penanganan langsung di lapangan. Pembasahan dan pemeriksaan lapisan gambut diperlukan untuk memastikan api tidak bertahan di bawah permukaan tanah.
Kombinasi kedua metode tersebut perlu disertai evaluasi berkala agar sumber daya pemadaman dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan penanganan.

Kabut Asap Mengancam Kesehatan dan Aktivitas Masyarakat
Dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan hutan dan lahan. Kabut asap yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama ketika konsentrasi partikel pencemar meningkat.
Partikel halus PM2.5 menjadi salah satu polutan yang perlu diwaspadai karena ukurannya memungkinkan partikel masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan asap berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu.
Selain itu, asap tebal dapat mengurangi jarak pandang sehingga mengganggu keselamatan transportasi darat, sungai, dan penerbangan. Dampaknya dapat dirasakan pula oleh masyarakat yang tinggal jauh dari titik kebakaran karena asap dapat terbawa angin ke wilayah lain.
Penanganan karhutla karena itu perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan masyarakat, pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko, dan penerapan langkah pencegahan paparan asap.
Pencegahan Kebakaran Berulang Jadi Kunci
Karhutla yang sulit padam menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari hilangnya api di permukaan. Pemeriksaan lapisan gambut, pembasahan menyeluruh, pemantauan titik panas, serta kesiapan menghadapi perubahan cuaca menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.
Upaya pencegahan juga perlu diperkuat melalui patroli, deteksi dini, pengawasan kawasan rawan, dan penegakan aturan terhadap aktivitas yang menyebabkan kebakaran. Koordinasi lintas instansi dibutuhkan agar penanganan dapat dilakukan sejak tanda awal kebakaran muncul.
Dengan demikian, pengendalian karhutla di Kalimantan dan Sumatera Selatan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pemadaman, pemulihan kondisi lahan, hingga perlindungan masyarakat dari dampak asap. Upaya berkelanjutan menjadi penting agar kebakaran tidak terus berulang dan menimbulkan kerusakan lingkungan yang lebih luas.














